Refleksi: Namanya Bukit Soeharto jadi  tentu  harus disesuaikan dengan kepala 
Pak Harto.  

Jawa Pos
[ Sabtu, 16 Mei 2009 ] 


Hutan Bukit Soeharto Kaltim Gundul di Tengah 
Menjadi Ajang Penambangan Liar Batu Bara 


SAMARINDA - Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) di Bukit Soeharto, Kalimantan 
Timur, yang tampaknya masih utuh ternyata keropos di bagian dalam. Hal itu 
diketahui setelah terbongkarnya penambangan ilegal batu bara yang dilakukan PT 
Inti Coal Power (ICP) dan CV Pelangi Borneo Kamis (14/5).

Jika dilihat dari luar, Tahura Bukit Soeharto tampak biasa dan seolah kawasan 
itu belum terjamah. Namun, sekitar 30-40 kilometer lebih ke dalam, terdapat 
puluhan aktivitas penambangan yang seluruhnya liar. 

Aktivitas penambangan tersebut terlihat dengan adanya danau-danau kecil yang 
terbentuk dari bekas galian. Sulit ditemukan pohon-pohon besar di kawasan 
tersebut.

Dalam aksinya, para penambang liar itu kucing-kucingan dengan petugas. Ketika 
Polhut Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltim bersama Satuan Polhut Reaksi Cepat 
(Sporc) berpatroli, mereka mencoba mengelabui petugas. 

Mereka menutup akses jalan menuju lokasi penambangan dengan portal. Ketua tim 
patroli, yang dipimpin Suhartono, tidak percaya begitu saja. ''Kami terus masuk 
menerobos portal tersebut,'' katanya.

Wartawan Kaltim Post (Jawa Pos Group) yang ikut dalam patroli itu melihat 
puluhan dump truck membawa batu bara atau lebih dikenal ''emas hitam" itu. 
Juga, terlihat ekskavator dan buldoser yang masih beroperasi. 

Warga di sekitar Bukit Soeharto, khususnya di Kecamatan Samboja dan Loa Janan 
Ulu, Samarinda, kini hanya bisa menyesali keputusan mereka menjual lahan kepada 
pengusaha batu bara itu. Dulu kawasan tersebut adalah lahan pertanian dan 
perkebunan yang menjadi sumber nafkah mereka. ''Uang ganti rugi lahan mulai 
habis. Sekarang tanahnya sudah tidak mungkin digunakan untuk bertani," ungkap 
Rusli, warga Loa Janan Ulu. (art/jpnn/ruk)

Kirim email ke