http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009030606041616
Jum'at, 6 Maret 2009
Tiada Lagi Alasan untuk Optimis!
H. Bambang EKa Wijaya
"WAJAHMU seketika redup seperti lentera habis minyak! Kenapa?" tukas
Umar. "Apa tak ada lagi alasan untuk optimis?"
"Persis! Sergapan situasi seperti dapat hukuman tendangan penalti itulah
yang membuatku terkesiap oleh isi koran yang kubaca!" jawab Amir. "Dengarkan,
kubaca apa adanya--Data perekonomian terkini menunjukkan tidak ada satu
indikator fundamental perekonomian pun yang bisa menerbitkan optimisme!"
(Kompas, 5-3)
"Stop bacanya!" sela Umar. "Aku jantungan, bisa shock di tempat! Betapa
tidak shock, perasaanku belakangan ini berbunga-bunga dibuat iklan-iklan
kampanye partai politik yang berebut saling mengklaim sukses tokoh maupun
kadernya! Di tengah kondisi begitu tiba-tiba kau sodorkan masalah yang membuat
orang jadi miris!"
"Itu justru simpul bahasan dua ujung tombak pengelola ekonomi negara,
Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) selaku pengelola moneter, dan Menteri
Keuangan selaku pengelola fiskal!" tegas Amir. "Menyikapi data mutakhir, BI
menurunkan lagi tingkat pertumbuhan, yang sebelumnya dari 6 persen diturunkan
jadi 4,5 persen, terakhir jadi tinggal 4 persen! Angka 4 persen itu pun
bersifat pesimistis, karena berpotensi besar turun lagi! Sedang Menteri
Keuangan melihatnya dari ekspor dan Neraca Pembayaran yang serbanegatif! Angka
ekspor Januari 2009 anjlok 17,7 persen dari ekspor Desember 2008! Neraca
pembayaran malah kena defisit ganda, yakni dalam transaksi perdagangan serta
transaksi modal dan keuangan!"
"Ternyata dampak krisis keuangan global lebih cepat imbasnya dari
perkiraan sebelumnya--triwulan kedua 2009! Gejalanya justru keburu nongol
triwulan pertama!" tukas Umar. "Anehnya, fakta itu justru memberiku perspektif
baru!"
"Jangan sok jenius, melihat peluang di balik tsunami ekonomi dunia!"
entak Amir.
"Aku tak mengatakan peluang, tapi perspektif!" tegas Umar. "Dalam
perkiraan kalangan ekonom terkemuka dunia, pada triwulan pertama 2009 pukulan
dampak krisis keuangan global akan terlihat di emerging country seperti BRICK
--Brasil, Rusia, India, China, dan Korea! Baru pada triwulan kedua, imbas
krisis dari emerging country, memukul negara-negara berkembang!"
"Maksudmu pasti, dengan dampak tersebut telah memukul negeri kita di
triwulan pertama, berarti negeri kita sudah tergolong emerging country sekelas
BRICK!" potong Amir. "Itu das sollen, yang seharusnya, atau sepatutnya negeri
kita yang kaya sumber daya alam dan berpenduduk banyak bisa mencapai posisi
sekelas India dan China! Tapi de facto, kenyataannya, kita masih tertinggal
jauh dari kemajuan India dan China yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di
atas 10 persen berturut-turut sepanjang satu dekade!"
"Lalu, bagaimana bisa masih di awal triwulan pertama negeri kita sudah
rontok oleh terpaan dampak krisis global?" kejar Umar.
"Kayaknya itu terjadi karena bangunan ekonomi negeri kita secara nyata
seperti gubuk reyot!" jawab Amir. "Sehingga, diterpa angin seriwing-seriwing
saja rontok! Entah bagaimana jadinya kalau diterjang badai yang lebih dahsyat!"
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
