http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=23019

02 Januari 2009 03:11:19



Aksi Kelompok Separatis Bersenjata Diwaspadai



Berpontensi di Jayapura, Manokwari, Paniai dan Puncak Jaya 
(Korupsi yang Melibatkan Sejumlah Bupati Tetap Jalan) 


JAYAPURA-Polisi Daerah Papua (Polda Papua) memprediksi di tahun 2009 ini, aksi 
kelompok separatis bersenjata, berpotensi terjadi di sejumlah daerah di Papua. 
Adapun daerah-daerah yang dimaksud seperti Jayapura, Manokwari, Paniai dan 
Puncak Jaya.  Demikian antara lain diungkapkan Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX 
Bagus Ekodanto pada press release akhir tahun di Mapolda Papua, Rabu (31/12). 


Kapolda Papua memprediksikan situasi kamtibmas di tahun 2009, terutama 
menghadapi pemilu 2009 masih akan mungkin terjadi aksi unjuk rasa/demo oleh 
pihak tertentu yang tidak setuju dengan hasil pemilu, sehingga harus diwaspadai 
dan diantisipasi. Selain itu, diprediksi masih akan marak aksi unjuk rasa dan 
tuntutan kelompok tertentu yang merasa tidak puas dengan kebijakan dan kinerja 
aparat pemerintah dan adanya kekecewaan karena tidak tersalurkan aspirasnya dan 
bermuara kepada tindakan anarkis. 


"Ada kecenderuangan meningkatnya aksi kelompok garis keras (separatis 
bersenjata) dengan berbagai kegiatan seperti penyerangan pos-pos TNI/Polri 
serta penyerangan terhadap masyarakat di daerah terpencil," kata Kapolda 
didampingi Wakapolda, Brigjen Achmad Riyadi Koni dan Irwasda, Kombes Pol 
Haryogo dan dihadiri media cetak dan elektronik di Mapolda Papua, Rabu (31/12) 
lalu. 
Kapolda juga menyoroti kurang sadarnya masyarakat tentang bahaya narkoba dan 
HIV/AIDS dan masih maraknya peredaran miras illegal yang menyebabkan banyaknya 
jatuh korban dan terjadi kekacauan kamtibmas. 
Meski demikian, Kapolda mengatakan sudah menyiapkan upaya antisipasi agar 
situasi kamtibmas tetap kondusif di wilayah hukum Polda Papua, dimana di bidang 
kriminal dalam menghadapi pemilu dengan menyiapkan anggota untuk pengamanan dan 
Polda Papua akan bersikap netral dan tidak memihak, melakukan razia di tempat 
penjualan miras, meningkatkan patroli pada tempat rawan dan mendeteksi dini 
gangguan kamtibmas yang terjadi. 
Kapolda berharap kepada masyarakat agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban 
di lingkungan masing-masing, selalu meningkatkan kemitraan dengan Polri melalui 
pemberdayaan forum kemitraan Polri dan masyarakat, tidak mudah terprovokasi 
oleh ajakan atau hasutan dari orang-orang atau kelompok yang tidak 
bertanggungjawab dan hanya ingin memperoleh keuntungan sendiri. "Kami harap 
tetap menjaga kerukunan antar umat beragama yang terjalin baik selama ini agar 
tidak mudah terpecah belah oleh pihak lain yang tidak ingin Papua Damai," 
tandasnya. 

Angka Kriminalitas Meningkat ///
Sementara itu terkait situasi dan kondisi kamtibmas di wilayah Polda Papua dan 
jajarannya selama tahun 2008, secara umum terkendali dengan baik. Meski masih 
terjadi beberapa gangguan kamtibmas yang menonjol, namun sebagian besar dapat 
ditangani dengan baik dan tuntas. 
Kapolda mengatakan, Polda Papua selama bulan Januari-Desember 2008 pada umumnya 
dapat mengantisipasi dan mengatasi situasi perkembangan ancaman/gangguan 
kamtibmas melalui upaya pembinaan dan penegakan hukum dengan mengedepankan 
upaya dialog dan persuasive, namun tetap tegas dalam arti tidak mentolelir 
setiap pelanggaran hukum yang terjadi, sehingga situasi kamtibmas kondusif 
dapat dicapai. 
"Untuk data kasus kriminalitas yang terjadi di wilayah hukum Polda Papua 
Januari-Desember 2008 dibandingkan periode yang sama tahun 2007 terjadi 
peningkatan 488 kasus atau 14,33 % yakni dari 6509 kasus menjadi 6997 kasus, 
sedangkan tingkat penyelesaiannya meningkat 5,96 persen, yakni dari 58,40% 
menjadi 64,36 % atau 702 kasus," ungkap. 


Kapolda juga mengungkapkan untuk kerawanan kriminalitas masih didominasi oleh 
Polresta Jayapura, yakni menduduki rangking I dengan jumlah 2.582 kasus, 
rangking II Polres Mimika dengan jumlah kasus 548 kasus, disusul rangkin III 
Polres Merauke sebanyak 532 kasus. Secara rinci, untuk kejahatan konvensional, 
juga meningkat 296 kejadian atau 21,32% dari 6.015 kasus menjadi 6.311 kasus, 
sedangkan penyelesaian terjadi peningkatan 139 kasus atau 2 % dari 3806 kasus 
menjadi 3945 kasus. 


Untuk kejahatan transnasional seperti penyelundupan manusia, money laundring, 
edar gelap narkoba, perbankan dan HAKI, mengalami peningkatan 1 kasus dari 12 
kasus menjadi 13 kasus. Untuk data kejahatan di perairan yang ditangani Dit 
Polair dan jajaran Polda Papua mengalami peningkatan 7 kasus atau dari 9 kasus 
menjadi 16 kasus.  Sepanjang 2008 ada peningkatan kejahatan yang berimplikasi 
kontijensi seperti separatis atau pemberontakan, perang suku/warga dan unjuk 
rasa anarkis, dari 12 kasus menjadi 14 kasus. 


Kasus kejahatan terhadap kekayaan negara, diakui Kapolda Bagus Ekodanto 
mengalami penurunan 2 kasus, dari 23 kasus menjadi 21 kasus, sedangkan 
penyelesaiannya meningkat dari 10 kasus menjadi 16 kasus. 


Kasus-kasus yang menjadi perhatian (crime index) khusus, lanjut Kapolda, 
mengalami peningkatan 228 kasus atau dari 4.280 kasus menjadi 4.508 kasus, 
begitu juga penyelesaiannya meningkat 159 kasus dari 2.717 kasus menjadi 2.876 
kasus. Sedangkan, kasus pelanggaran narkoba, kata Kapolda, meningkat 12 kasus 
dari 27 kasus menjadi 35 kasus, dengan penyelesaian meningkat 12 kasus dari 25 
kasus menjadi 37 kasus. 


Khusus kecelakaan lalu lintas, ungkap Kapolda, sepanjang tahun 2008 mengalami 
peningkatan sebanyak 144 kasus dari 434 kasus menjadi 578 kasus laka lantas 
yang terjadi. "Untuk pelanggaran terjadi penurunan 6.538 kasus yakni dari 
30.637 kasus menjadi 24.099 kasus. Ini dapat tercapai karena semakin 
intensifnya petugas melakukan patroli dan razia dan semakin meningkatnya 
kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas," ujarnya. 
Pelanggaran orang asing mengalami penurunan 1 kasus yakni dari 13 kasus menjadi 
12 kasus, karena adanya peningkatan pengawasan, penindakan hukum terhadap turis 
dan pelintas batas illegal yang masuk ke Papua. Meski demikian, Kapolda 
memprediksikan pelanggaran orang asing dan pelintas batas ini, diperkirakan 
akan semakin meningkat akibat situasi ekonomi dan politik di Papua serta 
pelayanan di pintu perbatasan dengan PNG.


Kasus unjuk rasa/demo mengalami peningkatan 19 kasus dari tahun sebelumnya, 
yakni 112 kasus menjadi 131 kasus. Kapolda mengungkapkan anggota Polri yang 
melakukan pelanggaran pidana sepanjang 2008 sebanyak 22 orang sama tahun 2007 
lalu. "Oknum polisi yang melakukan pelanggaran kode etik profesi ada penurunan 
dari 6 orang menjadi 3 orang dan oknum polisi yang melakukan pelanggaran 
disiplin cenderung turun dari 335 orang menjadi 255 orang, pelanggaran tata 
tertib meningkat dari 100 orang menjadi 106 orang, pelanggaran lalu lintas 
meningkat dari 78 orang menjadi 99 orang," ujarnya. 


Untuk perkelahian TNI/Polri, menurut Kapolda, ada penurunan dari 6 kasus 
menjadi 5 kasus. Pada umumnya, pelanggaran dan perkelahian oknum anggota Polri 
dengan oknum anggota TNI terjadi penurunan disebabkan karena anggota semakin 
sadar akan tugas dan tanggungjawab masing-masing. 

Kasus yang Libatkan Sejumlah Bupati Tetap Diproses ///
Ditanya soal penanganan kasus korupsi yang melibatkan pejabat di Papua? Kapolda 
mengakui proses hukumnya terus berjalan dan Polda Papua berkomitmen untuk 
menyelesaikannya. Kapolda mencontohkan kasus korupsi yang diduga melibatkan 
Bupati Nabire, Drs AP Youw kini telah P21 atau lengkap. "Kami tinggal 
penyerahan tersangka dan barang bukti ke Jaksa, tapi kejaksaan minta fatwa ke 
Kejaksaan Agung agar tempat sidang bisa pindah ke Jayapura, karena ada 
kekhawatiran. Namun, kami tunggu setelah 9 Januari dimana masa jabatan yang 
bersangkutan telah habis dan ditunjuk karetekernya," ujarnya. 


Begitu juga, untuk kasus dugaan penggelapan barang inventaris rumah negara yang 
melibatkan tersangkanya, YL di Timika, Kapolda mengakui sudah selesai dilakukan 
pemeriksaan. "Hanya saja, karena faktor kesehatan dimana YL setiap hari harus 
disuntik insulin sehingga kami berkoordinasi dengan Kapusdokes Mabes Polri 
untuk bisa melakukan pemeriksaan di RS Kramat Jati Jakarta. Proses hukumnya 
tetap jalan," katanya. 


Kasus korupsi yang diduga melibatkan mantan Ketua DPRD Jayawijaya, Jhon Tabo 
yang kini menjabat Bupati Tolikara, diakui Kapolda masih terus berjalan. Bukan 
itu saja, penanganan kasus korupsi juga dilakukan polres jajaran seperti di 
Kaimana, Biak dan daerah lainnya. 


Soal penanganan kasus deklarasi negara Papua Barat yang belum menyentuh 
aktor-aktornya? Kapolda mengatakan bahwa pihaknya masih terus melakukan 
penyelidikan. "Bukan berarti kasus itu berhenti, tapi polisi ingin mencari 
fakta dan data sehingga dapat menjerat pelakunya. Seperti penangkapan Seby 
Sembum, ini kami lakukan setelah cukup bukti dan penuh kehati-hatian," katanya. 
Bahkan, kasus tersebut, DPRP sempat dengar pendapat dengan Polda Papua, dimana 
saat itu DPRP mendukung penegakan hukum terhadap Buchtar Tabuni dan Seby 
Sembum, namun Kapolda mengaku heran dimana 2 hari setelah dengar pendapat itu, 
muncul surat dari DPRP agar Buchtar dan Seby tidak ditahan, begitu juga surat 
dari DAP.(bat/do

Kirim email ke