http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=23455

      14 Januari 2009 10:23:42



      Komunitas Tionghoa "Gedung Gajah" Berbenah Menjelang Imlek (2-Habis)



      Donasi Terbesar dari Kantong Warga Kelas Menengah
      Kerusuhan Mei 1998 menjadi musibah sekaligus berkah bagi warga etnis 
Tionghoa di Solo, termasuk para anggota Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). 
Semangat solidaritas membuat momen itu melahirkan hubungan antaretnis yang 
lebih cair dan memberi harapan.

      LEO TEJA KUSUMA, Solo
      MUSIBAH karena mereka menjadi "sasaran tembak" utama para perusuh waktu 
itu. Berkah karena eksistensi PMS justru semakin "moncer" segera setelah 
kerusuhan terjadi. Banyak yang tak percaya bahwa salah satu kota pusat budaya 
Jawa itu bisa menjadi episentrum peristiwa kekerasan terbesar di luar Jakarta. 
Selama dua hari itu, 14-15 Mei, Kota Solo menjadi lautan api. Pusat 
perbelanjaan Matahari serta kawasan pertokoan di kawasan "pecinan" di Coyudan 
dibakar massa.


      Total 348 bangunan rumah, kantor, hotel, toserba, dan gedung bioskop yang 
rusak. Sekitar 297 mobil dan 570 sepeda motor hangus. Jumlah korban tewas 
mencapai 33 orang, kebanyakan pegawai toko dan penjarah yang terperangkap 
akibat kebakaran. Total kerugian hampir setengah triliun rupiah.


      Beberapa pekan setelah kerusuhan itu, ekonomi Kota Solo belum pulih. 
Banyak warga Tionghoa yang memutuskan mengungsi. Dalam keadaan seperti itu, 
seorang pengusaha asal Semarang, Lie Pek Tho, pada 11 Juni 1998 tergerak untuk 
memberikan bantuan Rp 100 juta lewat PMS. Langkah Lie itu kemudian diikuti para 
pengusaha yang lain.


      Menurut Ketua Umum PMS Budhi Moeljono, PMS berhasil mengumpulkan dana 
tidak sedikit dari orang-orang yang peduli agar Solo bangkit. Bahkan, lebih 
dari Rp 1 miliar, sekitar Rp 270 juta diambil dari kas PMS, kemudian disalurkan 
kepada ratusan kepala keluarga -umumnya warga Tionghoa- korban kerusuhan di 
Solo.
      Sebuah bank juga mempercayakan kepada PMS untuk mengelola dana hibah Rp 
500 juta. Dana itu dipakai untuk membantu para korban kerusuhan, termasuk 
beasiswa bagi anak-anak mereka yang masih sekolah. Sayang, suku bunga yang 
makin tidak menentu membuat PMS tidak bisa mengembangkan jumlah penerima dan 
besarannya.


      Berkat kerja keras itu, hubungan antaretnis di Solo terjalin harmonis 
kembali. Bahkan, banyak warga non-Tionghoa yang menjadi anggota PMS. Dari 
sebuah pralenan (organisasi kerukunan kematian), PMS terus memperluas aset, 
kegiatan, maupun sumbangsih kepada negara dan sesama.
      Sekitar 3.000 anggota PMS membayar iuran Rp 3.000-Rp 5.000 per bulan. 
Dengan iuran itu, mereka bisa mendapatkan diskon 50 persen untuk pemakaian 
fasilitas di PMS. Yakni, pemakaian Thiong Ting dan sarana di Gedung Gajah serta 
kegiatan-kegiatannya. "Tidak ada perbedaan. Keturunan Tionghoa atau bukan 
haknya sama," kata Budhi.


      Budhi mengakui, pemerintahan di bawah Presiden Abdurrahman Wahid memberi 
warna baru bagi komunitas Tionghoa di Indonesia. Mereka boleh menampilkan 
identitas ketionghoaan mereka, sebagai wujud keberagaman Indonesia. Maka, sejak 
itu kegiatan divisi-divisi di PMS pun makin banyak. "Kami ini Tionghoa, tapi 
Tionghoa Indonesia," kata Budhi menirukan jawaban setiap anggota PMS jika 
ditanya siapa sebenarnya mereka di Indonesia.


      Jika di masa Soeharto kegiatan PMS hanya bersentuhan dengan bidang 
olahraga dan seni budaya Jawa, sejak saat itu mereka juga tertarik dengan seni 
dan olahraga asal Tiongkok. Oleh divisi-divisi di kepengurusan PMS, wushu, 
barongsai, yang khim (siter Tiongkok), dikelola berdampingan dengan 
bulutangkis, catur, keroncong, campursari, gamelan, dan wayang orang,


      Kegiatan perayaan tahun baru Imlek yang sebelumnya dilakukan diam-diam 
kini dilakukan terang-terangan dan besar-besaran. Sejak 2000, PMS rajin 
menggelar berbagai acara dengan latar belakang budaya Tionghoa. Misalnya, PMS 
mengundang pentas kesenian dari Provinsi Hunan, Tiongkok (2000), pentas 
barongsai perdana di Hotel Lorin, Karanganyar, Jawa Tengah (saat itu masih 
milik Tommy Soeharto).
      Reputasi PMS juga menarik minat Presiden Abdurrahman Wahid. Saat berulang 
tahun, dia mengundang delegasi kesenian PMS di acara Pentas Wayang Orang 
Pembauran di Jakarta. Seperti sedang mengalami euforia, saat itu PMS rajin 
memanggil artis-artis impor dari Tiongkok. "Kalau ditanya, keinginan terbesar 
kami saat ini adalah nguri-uri (memelihara) budaya leluhur kami. Bukan kami 
ingin eksklusif, tapi kami ingin budaya itu menjadi bagian dari budaya 
Indonesia juga. Kami ingin menjadi Tionghoa Indonesia," kata Budhi.


      Menurut Budhi, uri-uri budaya leluhur itu juga merupakan wujud keinginan 
mereka agar eksistensi Tionghoa Indonesia (bukan keturunan Tionghoa), diakui 
oleh suku bangsa Indonesia yang lain. Sebab, tanpa disuruh, sejak sebelum 
reformasi PMS juga sudah membaur dan punya kepedulian sosial.
      Budhi mengakui, setiap merayakan Imlek, PMS selalu menyesuaikan dengan 
tema dan kondisi aktual di masyarakat. Perayaan Imlek 2559 tahun lalu, 
misalnya. Suasana Kota Solo dan sekitarnya masih memprihatinkan akibat banjir. 
"Saat itu kami menggelar aktivitas bakti sosial dengan membantu sekolah-sekolah 
di Solo yang kebanjiran," katanya.


      Selain itu, pada Imlek tahun lalu PMS ikut memperjuangkan agar tokoh 
pejuang kemerdekaan nasional asal Solo, Yap Tjwan Bing, dijadikan nama jalan, 
menggantikan nama Jalan Jagalan, Solo. Berkat kerja sama dan dukungan semua 
pihak, termasuk organisasi Tionghoa lain di Solo, seperti Hoo Hap, Fu Jing, dan 
Perhakas, jalan sepanjang 300 meter itu akhirnya diberi nama Yap Tjwan Bing.


      Dengan diresmikannya nama Jalan Yap Tjwan Bing yang merupakan anggota 
PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), kini sudah ada dua nama 
Tionghoa yang diabadikan di Kota Solo. Nama pertama adalah dr Oen Bing Ing, 
pengurus PMS yang meninggal pada 1982. Dokter Oen kini menjadi nama salah satu 
rumah sakit swasta di Solo dan Sukoharjo yang memiliki reputasi pelayanan 
terbaik.


      Khusus untuk Imlek 2560 yang jatuh pada 26 Januari mendatang, PMS 
merencanakan pelatihan life skill menghadapi krisis moneter. Ini sebagai bentuk 
keprihatinan kepada bangsa yang ikut terkena dampak krisis global. Isi kegiatan 
ini, antara lain, pelatihan pembuatan bioetanol yang mendapat subsidi penuh 
PMS. "Kami selalu memilih acara yang berbeda. Tergantung apa yang menurut kami 
perlu dipedulikan tahun itu," kata Sumartono Hadinoto, humas PMS.


      Sumartono menambahkan, dalam setiap kegiatan sosial PMS, sekitar 70 
persen dananya biasa didapat dari donasi. Bukan iuran anggota atau dari 
aset-aset organisasi. Yang membanggakan, mereka yang memberikan donasi 
mayoritas bukan pengusaha kelas atas. Tapi, para warga Tionghoa yang kemampuan 
finansialnya menengah. Mereka tidak terlalu kaya dan tidak miskin. "Ini contoh 
kalau kepedulian sosial tidak perlu digembar-gemborkan. Tanpa punya pmarih 
apa-apa, mereka ikut peduli," kata Sumartono. (el)
       
        
     

Kirim email ke