http://www.pos-kupang.com/index.php?speak=i&content=file_detail&jenis=14&idnya=18155&detailnya=1


Ketika Gaza Berdarah, Jangan Lacuri Ibu Pertiwi 

Oleh JB Kleden

PNS pada Kanwil Departemen Agama NTT

KETIKA memberikan kuliah fenomenologi agama pada sebuah perguruan tinggi di 
Kupang, seorang mahasiswa mengajukan sebuah pernyataan keprihatinannya mengenai 
agresi militer Israel di Jalur Gaza. Tapi menurut saya pernyataan itu cukup 
tragis, juga ironis. Tragis karena yang dicemaskan mahasiswa tersebut bukan 
darah yang meleleh dan nyawa yang meregang di Jalur Gaza, melainkan reaksi 
protes di tanah air kita yang menurutnya - diakui atau tidak - telah membelah 
bangsa ini dalam sikap ambivalensi akibat sentimen keagamaan. 

Ironis karena sebagai mahasiswa ia mestinya berpikiran jernih dan tidak 
membiarkan dirinya jatuh dalam prasangka sepihak yang ia pelihara dalam 
jiwanya, kendati kesimpulan itu ia tarik dari tontonan  kasad matanya atas 
reportase wartawan di layar tv. 

Saya tahu hal semacam itu tidak bisa dijelaskan secara subtle dalam sebuah jam 
kuliah yang relatif singkat. Maka waktu itu kepadanya secara amat ringkas saya 
mengatakan bahwa reaksi protes  sebagai aksi solidaritas terhadap penderitaan 
rakyat Palestina adalah satu hal yang terpuji. Jangan terlalu dini membuat 
judment atas niat baik orang lain, meski kita tidak setuju dengan aksi semacam 
itu. Kita mesti netral. Mengutuk Israel dan menafikan Hamaz atau pun sebaliknya 
mendukung Israel dengan memaki Hamaz tetap bukanlah tindakan yang terpuji. 

Kendati demikian saya bisa memahami kecemasan mahasiswa mengenai munculnya 
sentimen keagaman dalam pawai menentang agresi militer Israel di Gaza. Maka 
dengan nada guyon saya katakan kepadanya, "Jangan kau cemas Iting. Jika 
kesimpulanmu itu benar, itulah yang kita sebut sebagai 'novo-devide et impera', 
sebuah cara baru memecah belah bangsa dengan mengadu domba rakyat pencinta 
damai anti perang melalui sentimen keagamaan. Hal semacam itu sudah lumrah di 
tanah air kita. Karena itu sekali lagi jangan kau gusar Iting, keep calm and 
have a pleasant day at your mind!" Artikel ini ditulis sebagai catatan yang 
tersisah kepada sang mahasiswi yang sumrawih tersebut, yang biasa dipanggil 
Iting oleh teman-temannya, karena rambutnya sekalipun diionisasi tetap saja 
tidak mengubah struktur aslinya, Kriting.
                                               ***
27 DESEMBER 2008. Gaza kembali berdarah. Kita semua terhenyak. Prihatin. Tetapi 
lebih dari itu, hati kita miris, juga sedih, bahkan terluka dengan sikap nekad 
Israel yang menggasak Gaza ke titik nadir dengan alasan mencari pejuang militan 
Hamaz yang bersembunyi di wilayah itu. Tapi itu fakta. Nyata. Agresi itu sudah 
berjalan lebih dari 20 hari. Secara politik Israel telah menyatakan siap 
menerima gencatan senjata, namun jalan ke arah itu belum juga menunjukkan titik 
terang. Entah sampai kapan. Yang jelas korban terus berjatuhan tiap hari. Darah 
semakin menggenang dan nyawa-nyawa terus melesat. Hati kita pias melihat wajah 
perempuan dan anak-anak Palestina yang menatap sia-sia ke puing-puing kota yang 
sepih. Di wajah mereka kita saksikan guratan korban psikologis. Guratan yang 
sama juga terbaca pada wajah warga sipil di Israel Utara yang setiap saat 
terancam hidupnya oleh roket-roket Hamaz yang terus ditembakkan ke wilayah 
Israel itu secara simultan. 

Gaza kembali berdarah dan dunia pun berduka. Karena penderitan itu dialami juga 
jutaan anak manusia di dunia. Jangan jauh-jauh, lihatlah di depan layar tv, 
anak-anak kita seperti terperangah, terguncang batin nuraninya, setengah tak 
percaya bahwa dalam suasana Damai Natal, justeru di wilayah yang dua ribu tahun 
lalu Malaikat Allah mewartakan "Gloria in ex-celsis Deo, et in terra pax 
hominibus bonae voluntatis, masih ada kekejaman macam itu. Kita seakan tak 
percaya bahwa di wilayah bersejarah-agama milik Yahudi, Kristen dan Islam itu,  
Israel dan Palestina, saling memandang sebelah mata dengan penuh kebencian. 
Hamaz dan Israel dengan wajah yang dingin dan beku menafikan protes seluruh 
dunia dan segala daya untuk mencegah perang di antara saudara seayah itu. Para 
pemimpin negara mulai dari Timur Tengah hingga ke pedalaman Timor Tengah, 
bahkan di negara-negara yang menjadi sekutu dekat Israel dan Palestina, yang 
selama ini berjuang mencegah perang di Tepi Barat dan Jalur Gaza, terhenyak 
dalam kepedihan yang mendalam menyaksikan Israel menggazak Jalur Gaza dan Hamas 
menghujani Israel dengan misil-misilnya tanpa henti.

                                                  ***
BAHWA gelombang aksi menentang agresi militer Israel merebak di seluruh dunia 
itu niscaya. Betapa tidak. Siapakah yang tidak tergerak hatinya menyaksikan 
mesin-mesin penghancur milik Israel meringsek masuk ke wilayah Gaza? 

Bukankah agresi atas nama mencari pejuang militan Hamaz yang meluluhlantakkan 
pemukiman dan menelan warga-warga sipil itu telah melahirkan kenyataan buruk: 
penderitaan yang menjalar ke suluruh dunia, bahkan di sudut-sudut Pasar Oeba 
yang terbakar,  orang Rote dan orang Sabu bisa ba omong tentang anak-anak 
Palestina yang darahnya muncrat di siang bolong diberondong peluru Israel? Kita 
merasakan, meskipun tidak terlibat, kengerian luar biasa yang menyelimuti warga 
di sepanjang Jalur Gaza dan perbatasan Israel. Orang bertanya-tanya 
jangan-jangan ini awal dari perang dunia baru lagi. 

Bagi mereka yang cinta damai, perang tidak akan menyelesaikan masalah 
Hamas-Isrel, tetapi justeru akan menimbulkan tragedi kemanusiaan yang lebih 
parah, tidak hanya Israel-Palestina, tetapi juga dunia. Maka kalau di mana-mana 
muncul gelombang aksi protes itu sangat wajar. Bahkan atas aksi kebrutalan di 
Jalur Gaza itu tidak ada jalan lain bagi warga dunia yang masih bernurani 
bersih memperjuangkan anti perang, untuk terus meneriakkan perdamaian. Harus 
ada perdamaian demi menghormati kehidupan kemanusiaan di atas bumi ini. Karena 
itu kita mendukung semua aksi damai anti agresi militer Israel yang di gelar di 
seluruh dunia, juga di Indonesia.

Namun bahaya kemudian selalu muncul adalah mereka yang suka mempolitisasi 
keadaan untuk memenangkan kepentingan politik jangka pendek dengan berbagai 
cara antara lain dengan menyeret sentimen keagamaan, seperti yang dikatakan si 
Kriting tadi. Terlepas dari benar tidaknya kesimpulan yang ditarik sang 
mahasiswi tadi, orang-orang yang suka menyeret sentimen keagamaan dalam 
memperjuangkan kepentingan politik jangka pendek, termasuk dalam mempolitisasi 
aksi menentang agresi militer di tanah air, sebenarnya tengah melacuri Ibu 
Pertiwi yang selalu dipuja-puja hingga akhir hayat ini dengan racun yang pelan 
tapi mematikan: Novo-devide et impera. Sebuah cara baru memecah belah bangsa 
dengan mengadu domba umat beragama pencinta damai. Tidak cuma itu novo-devide 
et impera, ini pada saat yang bersamaan juga mengadu domba para pencinta damai 
yang menyuarakan perdamaian Palestina dengan aparat keamanan, polisi dan 
tentara  dan pemerintah, yang mestinya melindungi dan menjamin keamanan para 
demonstran pencinta damai itu sendiri. Lihatlah kepiwaian para petualang 
kepentingan politik jangka pendek ini membangkitkan naluri purba keagaman dalam 
diri para demonstran untuk melakukan tindak kekerasan yang kemudian 
berbentrokan dengan tindakan represif aparat keamanan. Menyedihkan memang. Gaza 
berdarah, Ibu Pertiwi yang dilacuri, anak-anak bangsa terbelah dalam sentimen 
agama terhadap Isreal dan Palestina. 
                                             ***
KITA musti menyadari bahwa babak baru yang penting agar Israel menghentikan 
agresi dan menarik diri dari Gaza, hanya akan dicapai melalui apa yang kita 
sebut step by step diplomacy yang sekarang diprakarsai Mesir dan Perancis. Tapi 
jaminan yang terbesar adalah bahwa Israel harus (!) sekali lagi harus (!) 
mendapat jaminan dan garansi keamanan dari Palestina, bahwa para pejuang 
militan Hamaz tidak lagi menembak misil-misil mereka ke wilayah Israel. Ini 
bukan soal membela Israel. Tetapi hanya dengan garansi itulah Israel dapat 
menghentikan serangannya ke Gaza. Artinya keamanan dan penyerahan Gaza kembali 
ke wilayah Palestina (territory) hanya dapat ditukar dengan rasa aman 
(security) di pihak Israel yang diperolehnya dari Palestina  terutama dari 
Hamaz. Ini tidak mudah kawan, tapi itulah barangkali merupakan kenyataan yang 
lebih realistis. Ini tidak mudah karena memerlukan jiwa besar dan semangat 
hidup secara damai. 

Bagaimana akhir dari semua ini, kita belum tahu. Yang jelas barangkali masih 
diperlukan sifat sabar, sikap saling memahami dan realisitis dan jauh dari 
sikap emosi yang sempit dari semua dalam menanggapi konflik Israel-Palestina. 
Karena gangguan terhadap proses perdamaian di Palestina, seperti kita saksikan, 
justeru datang dari kelompok-kelompok yang secara emosional tidak dapat melihat 
realita semacam itu, baik dari kelompok dunia Arab maupun Israel. Kelompok 
'garis keras' dari kedua belah pihak, telah banyak mempersulit jalannya 
perdamaian, oleh karena kelompok garis keras ini hanya tahu tentang hal-hal 
yang mutlak, menang atau kalah, hitam atau putih. Insiden-insiden yang mereka 
tampilkan, sedikit banyak telah memperlambat proses perdamaian, sebagaimana 
kita saksikan sekarang ini. 
                                     ***
DAMAI di bumi bagi orang yang berkehendak baik. "Et in terra pax hominibus 
bonae voluntatis."  Nyanyian malaekat yang mengumandangkan di langit-langit 
Palestina pada malam Natal 2000 tahun silam, bukan sesuatu yang utopia. John M 
Prior SVD, pernah mengisahkan kepada kami dalam kuliahnya di STFK Ledalero 
bahwa  pada saat terjadi perang antara AS dan Korea Utara di tahun 1950-an, 
Presiden AS, Eissenhower ingin menjatuhkan sebuah bom atom ke Cina Selatan, 
karena Cina membantu Korea dalam perang itu. Namun seluruh warga AS yang 
menentang perang itu mengirimkan sebutir beras dalam amplop ke Gedung Putih 
bertuliskan ayat Kitab Suci, "Jika musuhmu lapar, berikan dia makan" (Amsal, 
25:21). Waktu itu Cina Selatan sedang dilanda kelaparan. Dan keajaiban pun 
datang. Presiden Einsenhower kemudian menatap para jenderal-militernya dan 
mengumumkan perdamaian: "Selama masih begitu banyak rakyat Amerika yang 
berkehendak baik memberi makan rakyat China yang lapar, saya tidak akan 
menjatuhkan bom atas mereka."
                             ***
DAMAI di bumi bagi orang yang berkehendak baik itu mungkin. Bukan utopia. Maka 
kepada si Kriting di Kupang yang begitu cemas akan aksi solidaritas terhadap 
Palestina yang merebak di Indonesia, saya hanya mau katakan, "Iting, keep calm 
and have a pleasant day at your mind! Jangan lumuri dirimu dengan racun 
novo-devide et impera. Sebab dengan kecemasan itu, engkau sebenarnya telah 
membiarkan dirimu dipengaruhi oleh sentimen keagamaan-mu sendiri. Dan kepada 
setiap pemimpin aksi solidaritas atas Palestina, mari kawan, kasih tangan, kita 
bikin janji. Jangan lacuri ibu pertiwi dan jangan racuni jiwa anak-anak bangsa 
dengan kebencian terhadap Israel. Juga jangan mengajari mereka bahwa Hamaz yang 
menembakkan roket-roket ke wilayah Israel adalah pahlawan HAM, pembela 
keadilan. Keduanya, tentara Israel dan Hamaz, adalah sama-sama agresor 
kebringasan yang mesti kita selamatkan. 

Sejarah menunjukkan bahwa damai tidak mustahil terwujud bagi setiap orang yang 
berkehendak baik. Maka, marilah bergandengan tangan kita mendoakan Israel dan 
Palestina, dengan penuh kasih, agar kedua saudara seayah itu sesegera mungkin 
menghentikan perang dan berangkulan dalam kasih dan pengampunan, di mana Israel 
dan Palestina bukan lagi musuh satu bagi yang lain, tapi satu kebersaman dalam 
otonomi masing-masing. Ut omnes unum sint.  Semoga mereka bersatu hati 
bergandengan tangan membangun perdamaian abadi di Palestina sehingga wilayah 
yang selama ini bergolak itu bisa berubah menjadi tempat yang aman dan nyaman 
di mana anak-anak  Israel dan Palestina bisa merasakan indahnya persahabatan, 
bisa menikmati madunya tanah terjanji yang dilukiskan dalam Kitab Perjanjian 
Lama begitu bersahaja, karena di tempat itu, anak-anak manusia bisa bermain 
dengan anak-anak singa di sarang ular berbisa tanpa rasa takut sedikitpun. 

Mari Kriting, kasih tangan, kita bikin janji, ketika Gaza berdarah, jangan 
lacuri ibu Pertiwi dan anak-anaknya dengan kebencian baik kepada Israel maupun 
kepada Palestina,  atas nama apa pun, apalagi atas nama Tuhan

Kirim email ke