http://batampos.co.id/Utama/Utama/Mesin_Mati%2C_Helikopter_TNI_Jatuh.html
Mesin Mati, Helikopter TNI Jatuh Sabtu, 13 Juni 2009 Pilot dan 3 Awak Tewas Terbakar Helikopter jenis Puma SA-330 dengan nomor registrasi H-3306 jatuh tidak jauh dari hanggar di markas Lanud Atang Sendjaja, kemarin (12/6) sekitar pukul 14.00. Saat itu helikopter milik TNI-AU ini hendak melakukan test flight (tes terbang, red). Dalam peristiwa ini empat anggota TNI-AU tewas dan tiga lainnya mengalami luka-luka. Menurut Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI AU I Marsma Imam Safaat, helikopter itu sedang melakukan tes mesin, namun saat takeoff dan ketinggian baru mencapai 20 meter, mesin tiba-tiba mati dan pesawat pun jatuh 200 meter dari hanggar. Test flight merupakan kegiatan rutin skuadron 8. "Dan tadi (kemarin, red) adalah yang kedua kalinya," kata Imam, di depan rumah Sakit AU Atang Sendjaja. Imam mengakui, sebelum jatuh heli rupanya bermasalah pada automatic pilot. Sejak 6 bulan lalu, heli tersebut itu menjalani perawatan berat di Bandung. "Memang automatic pilot itu sempat bermasalah tapi sudah tidak bermasalah lagi," tambahnya. Imam mengatakan, perawatan berat heli tersebut telah selesai. Sebelum jatuh, heli buatan Prancis itu memang sedang diuji coba terbang. "Diuji dua kali, sebelum jumatan sudah diuji dan dinyatakan baik," kata Iman. Diakuinya, akibat kecelakaan itu, ekor pesawat patah, dan kondisi helikopter rusak berat. Di tempat terpisah, dari pengakuan Nafis Ismail penunggu masjid Attaqwa yang memandikan mayat Serka Catur Heri dan Sertu Dodi, semua tubuh korban kecelakaan itu hangus terbakar. "Saat saya mandikan semuanya gosong," kata Nafis singkat. Sekitar pukul 17.30 apabila dua korban yang lain yaitu Mayor Penerbang (Pnb) Sobic Fanani (Pilot) dan Lettu Pnb Wisnu (Co Pilot) telah meninggal dunia. Hal itu menambah jumlah korban yang sebelumnya hanya Serka Catur Heri dan Sertu Dodi. Sementara korban yang luka-luka dirawat intensif dengan penjagaan yang superketat di RS Atang Sendjaja dan mengalami luka bakar serta patah tulang adalah Letda Roni (teknisi), Serka Ferdinand (teknisi) dan Serka Epram (teknisi). Dari kejadian tersebut, sisa helikopter jenis Puma SA-330 milik Lanud Atang Sendjaja kini tinggal 7 buah. Kepala Penerangan Lanud ATang Sendjaja Mayor Sus MI Adam mengatakan, saat ini lokasi kejadian sedang disterilkan oleh tim Mabes TNI AU. Menurutnya, penyebab jatuhnya helikopter masih dalam penyelidikan. Lebih lanjut ia menjelaskan, kondisi helikopter ekornya rusak dan baling-baling patah. Salah seorang saksi mata yang melihat kejadian Sandy mengatakan sebelum helikopter jatuh, pagi harinya kondisi mesin sempat diperiksa oleh teknisi. "Malah sempat diterbangkan oleh pilot," ujarnya. Malapetaka menghampiri ketujuh awak helikopter ketika waktu memasuki pukul 14.10. Heli yang akan diterbangkan kembali tiba-tiba oleng setelah ketinggian berada di jarak 200 meter sebelum akhirnya jatuh membentur tanah dan meledak. "Saya yang ketika itu ada dirumah kaget melihat helikopter itu jatuh," katanya. Sandy yang mengaku ayahnya perwira TNI AU yang bekerja sebagai teknisi mesin langsung menuju lokasi kejadian untuk mengetahui kondisi ayahnya. "Untunglah ayah saya tidak termasuk ke dalam korban," pungkasnya. Memprihatinkan Musibah tampaknya sulit lepas dari tubuh TNI . Belum kering tanah merah makam prajurit Kopassus yang jatuh Senin ( 8/6) lalu, kecelakaan kembali berulang. Kemarin sebuah helikopter Super Puma milik TNI AU jatuh di Lanud Atang Sanjaya, Bogor Jawa Barat. Empat prajurit TNI AU tewas, tiga luka berat. Itu berarti dalam sebulan sejak 20 Mei 2009, sudah tiga pesawat milik TNI jatuh (data lihat grafis). "Ini sangat miris. Sangat memprihatinkan," ujar Ketua DPR Agung Laksono di Jakarta kemarin. Dia mendesak dilakukan audit terhadap alat transportasi udara TNI, terutama yang sudah berusia tua. "Sebelum diaudit, di-grounded dulu, jangan sampai ada korban baru lagi," katanya. Audit terhadap peralatan TNI penting agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso selama ini memastikan sebuah pesawat tidak boleh diterbangkan jika tidak layak. "Yang jatuh itu dalam posisi uji kelayakan," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Bambang Sulistyo kemarin. Sebuah tim investigasi sudah bergerak melakukan penyelidikan di Lanud Atang Sanjaya. *** ----- Kecelakaan Beruntun Setahun Terakhir 7 Maret 2009. Helikopter milik TNI AD mendarat darurat di tambak udang di Semarang Barat, Jawa Tengah. Pesawat berpenumpang 2 orang itu rusak berat. Tidak ada korban meninggal. Penyebab, diduga mesin error. Kondisi cuaca cerah. 6 April 2009. Pesawat jenis Fokker-27 menabrak hangar Lanud Hussein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat. 18 personel pasukan khas (Paskhas) TNI AU dan 6 kru pesawat tewas. Penyebab diduga kabut di dekat landasan. Kondisi cuaca jelek. 11 Mei 2009. Pesawat Hercules tergelincir di Bandara Wamena, Papua. Hercules yang mengangkut logistik Pemilu 2009 itu hanya tergelincir saat hendak mendarat. 3 Roda pesawat milik TNI AU itu rusak sedang 1 lainnya terpental hingga 1 km. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Pesawat melindas penduduk setempat dan luka.Penyebab error teknis. 20 Mei 2009. Pesawat Hercules C 130 jatuh di Magetan, Jawa Timur. 101 tewas akibat peristiwa itu. Warga Magetan yang rumahnya tertimpa badan pesawat pun ikut menjadi korban. Penyebab diduga lost power dan terbang terlalu rendah mendekati landasan. 8 Juni 2009. Kecelakaan Helikopter TNI Angkatan Darat jenis Bolkow 105 buatan PT Dirgantara Indonesia jatuh di Kampung Cihanyawar, Desa Situhiang, Kelurahan Pagelaran, Cianjur, pada Senin 8 Juni 2009 pukul 14.15 , dua penumpang dan satu awak heli tewas, salah satunya Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus, Kolonel Inf. Ricky Samuel. Penyebab cuaca sangat buruk. 12 Juni 2009. Helikopter Puma milik TNI Angkatan Udara jatuh saat uji terbang usai perawatan di Lanud Atang Sanjaya, Bogor. Empat orang prajurit tewas. Penyebab diduga mesin error. Sumber: Dokumentasi Batam Pos
