http://batampos.co.id/Opini/Opini/Parade_Tari__Atau_Para_Derita.html

Rabu, 10 Juni 2009 

Parade Tari Atau Para Derita 
Oleh: Hoesnizar Hood 
Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepri 

Ini  cuma sebuah catatan kaki tentang Parade Tari Daerah Kepulauan Riau tahun 
2009 yang baru saja dilaksanakan kemarin tanggal 6 Juni di Tanjungpinang oleh 
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Kepri. Kalaupun ianya nanti jadi 
catatan buram ataupun dituduh menjadi sebuah catatan sakit hati biarlah diawal 
tulisan ini saya nyatakan, pastilah saya tiada berdaya untuk membela diri. 
Sebagai seniman saya pikir saya harus membuat catatan tentang apa yang saya 
saksikan, sebagai manajer tim salah satu peserta yang kalah, pastilah saya 
dituduh hanya meluahkan sakit hati. Apa boleh buat?  

Parade Tari daerah adalah ajang seleski tim tari mulai tingkat kabupaten/kota 
hingga pada ujungnya sampai pada tingkat nasional yakni Parade Tari Nusantara. 
Ini satu-satunya liga dimana bagi seniman tari daerah merupakan baromater untuk 
mengukur kemampuan mereka. Meskipun tak memperebutkan uang, gelar sebagai 
penyaji terbaik atau penata tari, musik, rias dan kostum terbaik menjadi idaman 
mereka. Apalagi beberapa tahun terakhir ini ada bonus dari Kementerian 
Parsenibud menjadikan jawara parade tari sebagai duta seni ke luar negeri, 
keliling Eropa. Lumayan menggiurkan rasanya. Dan Kepri adalah salah satu daerah 
yang lumayan prestasinya paling tidak sejak provinsi ini berdiri tetap berada 
ditataran 10 besar nasional. 

Parade tari ini menjadi heroik karena mungkin jika hendak disepadankan dalam 
olahraga hanya tarilah yang menjadi cabang paling populer layaknya sepak bola. 
Karena ia adalah sebuah tim dan kerja sama tim serta rasa senasib 
sepenanggu-ngan menjadi bagian terpenting untuk meraih kemenangan. Emosi 
kolektif pun terbangun apalagi dengan membawa beban nama masing-masing daerah 
dengan menghabiskan biaya yang juga tidak sedikit. Semua itu menjadi sebuah 
semangat kompetitif, belum lagi aroma rajuk sindir seniman kalau ada hal-hal 
yang tak mengena, tentulah beda. Nah, catatan tentang ada hal ikhwal yang saya 
rasakan tak mengena itulah yang ingin saya sampaikan. 

Kawan saya Samson manajer tim tari dari Batam dengan badan bulat gempalnya 
macam melemparkan sebiji bola kasti ke depan hidung saya ketika dia bertanya 
kepada saya, "Apa kesah sound system cam gini bang?", saya tak dapat 
menjawabnya karena pertanyaan dalam hati sayapun sama, cuma kalau saya 
ikut-ikut bertanya, rasanya macam menepuk air di dulang, yang menyelenggarakan 
pun orang kita juga dan di kampung kita juga, hanya kita tak masuk dalam 
penyelenggara.  

Memanglah tak tercakap. Malam gladi yang tak bersih-bersih itu sempat juga 
bertegang urat, kita disuruh berdiskusi sementara si pengendali soundnya pergi. 
Hendaklah ditengok-tengok juga siapa yang memegang kendali sound system tu, 
seberapa jauh pengalaman dia dengan lebih 30 alat musik melayu yang harus 
diatur dan tak semudah kita pikirkan. bukan hanya bunyi tapi karakternyapun 
hendak dicari, alhasil dimalam pembukaan yang gegap gempita itu petuah dari Pak 
Gubernur dalam pidatonya senyap tak terdengar ditelan angin dan suara penonton 
dibelakang yang lebih asyik memperbincangkan "Derita Manohara". 

Apapun hasil sound malam itu, dilantak juga kawan-kawan dari satu peserta ke 
peserta lain, ada rasa tak tega menghentikan lomba hanya karena alasan sound 
yang tak bersahabat, mungkin peserta tau juga ini kerja soundman adalah kerja 
berat bukan karena alasan harga sewanya yang tak sepakat. Peserta juga tau 
inipun bukan hanya sekadar perlombaan tapi juga sebuah pertunjukan. 

 Padahal terasa malu juga, karena ada banyak seniman nasional kenamaan yang 
berada di acara itu, pastilah panitia tak tahu karena memang mereka tak perlu 
tau kehadiran orang-orang hebat itu. Didalam berproses kreatif sah-sah saja ada 
banyak tim yang memanggil orang luar menjadi konsultan timnya, sekedar menjadi 
advisor, mempelajari tehnik atau banyak hal lain. Macam sepak bola juga, kalau 
dapat pelatih hebat alamat tempias juga kehebatannya.Tapi mungkin pengecualian 
dengan tim sepak bola Indonesia dikasi pelatih apa saja tetap kalah juga. 

Dari ke 12 peserta yang mewakili 7 kabupaten terlihat hampir merata karya-karya 
mereka, paling tidak tim dari Natuna, Karimun, Batam dan Tanjungpinang yang 
menyolok dan harus diperhitungkan oleh tim lain. Terlepas dari berbagai aspek, 
tim Natuna tampaknya lebih siap untuk bertarung, paling tidak rasa percaya diri 
mereka begitu nyata dan total pada kesempatan uji coba.  Ya, totalitas adalah 
sebuah keharusan, namanyapun lomba pastilah mereka tau resiko yang akan 
didapatkan. Menang atau kalah itu sebuah kelaziman. Hanya yang tak lazim kalau 
ada kezaliman dalam pengamatan atau penilaian.  

Dari awal saya sudah memberi kata-kata bersayap kepada panitia tentang 
nama-nama juri/tim pengamat yang bakal menjadi "eksekutor" malam itu. Karena 
ada suara-suara sumbang yang datang. Karena antara nama-nama itu saya 
mengenalnya dan saya sangat tau rekam jejak perjalanan karirnya. Epi Martison, 
Deddy Luthan dan Suryoandoro bukan orang sembarangan. Hanya malam itu sempat 
terjadi pergunjingan yang sengit karena sebelum lomba dmulai pembawa acara 
membacakan biodata juri, Epi Martison adalah penggarap musik MTQ Natuna. Ah, 
kenapa bisa? dan Kawan saya menyambut kemarin saya melihat Deddy Luthan di 
Natuna. O la la... 

Saya buang jauh-jauh pikiran buruk itu dan saya bantu juga mengusir pikiran 
dalam kepala otak kawan saya itu. Mereka adalah orang-orang terhormat saya 
diakui integritasnya dalam menjadi juri, lebih 40 tahun mereka menjadi seniman 
tari dan musik dan lebih 20 tahun pula mereka menjadi juri parade tari 
nasional. Luar biasa. Tapi apa lacur malam itu Natuna tampil mengharukan salah 
satu properti tari topi caping penari laki-lakinya terjatuh dan menurut saya 
dan banyak kawan-kawan saya yang menonton sangatlah  fatal.  

Tapi pada pengumuman tim juri terdengar lebih mengharukan lagi, karena mereka 
menyatakan bahwa kesalahan yang terjadi itu nilainya dikurangi tapi bisa 
dimaafkan, untuk diperbaiki menjelang ke Jakarta nanti. Yang lebih mendebarkan 
lagi ketika ingin menyebutkan siapa yang berhak menjadi juara, berkali-kali 
juru baca tim juri mengatakan bahwa ini tak ada titipian, sebuah kejujuran dan 
jangan ada persangkaan. Tamatlah sudah. 

Pemenang pertamanya adalah Natuna nilai 1290, Kedua adalah Tanjungpinang nilai 
1260 dan Ketiga adalah Karimun nilai 1230. Berapakah nilai yang dikurangkan 
pada Natuna dengan interval 30 point itu?  

Catatan yang ingin saya garis bawahi adalah selama 12 tahun mengikuti Parade 
tari tak pernah tim juri menjadi peragu seperti itu, kekuasaan juri mutlak tak 
usah disebutkan dalam ulasan lomba bahwa ada kesalahan yang dimaafkan. Tak usah 
disebutkan bahwa ini bukanlah titipan dan sebuah kejujuran. Ini bukan seleksi 
awal tingkat kabupaten kota tapi tingkat provinsi yang sudah harga mati. 
Lunturlah sudah bayangan saya akan nama besar nama-nama tim juri tersebut, 
meskipun secara pribadi saya akui kabupaten Natuna memanglah pantas juara tapi 
keraguan juri membuat keberhasilan mereka dan parade kali ini ternodai.  

Ini hanya sebuah catatan yang mungkin nanti perlu dicetak tebal bahwa sebaiknya 
tim juri tidak dipercayakan hanya kepada orang luar saja yang tak sepenuhnya 
mengerti khazanah kesenian di kampung halaman kita ini dan bukan kepada 
orang-orang terhormat tadiyang kini jadi tak bisa dimengerti. Tempatkanlah juga 
1 atau 2 orang seniman negeri ini untuk mengimbangi keluguan mereka itu dan 
akhirnya parade tari tidak menjadi para derita dan membawa kecewa bagi peserta 
yang sudah menghamburkan puluhan juta biaya. Bukan karena siapa pemenangnya 
tapi proses kemenangan itu yang membawa dampak ke depan apakah jika terjadi 
kesalahan akan juga dimaafkan?  

"Kalau begitu kita bikin saja Parade Tari Lebaran", Kata si bulat gempal kawan 
saya itu. Katanya lagi, "Keputusan juri memang tak boleh diganggu gugat tapi 
masih boleh dimaki dan diumpat". Saya termenung lama dan saya tau apakah karena 
sudah tau akan terjadi peristiwa itu Pak Gubernur tak menyaksikan sampai akhir 
acara itu dan saya tak tau kapan malam itu ia berlalu. *** 

Kirim email ke