Refleksi : Kalau di Skandinavia teristimewa di Swedia, tidak disebut jalan ketiga, tetapi lebih dikenal dengan istilah "Kapitalisme dijinakan", jadi nuansnya agak lain dan pemahaman pun pun berbeda. Kapitalisme didinjinakan dan dibangun "welfare state", berazaskan prinsip-prinsip sosialsime. Hal ini bisa mereka lakukan karena gerakan kelas buruh mempunyai faktor dominas dalam urusan negara. Jadi harus ada motornya. Apa motor sosialisme di Indonesia sekarang ini? Bisakah sosilisme diciptkan di Indonesia dengan ditindasnya gerakan buruh oleh negara bersama kaum agamais?
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0903/24/pol03.html Menimbang Sosialisme China Oleh Fransisca Ria Susanti RABU (18/3) lalu, harian Kompas menurunkan opini "Menimbang Ulang Kapitalisme". Opini yang ditulis B Herry Priyono ini bicara tentang "jalan tengah", sebuah tata ekonomi, yang dalam istilahnya, menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas. Menurutnya, sistem ekonomi yang hanya memuja individualitas dengan mengabaikan daya sosialitas niscaya akan membawa malapetaka. Sementara tata ekonomi yang hanya merayakan kolektivitas dengan menyingkirkan daya spontanitas individual bukanlah sistem ekonomi yang sehat. Ia mengkritik kapitalisme, tapi juga tak setuju dengan sosialisme. Menurutnya, tatanan ekonomi yang matang dan tidak kekanak-kanakan pada akhirnya bukan penyembah kapitalisme ataupun sosialisme, melainkan tata ekonomi yang menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas. Priyono tak sendirian. Suara yang keras mengecam sisi rakus kapitalisme, tapi sekaligus menaruh kekhawatiran pada watak otoritarian sosialisme diucapkan sejumlah kalangan. Sebelas tahun lalu, sosiolog Inggris Anthony Giddens mengusung ide "jalan ketiga", setelah menyimpulkan bahwa "kiri" dan "kanan" telah bangkrut. Menurutnya, tujuan dari politik jalan ketiga adalah memberikan arah bagi warga negara untuk melalui revolusi besar yang terjadi saat ini, yakni globalisasi, transformasi personal, dan hubungan manusia dengan alam. Sebuah pendekatan kompromis di antara kapitalisme dan sosialisme, antara liberalisme pasar dan sosialisme demokratik. Di tingkatan praktik, konsep "jalan ketiga" ini menjadi kebijakan yang diambil pemerintah Amerika Serikat (di bawah Bill Clinton dan Obama saat ini), Australia, Inggris, Prancis, Jerman, dan sejumlah negara Eropa lainnya. Namun, kita kemudian tahu, misi penyelamatan "jalan ketiga" ini juga tak menunjukkan hasil gemilang ketika krisis kapitalisme menghantam. Para penganut "jalan ketiga" tersebut kini justru "merapat" ke China, negara di kawasan Asia yang pernah membuat mereka alergi. Padahal China jelas bukan contoh "third way" seperti yang dibayangkan Giddens. Juga bukan pelaku "jalan tengah" seperti yang dikonsepkan Priyono. Meskipun sebagian besar kelompok kiri, terutama di Amerika Latin, melihat China terlalu jauh bergeser ke tengah, ada karakter khas yang melekat di China. Percaya Diri Karakter ini bisa kita telusuri sejak fondasi sosialisme diletakkan di negara tersebut oleh duo Mao Tse Tung dan Zhou Enlai. Sejak itu, sebenarnya, tak ada yang sungguh berubah di China. Pernyataan Perdana Menteri China Wen Jibao dalam konferensi pers yang jarang, Jumat (13/3) lalu, tentang confidence atau kepercayaan diri, sebenarnya "kunci" yang dimiliki China untuk bisa seperti sekarang. Kepercayaan diri, kata Wen, jauh lebih penting daripada emas dan uang. Hanya dengan kepercayaan diri yang kuat, kata Wen, China akan memiliki keberanian dan kekuatan lebih besar. Dan hanya dengan keberanian dan kekuatan lebih besar, China bisa mengatasi kesulitan. Wartawan AP mencatat, hanya dalam beberapa menit di awal pidatonya, Wen telah mengucapkan kata "confidence" sebanyak lima kali. Kata ini memang punya makna penting bagi China. Di akhir tahun 1920-an, kepercayaan diri jugalah yang membuat China-Partai Komunis China lebih tepatnya-menolak tunduk pada "dikte" Uni Soviet dan Komintern dalam strategi dan taktik mengusir Jepang dari tanah China. Pertempuran di perkotaan dan hanya mengandalkan kaum buruh untuk memimpin massa, dinilai Mao, merupakan "kesalahan" dalam melihat kekuatan yang dimiliki China. Taktik gerilya, melancarkan serangan dari pedesaan, dan mengandalkan kaum tani, menjadi pilihan yang lebih tepat untuk membebaskan China dari Jepang. Kepercayaan diri yang muncul dari pembacaan yang tepat terhadap kondisi objektif masyarakat inilah yang membuat China berani menolak dikte Uni Soviet dan Komintern. Di akhir 1970-an, saat Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan China, setelah kematian Mao dan Zhou, kepercayaan diri pula yang membuat China berani membuka pintu bagi investasi asing. Tindakan ini, menurut Deng, sama sekali tak "mengkhianati" cita-cita sosialisme yang diproklamirkan di gerbang Tiananmen pada 1 Oktober 1949. Karena di bawah Mao dan Zhou, China juga menempuh semua jalan untuk bisa memberi makan ratusan juta warganya. Ini yang membuat China, di masa Mao bisa berkompromi dengan Uni Soviet dan kemudian berbalik menjalin koneksi dengan Amerika Serikat. Daulat China akan melakukan apa pun untuk membuat rakyat punya daulat atas negerinya. Namun, kedaulatan ini terancam sehingga tak ada kompromi lagi. Ini mungkin bisa membantu kita memahami bagaimana China tak segan minta maaf soal kasus melamin yang terjadi beberapa waktu lalu, tapi bergeming terhadap isu Tibet, Taiwan, dan Tragedi Tiananmen 1989. Juga menolak minta maaf soal insiden dengan kapal AS di perairan China Selatan baru-baru ini serta tegas menolak proposal Coca-Cola untuk mengambil alih Huiyan Juice Group. Dalam wawancara dengan jurnalis Italia Oriana Fallaci di bulan Agustus 1980, Deng Xiaoping menyebut, prinsip pembangunan ekonomi China tetap akan bersandar pada formulasi yang ditetapkan Mao, yakni bersandar pada upaya sendiri dengan bantuan dari luar. Menurut Deng, tak peduli seberapa besar China membuka diri terhadap dunia luar dan menerima modal asing, pengaruhnya akan relatif kecil dan tidak dapat memengaruhi sistem sosialis mereka. "Penyerapan modal asing dan teknologi-bahkan mengizinkan orang asing membangun pabrik di China-hanyalah pelengkap bagi upaya kami membangun kekuatan produksi dalam masyarakat sosialis," ungkap Deng saat itu. Barangkali, ini pula yang membuat sosialisme China tetap bertahan, saat Soviet ambruk dan tembok Berlin runtuh. Pun saat krisis kapitalisme berkali-kali menghantam dunia. Mereka punya sesuatu yang, menurut Wen, jauh lebih berharga dari emas dan uang
