http://www.poskota.co.id/redaksi_baca.asp?id=1841&ik=32

Nggak Enak Lapor Polisi 


Sabtu 10 Januari 2009, Jam: 9:38:00 
Kelakuan Syeh Pudji dari Semarang agaknya mengilhami pria-pria cabul lainnya 
mengembangkan nafsunya. Umar, 33, dari Pasuruan Jatim mencoba kawin siri gadis 
di bawah umur. Tapi udara kadung dingin, memaksa dia mencoba "menjajal" 
Ningrum, 16, sebelum waktunya. Lho kok malah sakit. Laporlah si gadis ke 
polisi. 

Ada ungkapan atau pesan khas dari rumah makan padang seantero Indonesia: kalau 
enak beri tahu teman, jika tak enak beri tahu kami! Nah, rupanya Ningrum gadis 
dari Pasuruan (Jatim) ini seumur hidupnya belum pernah masuk rumahmakan Padang. 
Akibatnya dia tak tahu bagaimana sebuah tradisi harus dianut. Padahal kalau 
tahu, sering masuk RM Padang juga membuat hidup menjadi lebih hemat. Bayangkan, 
masuk RM Sari Bundo atau RM Sederhana, asal makan nasi putih dengan kuahnya 
saja pastilah tarifnya takkan lebih dari Rp 5.000,- 

Nona cantik dari Pasuruan ini sejak beberapa bulan lalu telah dikawin siri oleh 
Umar, pria cukup mapan di kampung Ningrum. Karenanya, meski jarak usia demikian 
jauh, orangtua sigadis mengizinkan saja menikahi. Sebab yang penting, beban 
utang orangtua kemudian dinyatakan impas. Apa lagi Umar juga sudah berjanji, 
baru akan menggauli Ningrum istrinya ketika sudah benar-benar dewasa dan telah 
buntel pelok (ada tempurungnya) ibarat sebuah mangga. 

Gadis Ningrum memang kelewat lugu. Dia belum tahu seperti apa hakikat sebuah 
perkawinan. Setahunya, setelah menjadi istri orang dia akan dicukupi segala 
kebutuhannya oleh lelaki yang jadi pendampingnya kini. Ada tambahan pekerjaan, 
paling-paling memasak dan mencuci pakaian suaminya. Ningrum sama sekali tidak 
tahu bahwa ada tugas maha penting yang selalu dituntut oleh setiap lelaki di 
malam perkawinan. Maklum, Ningrum memang gadis rumahan belum kenal internet. 

Enak memang jadi istri Umar. Dia disediakan segela kebutuhannya, termasuk 
ranjang yang bagus. Malam hari suami juga tidak menemani. Bagi Ningrum, ini hal 
biasa yang tidak perlu dipermasalahkan. Karena itulah, setiap Umar memberi 
uang, maunya dia shoping melulu. Dia tak tahu bahwa uang tersebut harus diatur 
sedemikian rupa, untuk hidup hingga sebulan ke depan. Dan ketika sekali waktu 
Ningrum benar-benar membelanjakan uang jatah sebulan, Umar hanya tertawa 
melihat keluguan bini barunya. 

Ningrum beberapa hari lalu diajak jalan-jalan ke daerah wisata Batu, Malang. Di 
sana mereka menginap dalam satu kamar. Semula Umar berjanji akan tetap mematuhi 
konsensus bersama orangtua Ningrum, yakni takkan menyentuh istrinya sebelum 
benar-benar akil baliq dan layak "dibolak-balik" untuk memanjakan nafsunya. 
Tapi ternyata udara di kamar ber AC itu demikian dingin, sehingga untuk mencari 
"obat anget" dia mengajak istrinya berhubungan intim sebagaimana layaknya suami 
istri. "Manuta wae, mengko penak kok (nurut sajalah, enak kok)," kata suami dan 
langsung main serbu. 

Malam itu Ningrum benar-benar tidak tahu bahwa seorang istri harus diperlakukan 
seperti itu. Karenanya begitu ternyata sakit luar biasa, langsung saja dia 
berteriak keras. Penghuni villa pun geger. Merasa tidak enak bukan memberi tahu 
pada pemilik RM Padang, tapi malah lapor polisi pula. Karenanya malam itu juga 
Umar jadi urusan polisi. Lelaki malang itu mencoba menjelaskan bahwa Ningrum 
sebagai istri yang dikawin siri. Di sinilah repotnya, sebab kawin siri tak 
pernah ada bukti tertulisnya. 

Adanya sekedar bukti sudah...ternoda! 

(JP/Gunarso TS) 

Kirim email ke