Kamis, 16 Oktober 2008 22:42 WIB
Minim Tampil di Media Massa Parpol tidak Dikenal Publik
Penulis : Kennorton Hutasoit
http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=MzcxNDM=

JAKARTA--MI: Hanya parpol yang mampu mengakses media massa secara sistematik 
lebih kompetitif daripada parpol lain. Kredibilitas media massa lebih tinggi 
dibandingkan dengan lembaga politik. Akibatnya parpol yang tidak mampu 
mengakses media massa terutama parpol baru tidak dikenal publik. 

Itu temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang diumumkan di Jakarta, Kamis 
(16/10). LSI melakukan survei nasional terhadap 1.249 responden di 33 provinsi 
yang dilaksanakan 8-20 September 2008. Margin of error survei tersebut sekitar 
3% pada tingkat kepercayaan 95%. 

Apabila pemilu dilaksanakan September 2008, menurut hasil penelitian LSI, PDIP 
tampil sebagai pemenang pemilu dengan perolehan suara  18,6% atau naik 0,1% 
dari Pemilu 2004 (18,5%). Sebaliknya, walaupun Golkar masih di posisi kedua 
setelah PDIP, namun perolehan suaranya anjlok dari 18,5% atau menurun drastis 
3,1% dari hasil Pemilu 2004 (21,6%). 

Partai lama yang signifikan kenaikannya adalah Partai Demokrat diperkirakan 
naik dari 7,4% Pemilu 2004 menjadi 12,1%.  Parpol lama lainnya juga 
diperkirakan mengalami penurunan yakni PKS dari 7,2% menjadi 6,3%, PKB dari 11% 
menjadi 5,7%, PAN dari 6,4% menjadi 2,7%. 

Berdasarkan hasil survei itu Partai Gerindera diperkirakan bisa lolos  
parliamentary threshold (PT) 2,5% pada Pemilu 2009. Gerindra meraih 3,2%.  
"Sedangkan Hanura dan PMB diperkirakan hanya mampu meraih suara masing-masing 
1,2% dan 1%. Sebagai parpol baru itu sudah termasuk baik, tapi belum lolos PT," 
kata peneliti LSI Dodi Ambardi saat mengumumkan hasil survei nasional tersebut 
di Jakarta, Kamis (16/10). 

Hadir dalam acara itu antara lain Pengamat Komunikasi Politik UI Effendi 
Ghazali, Wakil Sekjen Golkar Rully Chairul Azwal, dan Sekretaris Fraksi PDIP 
Ganjar Pranowo. 

Dodi  mengatakan, mereka menemukan kecenderungan parubahan kekuatan parpol 
dalam empat tahun terakhir. Parpol lama cenderung stagnan bahkan menurun secara 
signifikan kecuali Demokrat yang tidak pernah mendapat dukungan di bawah 
perolehan suara Pemilu 2004. 

"PDIP dan Golkar untuk sementara berada di posisi atas tapi tidak mengalami 
kemajuan berarti dibanding dengan hasil Pemilu 2004. PPP, PKB, dan PAN 
cenderung mengalami penurunan. PKS menunjukkan tanda kemajuan. Sementara partai 
gagal menampilkan diri sebagai kekuatan yang kompetitif selain Gerindra," 
katanya. 

Dodi menjelaskan parpol terutama parpol baru tidak mampu memanfaatkan media 
massa untuk menyebarkan informasi. "Berdasarkan survei kami, kredibilitas media 
massa lebih tinggi dibandingkan dengan lembaga politik. Dengan demikian 
infomrasi yang datang dari iklan politik di media bisa dianggap pemilih sebagai 
informasi yang patut dipercaya," katanya. 

Peran media massa dalam politik disebut gejala silent revolution. "Artinya 
media massa terutama televisi menggantikan fungsi organisasi parpol menjangkau 
calon pemilih. Ini terjadi dalam kompetisi antarparpol yang dicerminkan 
munculnya media massa seperti televisi sebagai medium utama penyebaran 
informasi politik dan sebagai medium persuasi paling massif," katanya. 

Survei juga menemukan ada kecenderungan calon dipilih karena alasan yang sangat 
minimal yakni kenal dengan  caleg yang bersangkutan, bukan karena rekam jejak. 
"Suatu eksperimen politisi yang secara kualitatif dinilai jauh lebih 
berpengalaman dan kompeten seperti Ferry Mursidan Baldan tidak akan menang 
kalau harus bertarung bebas dengan calon yang jauh lebih dikenal seperti 
pelawak Eko Patrio," katanya. (KN/OL-03) 



 
Arsip Berita :  :  :   


      

Kirim email ke