http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=23411

13 Januari 2009 09:50:02



Komunitas Tionghoa 'Gedung Gajah' Berbenah Menjelang Imlek (1)



Tetap Utuh Meski Dua Kali Diganggu Rusuh Etnis

Perayaan Imlek tinggal dua pekan lagi. Di Solo, Jawa Tengah, Perkumpulan 
Masyarakat Surakarta (PMS), organisasi komunitas Tionghoa tertua yang masih 
eksis di Indonesia, merayakan dengan cara agak berbeda. Apa kunci sukses 
organisasi itu sehingga bisa eksis hingga 77 tahun?

LEO TEJA KUSUMA, Solo
PULUHAN anak berusia belasan tahun memasuki Gedung Gajah yang berlokasi di 
kawasan Jalan Juanda, Solo. Dari pakaiannya, dobok, anak-anak sedang berlatih 
olahraga beladiri taekwondo. Meski gedung legendaris itu markas PMS (d/h Chuan 
Min Kung Hui), kebanyakan di antara mereka berkulit sawo matang. Hanya beberapa 
yang berasal dari etnis Tionghoa. Begitu masuk gedung, anak-anak tersebut 
langsung menuju bagian belakang.


Berbeda dengan Gedung Gajah yang masih mempertahankan arsitektur lama, gedung 
latihan dan kantor utama Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) yang berlantai 
dua itu sudah direnovasi layaknya gedung modern. Ruangannya ber-AC dengan kursi 
nyaman, dilengkapi meeting room berkapasitas 50 orang. Gedung Gajah dan gedung 
baru di belakangnya menempati areal sekitar 3.800 meter persegi yang tanahnya 
berharga Rp 1,4 juta per meter persegi.
Di halaman gedung, sebuah patung gajah berwarna emas berdiri di atas fondasi 
setinggi dua meter. Patung itu berada di sana selama 72 tahun. Yakni, sejak 
dihibahkan seorang penyumbang kepada Chuan Min Kung Hui, nama pertama PMS. Di 
sisi kanan tampak pula sebuah balai pengobatan yang biasa dimanfaatkan jasanya 
oleh warga sekitar. Klinik kesehatan yang kadang-kadang menggratiskan biaya 
kepada warga kurang mampu itu ditandai dengan papan nama sepanjang tiga meter.


Hari itu (3/1) tampak lima orang pria berkutat dengan sebuah banner ucapan 
selamat tahun baru. Spanduk tersebut dibentang di lantai gedung pertemuan 
berkapasitas 600 orang itu. Kelimanya juga karyawan PMS sama dengan anak-anak 
yang berlatih taekwondo itu. Berkulit sawo matang.
Suasana ''pembauran'' etnis seperti itu sudah berlangsung berpuluh tahun. 
Padahal, secara historis, gedung itu adalah markas perkumpulan etnis Tionghoa 
di Solo yang didirikan sejak zaman Belanda. ''Saya sudah bekerja di sini 26 
tahun,'' kata Suhardi, 55, salah seorang staf di PMS.


Suhardi dan 25 orang staf PMS yang bekerja di dua aset milik organisasi PMS, 
yakni Gedung Gajah dan Krematorium Thiong Ting di kawasan Kentingan, Jebres, 
Solo, sama sekali tidak merasa terasing. ''Saya kerja di sini nyaman. Tidak ada 
pembedaan walaupun saya Jawa,'' katanya.
Ujian berat dialami para pengurus, anggota, dan staf karyawan PMS saat meletus 
kerusuhan di Kota Solo pada 14-15 Mei 1998. Saat itu banyak toko milik warga 
Tionghoa, tak terkecuali milik anggota PMS, yang dirusak dan dijarah massa. 
Maklum, 70 persen di antara sekitar 3.000 anggota PMS adalah etnis Tionghoa.


Ironisnya, peristiwa tersebut justru terjadi setelah PMS sebulan sebelumnya 
melakukan aksi peduli sosial. Prihatin dengan warga Solo dan sekitarnya yang 
terimpit beban akibat krisis ekonomi, PMS mengumpulkan dana dari banyak pihak. 
Setiap hari mereka membagi-bagi sembako kepada warga Solo.
Sebagai ''orang Jawa'' di PMS, Suhardi dan satpam Mursidan saat itu mengaku 
tidak enak melihat rumah dan tempat usaha Humas PMS Sumartono Hadinoto dan 
Ketua Bidang Olahraga PMS Ny Willy Santoso ikut dilahap api. Meski demikian, 
setelah kejadian itu, warga internal PMS tetap utuh.
Mereka tidak mau mencederai semangat Tan Gan Swie dkk, pendiri Chuan Min Kung 
Hui, yang saat mendeklarasikan organisasi sosial Tionghoa itu memang tak mau 
eksklusif. Mereka terbuka kepada siapa saja untuk masuk. Tidak memandang etnis 
ketika berkegiatan.
Kendati sejak itu rasa trauma masih melekat di benak warga Tionghoa Solo, PMS 
tetap berkibar. Bahkan, persentase keanggotaan warga pribumi di PMS cenderung 
bertambah. Kegiatan sosial mereka juga menyentuh sasaran lebih luas dan tak 
memandang ras.


Solo memang sudah dua kali diguncang kerusuhan etnis dengan sasaran warga 
Tionghoa. Sebelum kerusuhan terkait tumbangnya Orde Baru pada 1998, medio 1980 
juga timbul kerusuhan serupa. Saat itu dipicu bentrok seorang preman lokal 
dengan seorang warga Tionghoa.
Yang menarik, sejak Chuan Min Kung Hui berganti nama menjadi PMS pada 1959, 
visi organisasi tidak berubah. Kegiatannya makin eksis. Bahkan, Sumartono 
Hadinoto, Humas PMS, mengklaim bahwa PMS adalah satu-satunya organisasi sosial 
yang didirikan etnis Tionghoa yang tetap eksis pada masa Orde Baru.


Menurut dia, di Solo dan kota-kota lain di Indonesia sebenarnya sejak dulu 
banyak organisasi Tionghoa. Misalnya, PMS. Mereka berangkat dari organisasi 
pralenan (kerukunan kematian) yang memang punya akar tradisi kuat di kalangan 
etnis Tionghoa. ''Tapi, kebanyakan organisasi itu tiarap ketika rezim Orde Baru 
berkuasa,'' katanya.


Mereka baru tumbuh lagi, kata Sumartono, saat Orde Reformasi bergulir dan iklim 
perpolitikan lebih kondusif. Misalnya, Fu Jing, organisasi yang beranggota 
orang-orang keturunan Kota Fu Jing, Provinsi Fuzho, Tiongkok, yang baru muncul 
di Solo pasca 1998. Juga Hoo Hap, Perhakas, dan Kung Fu yang rata-rata punya 
misi mengumpulkan orang-orang yang punya kesamaan asal daerah di tanah leluhur.
''PMS eksis karena kami tidak bermain di kancah politik. Sejak awal berdiri, 
bentuk kami adalah perkumpulan etnis Tionghoa Solo untuk kegiatan sosial,'' 
kata Budhi Moeljono, ketua umum PMS.


Budhi mengakui, semasa rezim Orde Baru, organisasi-organisasi Tionghoa digencet 
sedemikian rupa. Akibatnya, mereka tidak berani mengaktualisasikan identitas, 
bahasa, dan budaya mereka kepada publik. ''Tapi, sejak saat itu tidak ada niat 
sama sekali untuk melawan (Orde Baru) lewat PMS,'' kata Budhi yang juga bos 
salah satu pabrik bahan kimia besar di Solo.


Garis di anggaran dasar PMS sejak zaman Chuan Min Kung Hui tidak pernah 
berubah. Larangan pengurus berpolitik dan berkutat di kegiatan sosial adalah 
harga mati. Karena itu, ketika organisasi Tionghoa di kota-kota lain 
berguguran, PMS justru melenggang. Padahal, mereka mendirikan organisasi di 
''tanah sakral'' Solo, tempat Soeharto dan keluarga Cendana memiliki tempat 
tinggal dan banyak aset berharga.
Sejak awal berdiri, para pendiri PMS sadar bahwa mereka disokong banyak pihak 
dan lintas etnis. Gedung Gajah, misalnya, adalah sumbangan dari anggota Chuan 
Min Kung Hui. Bahkan, Thiong Ting, satu-satunya krematorium dengan misi sosial 
di Indonesia, adalah hibah dari Raja Surakarta Pakubuwono VII pada 1856. (el)

Kirim email ke