http://www.sinarharapan.co.id/berita/0901/03/opi01.html


Program BBN Hangat-hangat Tahi Ayam   
Oleh
Gunawan

Hangat-hangat tahi ayam, itulah kata-kata yang tepat untuk mengomentari sikap 
pemerintah dalam penataan energi nasional, khususnya program Bahan Bakar Nabati 
(BBN). Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) belum lama ini 
mengeluhkan mandeknya desentralisasi biofuel yang sudah dicanangkan pemerintah. 
Program desa mandiri energi misalnya, tidak bisa berjalan seperti yang 
diharapkan. Ada pembiaran dari pemerintah yang mengakibatkan industri biofuel 
berjalan di tempat.

Keluhan Ketua Umum Aprobi itu tak mengada-ada. Pasalnya, dalam kurun 2005-2006 
pemerintah memang terlihat sangat giat mencanangkan program pengembangan 
biofuel. Baik dari kalangan akademi, peneliti, maupun pengusaha akhirnya 
merespons kebijakan pengembangan biofuel tersebut. Beberapa akademisi dan 
peneliti mulai mengembangkan cara-cara memproduksi biofuel.

Pemerintah pun menindaklanjuti dengan membuat prototipe atau proyek percontohan 
pengolahan biofuel di berbagai wilayah di Indonesia. Para pengusaha juga tidak 
ketinggalan. Pada tahun 2007 para pengusaha itu menggabungkan diri ke dalam 
asosiasi yang disebut Aprobi. Investasi pengolahan biofuel pun disiapkan, lima 
dari sebanyak 22 perusahaan yang tercatat sebagai anggota Aprobi menyediakan 
pabrik pengolah dengan kapasitas 1,1 juta ton per tahun. Bahkan, Peraturan 
Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi 
Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar 
Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain diterbitkan. Namun, proyek biofuel di 
negeri ini tampak maju mundur. Meski kita memiliki sumber daya dan potensi yang 
sangat besar untuk mewujudkannya, sesungguhnya perjalanan masih amat panjang 
dan jauh. Karena banyak integrasi dan konsolidasi program, di tingkat 
operasional hal ini masih terkesan latah tanpa analisis kritis yang masuk akal. 
Kita butuh tindak lanjut yang lebih detail, konsisten, dan berkesinambungan.

Belajar dari Brasil
Kita bisa belajar dari kasus ketidakjelasan nasib program konversi minyak tanah 
ke elpiji atau kasus sebelumnya, konversi minyak tanah ke batu bara. Pada saat 
itu, langkah-langkah mencetak ribuan tungku batu bara telah dilakukan. Namun, 
tak jelasnya kebijakan konversi kala itu telah menyisakan kebingungan di 
kalangan perajin tungku. Pasalnya, setelah ribuan tungku mereka produksi, 
terpaksa mereka hentikan karena tak ada kejelasan berlanjut tidaknya kebijakan 
konversi tersebut. Kejadian yang sama menimpa kebijakan konversi minyak tanah 
ke elpiji. 

Menjadi kebiasaan pemerintah untuk mengobral ide-ide juga kebijakan-kebijakan 
baru, namun tidak matang dalam perencanaan. Kebijakan yang telah telanjur 
digulirkan tak jarang kemudian dianulir alias batal. Hal ini mengindikasikan 
bahwa sebelum menggulirkan kebijakan konversi ini, pemerintah sesungguhnya 
belum dengan cermat dan saksama berhitung. Kita perlu belajar dari Brasil yang 
berhasil mengembangkan biofuel karena ada konsistensi. Dimulai 1973, saat 
terjadi krisis bahan bakar, saat 80 persen kebutuhan BBM diimpor, pemerintah 
Brasil menetapkan Program Nasional Alkohol dan memberlakukan pemakaian bahan 
bakar alternatif. Pemerintah memberikan potongan pajak kepada produsen dan 
pengguna mobil etanol.

Khudori (2006) menyebut keberhasilan Brasil dalam mengembangkan energi 
terbarukan setidaknya disebabkan oleh empat hal. Pertama, soal kelembagaan. 
Perumusan kebijakan umum industri berbasis tebu berada di bawah wewenang Badan 
Pengembangan Gula dan Alkohol, sebuah badan di bawah Kementerian Pertanian. 
Badan ini bertugas memformulasi kebijakan sektor gula dan alkohol (dengan 
mengembangkan teknologi sosial dan perdagangan) untuk menciptakan produk yang 
berkualitas dan kompetitif.

Kedua, mengoptimalkan pasar domestik. Tiap tahun dikeluarkan keputusan presiden 
untuk menetapkan range kadar alkohol yang dicampur dalam bensin yang dijual. 
Dengan cara ini, konsumsi alkohol domestik bisa digenjot. Produksi gula versus 
alkohol ini menjadi strategi Brasil untuk keluar dari jerat pasar gula dunia 
yang distortif. Ketiga, dukungan finansial. Pemerintah menyediakan kredit 
berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada 
pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan.

Kelembagaan dan Dukungan Finansial
Keempat, dukungan lembaga riset dan pengembangan. Di bawah Brazilian 
Agriculture Research Corporation, sebuah badan di bawah Departemen Pertanian, 
dilakukan berbagai penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi dengan 
orientasi pada terciptanya proses produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan 
kompetitif.

Dari empat faktor itu, di Indonesia baru ada dua: pasar domestik yang besar dan 
lembaga riset (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan 
Penerapan Teknologi, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, perguruan tinggi, dan 
lain-lain). Sementara itu, terhadap kelembagaan dan dukungan finansial, perlu 
dilakukan rekayasa.

Kedua faktor ini termasuk paling krusial di Indonesia. Bukan rahasia lagi, di 
Indonesia, meski sudah ada otoritas tertinggi, implementasi di lapangan bisa 
mandek. Mindset perbankan selama bertahun-tahun juga mendiskriminasi sektor 
agro dengan cap tidak bankable. Tak ada yang meragukan bahwa Indonesia punya 
potensi energi terbarukan yang luar biasa: panas bumi, energi laut, matahari, 
biomassa, dan lain-lain. Namun, tanpa menyelesaikan dua faktor kritikal di 
atas, mustahil pengembangan energi terbarukan akan berhasil.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Brasil menunjukkan keterlibatan banyak pihak 
dalam menyukseskan biofuel sebagai pengganti BBM. Kemudahan untuk usaha di 
bidang pertanian tebu, subsidi, hingga mesin yang dibuat untuk mengakomodasi 
keunikan bioetanol dibandingkan dengan BBM. Selain faktor yang terkait langsung 
dengan objek teknis, seperti mesin mobil, pertanian tebu, serta industri 
pengolahan te-bu menjadi bioetanol, pemerintah Brasil juga melakukan kampanye 
untuk mengajak masyarakat agar berpartisipasi.

Pengembangan industri biofuel sebenarnya bisa menjadi suatu peluang bagi 
Indonesia untuk memperbaiki kinerja sektor pertanian, termasuk nasib petaninya, 
serta perekonomian Indonesia secara nasional. Dengan catatan perencanaan harus 
disusun dengan sistematis dan komprehensif dengan wawasan jauh ke depan. Jika 
tidak, peluang tersebut dapat berbalik menjadi sumber bencana baru bagi rakyat 
miskin, ketahanan pangan, dan degradasi lingkungan. 

Penulis adalah peneliti di Lembaga Studi HARMONI, Bogor. Alumnus National 
University Filipina.
 

Kirim email ke