From: Rusdi Mathari <[email protected]>
Subject: [jurnalisme] Pak Boed yang Tidak Saya Kenal (3)
To: [email protected]
Date: Sunday, May 24, 2009, 9:10 PM
 
Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No.111 
/2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada 
bisnistelekomunikasi jaringan tetap (fixline) ditetapkan maksimal sebesar 45 
persen. Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat 
dijual kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat 
oleh Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi 
Pembaruan, pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono 
sebagai menteri keuangan. oleh Rusdi Mathari

Sebelum reformasi, tak ada yang memerhatikan nama Boediono, kecuali
majalah Ummat yang menjelang runtuhnya kekuasaan Soeharto di tahun 1998, pernah 
menempatkannya sebagai orang yang pantas menjadi Gubernur Bank Indonesia. Saat 
itu Boediono adalah Direktur II (Bidang Akuntasi) BI. Dia kemudian mulai 
menarik perhatian ketika Presiden B. J. Habibie melantiknya sebagai Kepala 
Bappenas.

Nama Boediono semakin menjadi perhatian, saat dia lantik Presiden
Megawati sebagai menteri keuangan, Jumat 10 Agustus 2001. Habis masa jabatan 
Megawati, Boediono dipercaya menjadi Menko Perekonomian oleh Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono. Lalu tahun silam, setelah dua calon Yudhoyono masing-masing 
Dirut Bank Mandiri Agus DW Martowardojo dan Wakil Dirut Perusahaan Pengelola 
Aset (metamorfosis BPPN) Raden Pardede— yang diajukan untuk menggantikan 
Burhanudin Abdullah sebagai Gubernur BI ditolak oleh anggota parlemen, Boediono 
dipilih oleh Yudhoyono untuk maju sebagai kandidat.

Hasilnya dalam uji kepatutan dan kelayakan di DPR, Senin 7 April 2008,
Boediono mengantongi 45 suara dari 46 suara sah. Satu-satunya suara yang 
menolak Boediono adalah Dradjad Hari Wibowo, anggota DPR dari Fraksi PAN, yang 
kini bergabung menyokong pencalonan Jusuf Kalla-Wiranto. Boediono yang mendapat 
"restu" dari Senayan saat itu, untuk kali pertama telah menyelamatkan muka 
Yudhoyono.

Dengan menempati posisi penting dalam tiga pemerintahan era reformasi itu, 
Boediono nisacya memang banyak berurusan dengan seluk beluk keuangan negara, 
termasuk berurusan dengan BPPN dengan penjualan aset-asetnya. Bank Central Asia 
yang dijual kepada Farallon Capital Partners, 14 Maret 2002 adalah salah 
satunya.

Catatan tentang Boediono, akan tetapi tak hanya bersangkutpaut dengan aset-aset 
yang dikuasai BPPN. Rabu 28 April 2004, di depan Komisi IX DPR-RI, Boediono 
mengajukan usulan agar privatisasi sejumlah BUMN bisa dilakukan pada tahun itu. 
Ada 28 BUMN yang diusulkan Boediono untuk dijual, tujuh diantaranya diminta 
diprioritaskan pada tahun itu juga. Ketujuh BUMN itu adalah Bank Mandiri, Bank 
Negara Indonesia (Bank BNI), PT Tambang Timah, PT Aneka Tambang, PT Tambang 
Batubara Bukit Asam, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, dan PT Merpati 
Nusantara Airlines.

Kalangan DPR waktu itu mengingatkan agar Boediono, menunda penjualan semua BUMN 
itu. Alasannya, waktu privatisai dinilai kurang tepat karena menjelang 
pelaksanaan Pemilu Presiden 2004. Jika penjualan BUMN itu tetap dilakukan, 
orang-orang di Senayan mengkhawatirkan hasilnya kurang optimal. Pada tahun itu, 
yang akhirnya dijual adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Sebanyak 30 persen saham BNI dilepas melalui penawaran umum kedua
(secondary public offering). Ini adalah teknik "penjualan" yang
paling aman, ketimbang penjualan melalui strategic sale yang sering
menimbulkan lebih banyak penolakan.

Bank BNI semula merupakan bank terbesar di Tanah Air tapi sekarang hanya 
menempati urutan keempat dari sisi aset. Duduk di kursi Direktur Utama saat ini 
adalah Gatot Mudiantoro Suwondo yang menggantikan Sigit Purnomo. Gatot adalah 
suami dari adik perempuan Ani Yudhoyono.

Majalah Trust menulis, ketika menjadi direktur Bank Danamon, Gatot
pernah dijadikan tersangka oleh polisi dalam skandal pembobolan bank itu 
sebesar Rp 110 miliar. Skandal itu melibatkan Edi Karsanto (pejabat di 
departemen keuangan). Oleh majalah yang sama disebutkan, sebagian dana itu 
disumbangkan untuk kepentingan pencalonan Yudhoyono pada Pemilu Presiden 2004 
(lihat "Misteri Rekening Edi Karsanto
<http://www.majalaht rust.com/ verboden/ verboden/ 747.php> ," Trust,
16-23 Agustus 2004). Namun sesuai catatan KPU, pada putaran pertama Pemilu 
Presiden 2004, Gatot "hanya" menyumbang Rp100 juta kepada pencalonan kakak 
iparnya itu.

Temasek Dalam hal penjualan BUMN itu, yang paling menimbulkan kontroversi tentu 
adalah penjualan 41,94 persen saham PT Indonesia Satelit Tbk. alias Indosat. 
Penjualan itu secara resmi terjadi pada Minggu, 15 Desember 2002. Terungkap 
dalam siaran pers Kementerian Negara BUMN hari itu, saham Indosat telah dijual 
kepada Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd. (STT) dan share purchase 
agreement telah diteken pada tanggal tersebut.

Belakangan diketahui pihak Singapura sebagai pembeli menggunakan
mekanisme special vehicle yaitu STTC meskipun katanya saham STTC 99
persen dimiliki STT. Hal itu tentu saja menimbulkan kecurigaan alias
kurang transparan. Misalnya, mengapa pihak pembeli bukan STT seperti
yang diatur dalam share purchase agreement dan harus menggunakan special 
vehicle?

Yang mungkin menarik dari penjualan Indosat itu, adalah lobi-lobi
tingkat tinggi yang lalu lalang mendahuluinya. Lobi-lobi itu terutama
dilakukan oleh pejabat-pejabat dari STT dan Telkom Malaysia Bhd yang
juga ikut tender. Lewat Temasek Holdings, induk usahanya, STT ketika itu 
dikabarkan mendekati Taufiq Kiemas, suami Megawati. Sementara pejabat Telkom 
Malaysia masuk melalui jalur Hamzah Haz, Wakil Presiden. Begitu sengitnya upaya 
lobi itu, Taufiq disebut-sebut mendesak Megawati untuk memilih Temasek..

Setidaknya begitulah yang pernah disebutkan oleh situs laksamana.net.
Sempat berganti nama menjadi parasindo.com, situs laksamana.net
<http://www.laksaman a.net/> saat ini telah berganti berisi konten
tentang asuransi.

Lalu ketika Temasek akhirnya menjadi pemenang, gelombang protes mewarnai 
penjualan Indosat. Pemerintahan Megawati waktu itu dinilai gagal melindungi 
aset-aset strategis, termasuk Indosat yang bergerak di bidang jasa 
telekomunikasi dan satelit.

Temasek adalah raksasa telekomunikasi berpengaruh di Singapura. Pemegang saham 
terbesar Temasek adalah Lee Hsien Liong, Menteri Keuangan Singapura— putra Lee 
Kuan Yew, bekas PM Singapura, yang mewakili pemerintah Singapura.

Di Indonesia, konglomerasi ini sudah cukup lama dikenal karena
keterlibatan bisnisnya dengan sejumlah taipan dan usahanya memburu
sektor telekomunikasi. Nama Temasek paling tidak sudah dikenal ketika
membentuk PT Bukaka Sing Tel pada tahun 1996. Perusahaan ini, kala itu, 
memenangkan tender pembangunan 43 ribu sambungan baru selama tiga tahun dengan 
nilai Rp 1,1 triliun.

Lewat STT pula, pada tahun 2001 Temasek termasuk investor yang paling sigap 
menawar saham PT Telkomsel. Usaha itu kemudian berbuah dengan mengantongi saham 
operator seluler terbesar di republik ini sebesar 35 persen. Temasek yang 
menguasai saham STT sampai 67,65 persen, dengan kalimat lain, secara tidak 
langsung juga menggenggam 23,7 persen saham Telkomsel.

Bersama Cargill Golden Agri Resources, Temasek juga masuk dalam
pengelolaan dan pengembangan perkebunan minyak kelapa sawit di
Indonesia. Bisnis ini semula hanya dimonopoli konglomerat seperti Eka
Tjipta Wijaya, yang antara lain bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Ciputra.

Cargill adalah salah satu perusahaan pengolah minyak kelapa sawit
terbesar di dunia. Luas perkebunannya lebih dari dari 258 ribu hektar
dengan 16 fasilitas penambangan minyak kelapa sawit mentah. Tak
mengherankan karena itu, Cargill memiliki posisi dan reputasi kuat dalam 
perdagangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Karena keperkasaan Cargill 
itulah, Temasek tertarik terjun di pengelolaan kelapa sawit Indonesia. Temasek 
berharap dari kerjasama dengan Cargill bisa membuka pasar kelapa sawit, 
setidaknya di Asia.

Ketertarikan Temasek masuk ke Cargill, karena di sana juga ada saham
Liem Sioe Liong. Nama yang dianggap oleh Temasek dianggap sebagai
jaminan nomor wahid. Lewat Salim Group, Liem memiliki 20 persen saham Camerlin 
Group, di mana Temasek juga mempunyai saham besar di dalamnya.

Camerlin adalah sebuah perusahaan investasi global yang aset terbesarnya 
ditanam pada Southern Steel Bhddan Brierley Investments Limited. Keluarga Liem 
dan juga Suharto, bekas Presiden RI sama-sama memiliki 24,4 persen saham 
Brierley Investments, yang mayoritas sahamnya juga dimiliki oleh Temasek.

Di luar Indonesia, gurita bisnis Temasek juga melilit di banyak negara,
termasuk di Belgia dan Filipina. Di Thailand dengan membeli saham
Advanced Info Service, sebuah perusahaan seluler yang memiliki 9,75 juta 
pelanggan. Di Hong Kong, Temasek mengantongi kepemilikan saham APT Satelite, 
penyedia jasa satelit telekomunikasi untuk kawasan Asia Pasifik. Temasek juga 
masuk di India melalui Bharti Grup, perusahaan yang bergerak di sektor jasa 
telepon seluler, telepon tetap, hingga satelit. Keikutsertaan Temasek itu, 
semuanya lewat STT.

Lalu sejak Sabtu 7 Juni 2008, Indosat dijual oleh Asia Mobile Holding
Pte.Ltd kepada Qatar Telecom alias QTel seharga Rp 16 triliun atau
melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan harga penjualan Indosat
kepada STT yang Rp 5 triliun. Asia Mobile merupakan anak perusahaan
Temasek. Perusahaan itu merupakan kongsi yang didirikan oleh Qatar
Telecom dan STT dengan sebagian besar sahamnya (75 persen) dimiliki STT.

Dengan kata lain dalam waktu lima tahun, modal Temasek bukan saja telah kembali 
tapi bahkan sudah menangguk untung berlipat. Jika rata-rata setiap tahun 
Indosat membukukan laba Rp 1 triliun bisa dibayangkan, keuntungan yang 
dikantongi oleh Temasek selama lima tahun.

Indosat
Ada pun Indosat adalah perusahaan telekomunikasi yang sahamnya tercatat di 
Bursa Efek Indonesia, Jakarta dan New York Stock Exchange, Amerika Serikat. 
Sebagai operator seluler terbesar kedua di Indonesia, Indosat menguasai 28,6 
persen pangsa pasar seluler GSM atau lebih dari 36,5 juta pelanggan.

Setelah dijual kepada STT, berdasarkan laporan tahunan resmi yang
dikeluarkan Indosat, pajak yang diterima negara dari Indosat diketahui
terus menurun. Semula Rp 724 miliar (2004), lalu menjadi Rp 697 miliar (2005) 
dan akhirnya Rp 576 miliar (2006). Dalam surat somasi bernomor 134/SAA-AWA/ 
VII/08, yang ditujukan kepaa STT, pengacara A. Wirawan Adnan dan Iwan Priyatno 
dari Law Firm Sholeh.Adnan & Associates menyebutkan, penurunan itu ditengarai 
disengaja dan merupakan kejahatan sistematis akibat transfer pricing
<http://74.125. 153.132/search? q=cache:QHzhmb1j 600J:digilib. petra.ac. 
id/j\iunkpe/jou/eakt/ 2000/jiunkpe- ns-jou-2000- 98-039-1527- transfer_ 
pricing-re\source1.pdf+ definisi+ transfer+ pricing&cd= 2&hl=id&ct= clnk&gl=id> 
sesama perusahaan induk Temasek.

Disebutkan dalam surat somasi itu, dalam tiga tahun tersebut, auditor
eksternal Indosat juga menemukan transaksi derivatif yang dilakukan oleh 
Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2.5 triliun. Transaksinya meliputi 
17 kontrak perjanjian dengan berbagai institusi keuangan. Antara lain Goldman 
Sachs Capital New York, Standard Chartered Bank Jakarta, JP Morgan Chase Bank 
Singapore, Merril Linch Capital, Barclays Capital London, ABN Amro Bank, dan 
HSBC.

Akibat transaksi itu, Indosat dikabarkan menderita kerugian hingga Rp
652 miliar selama tiga tahun dimaksud. Pemerintah sebagai pemegang saham 14,29 
persen Indosat (minoritas), karena itu juga dirugikan Rp 93 milliar, dan negara 
berpotensi kehilangan pemasukan pajak sebesar 30 persen (setara Rp 196 
milliar). Mengingat Indosat adalah perusahaan public, publik pun dirugikan Rp 
283 miliar akibat transaksi tersebut.

Law Firm Sholeh.Adnan & Associates adalah pengacara dari Marwan Batubara 
(Anggota DPD RI, Anggota ILUNI UI Jakarta), Chandra Tirta Wijaya (Anggota ILUNI 
UI Jakarta), Bagus Satrianto (Anggota ILUNI UI Jakarta), Venny Zano (Anggota 
ILUNI UI Jakarta), Ismed Hasan Putro (Pengurus Masyarakat Profesional 
Madani/MPM), Agus Salahuddin (Anggota ILUNI UI Jakarta) dan Taufik Amrullah 
(Pengurus KAMMI). Mereka mengeluarkan somasi, menyusul pernyataan Kuan Kwee 
Jee, Senior Vice President Strategic Relations and Corporate Communication STT 
yang dimuat Investor Daily, Kamis, 19 Juni 2008 berjudul "STT Tak Ingin 
Permalukan RI."

Dalam wawancara itu, Kuan antara lain mengatakan, dalam lima tahun STT untung 
lima kali lipat dari saham Indosat. Dia mengatakan, banyak
kalangan menilai, STT juga investor asing lainnya, meraih untung besar
karena membeli perusahaan bagus di Indonesia tapi sebenarnya tidak
melakukan apa-apa, hanya sekadar menaruh uang.

"Siapa bilang STT tidak melakukan apa-apa dan hanya menaruh modal.
Kami melakukan banyak hal. Anda tahu, saat kami masuk di Indosat tahun 2002, 
perusahaan itu tidak bisa berkembang, tidak punya dana untuk ekspansi. Mau 
pinjam dana ke bank, credit rating-nya rendah, jadi sulit. Kami masuk lalu 
membenahi manajemen, memperbaiki struktur keuangan, dan melakukan banyak hal. 
Hasilnya anda lihat sendiri. Bagaimana keuangan Indosat tahun 2002 dibanding 
sekarang. Bagaimana lonjakan pelanggannya. ," Begitulah kutipan langsung dari 
Kuan.

Pernyataan Kuan menurut kantor pengacara itu bertolak belakang dengan fakta.. 
Karena sebelum diambil-alih Temasek, Indosat sebetulnya merupakan BUMN yang 
terus berkembang sejak 1980. Dalam tiga tahun terakhir sebelum dijual, 
pendapatan Indosat terus tumbuh, masing Rp 2,992 triliun (2000), Rp 5,138 
triliun (2001), dan Rp 6,767 triliun (2002).

Kini kepemilikan BUMN strategis itu sebagian besar sudah tidak di tangan 
pemerintah. Sejak Maret tahun ini QTel sebagai pemilik baru Indosat, telah 
melakukan pembelian atas 1.314.466.755 saham seri B, termasuk saham seri B yang 
mendasari American Depositary Shares dari Indosat. Kedua jenis saham itu 
mewakili 24,19 persen dari jumlah keseluruhan saham publik yang diterbitkan 
Indosat.

Dikutip oleh Antara <http://www.antara. co.id/arc/ 2009/2/26/ qtel-kuasai- 
65-persen- saham-indos\at/> , Ketua QTel Group, Sheikh Abdullah Bin Mohammed 
Bin Saud Al-Than mengatakan, penguasaan saham mayoritas di Indosat setelah 
tender offer sukses dilakukan serentak di Indonesia dan Amerika Serikat, sejak 
Kamis 26 Februari 2009. Tak lupa Al-Thani memastikan dengan tuntasnya akuisisi 
tersebut, Qtel akan menjadi salah satu 20 perusahaan telekomunikasi terbaik di 
dunia pada tahun 2020.

Dalam pembelian itu, Qtel menetapkan harga penawaran tender (tender
offer) atas setiap lembar saham Indosat sebesar Rp 7.388. Harga tersebut setara 
dengan harga pembelian Qtel terhadap 40,81 persen saham Indosat dari STT, 22 
Juni 2008. Dengan demikian, Qtel saat ini sudah menguasai 65 persen saham 
Indosat atau menjadi pemegang saham mayoritas.

Merujuk kepada Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 junto Perpres No. 111 
/2007 tentang Daftar Negatif Investasi, investasi asing pada bisnis 
telekomunikasi jaringan tetap (fixline) ditetapkan maksimal sebesar 45 persen. 
Namun Indosat rupanya merupakan pengecualian. Kali pertama Indosat dijual 
kepada STT (Temasek) 15 Desember 2002, menteri BUMN waktu itu dijabat oleh 
Laksamana Sukardi (sekarang menjadi petinggi di Partai Demokrasi Pembaruan, 
pecahan PDIP, yang sekarang juga merapat ke Yudhoyono) dan Boediono sebagai 
menteri keuangan. (bersambung)

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog
<http://www.rusdimat hari.wordpress. com/> .



      

Kirim email ke