Sukarno: Revolusi Butuh Pengorbanan Dan Selalu Jatuh Korban2 !!!
                                                
Bung Karno membentuk pasukan khusus berani mati untuk mengobarkan revolusi 
didunia.  Kemudian pada 1965 bulan September 30 benar2 terjadi pembunuhan2 
massal yang korban2nya luar biasa.  Pasukan khusus berani mati ini benar2 mati 
dibunuh sebelum bisa menunjukkan keberaniannya.

Menurut Cornel University, jumlah korban adalah 2 juta, tapi menurut Suharto 
jumlah korbannya kira2 200 ribu, tapi menurut Sarwo Edhie Wibowo jumlah 
korbannya adalah 3 juta.

Namun Pramudya Ananta Toer menyatakan jumlah korbannya lebih daripada itu 
karena 10% populasi rakyat Indonesia berkurang.

Saya pribadi pernah keliling Indonesia setelah kejadian G30S, dan saya 
memastikan bahwa di Jawa hampir merata, setiap kecamatan kehilangan separuh 
warganya.  Sedangkan diluar Jawa kira2 seperempat warganya hilang tidak 
sebanyak di Jawa.  Jadi korban2 yang jatuh bisa diperkirakan kepastiannya yaitu 
diatas 10 juta dan tidak mungkin dibawah 10 juta.

Pernyataan Sarwo Edhie yang menyatakan 3 juta korban telah jatuh juga tidak 
bisa disalahkan, dan jumlah itu memang benar tetapi cuma sebatas mereka yang 
ditembak ABRI dan tidak termasuk mereka yang diculik kelompok2 Ansor yang 
kemudian memenggal kepalanya di-tepi2 sungai.

Tentara melakukan pembunuhan massal secara lebih systematik yaitu menjemput 
korban2nya dan diangkut ke-hutan2 dan gunung2 untuk ditembak mati dan dikubur 
dalam satu tempat yang tersembunyi.  Tidak demikian dengan kelompok Islam atau 
Ansor ini, mereka menggiring para korban2nya ke-tepi2 sungai untuk dipenggal 
kepalanya, adapula mereka dipenggal kepalanya dirumahnya untuk kemudian 
mayatnya dibuang di-empang2 atau di kali.

Sebagai pembanding, jumlah korban yang jatuh dalam perang dunia kedua adalah 15 
juta jiwa.  Jumlah ini termasuk korban2 pembunuhan massal yang dilakukan 
Hitler.  Orang Yahudi mengklaim bahwa Hitler telah membunuh 6 juta orang Yahudi 
dari jumlah yang 15 juta ini.  Jumlah korban2 ini bukan terjadi sekali gus 
melainkan terjadi selama berlangsungnya peperangan ini yaitu sejak 1939 hingga 
1945.  Jadi korban yang jatuh dalam 6 tahun berjumlah 15 juta orang.

Lain lagi ceritanya dengan G30S, korban2 yang jatuh lebih dari 10 juta ini 
hanya berlangsung dalam 6 bulan saja tidak sampai setahun.

Kalo pembunuhan oleh Khmer Merah dalam satu tahun saja bisa jatuh korban 1 juta 
orang yang menjadi berita besar dunia, maka jumlah lebih dari 10 juta orang 
yang berlangsung hanya 6 bulan ini ternyata tidak menjadi berita besar bahkan 
tidak pernah diberitakan.

Indonesia adalah negara kepulauan, apabila ada penguasa yang menutup pulau2 ini 
dari dunia luar kemudian melakukan pembunuhan massal, maka beritanya tidak akan 
bisa bocor.  Lain halnya kalo terjadi di Asia daratan, negara2 hanya dipisahkan 
oleh perbatasan yang berupa hutan, gunung atau jurang2 sehingga korban2 
pembunuhan kadang kala bisa lolos lari menyelamatkan diri keperbatasan dan 
memberitakan apa yang disaksikan dan dialaminya.  Tapi apabila itu terjadi di 
Indonesia, maka tidak akan ada berita yang bisa lolos karena tak satupun 
korban2nya bisa mungkin lolos.

Memang, kesemuanya ini adalah kesalahan fatal dari Sukarno, beliau mengabaikan 
kepentingan dan kebutuhan rakyatnya, melancarkan perang dengan Malaysia tanpa 
alasan.  Maksudnya mau menghancurkan dan merebut Malaysia padahal Malaysia 
sendiri tidak pernah mengganggu Indonesia.  Memerangi negara lain tanpa 
mempedulikan kesanggupan sendiri.

Kita tidak bisa bohongi diri sendiri, bahwa memang G30S itu bukan gerakan yang 
digerakkan maupun direncanakan siapapun didalam negeri ini.  G30S memang 
didalangi Amerika ataupun Inggris bukan Suharto.  Kalopun akhirnya Suharto ikut 
berpartisipasi dan mengangkat dirinya se-olah2 sebagai pelaku utamanya se-mata2 
merupakan boneka saja.

Apakah Amerika dan Inggris bisa kita tuduh bersalah karena melakukan hal yang 
merugikan bangsa kita ????  Jawabnya jelas, TIDAK BISA.  Karena pihak Amerika 
Inggris juga punya kepentingan yang kita ganggu sehingga mereka mempunyai 
alasan kuat untuk menghentikan gangguan2 konfrontasi ganyang Malaysia ciptaan 
bung Karno ini sesegera mungkin.  Korban2 dipihak Malaysia sudah jatuh lebih 
dulu sebelum kejadian G30S ini.

Untuk apa bikin revolusi hanya mengorbankan rakyat sendiri?  Kalo sudah tahu 
Revolusi butuh Korban, janganlah bikin revolusi dan kita tidak butuh korban2.  
System negara lain yang lebih maju, lebih baik, lebih makmur, dan lebih 
damai......  janganlah karenanya system negara lain kemudian dianggap musuh, 
dan kita memusuhinya dan kita wajib mengganyang mereka agar sama2 susah, sama2 
miskin, sama2 tidak maju, dan sama2 menderita.  Jelasnya, mengobarkan revolusi 
ganyang Malaysia adalah penyebab pecahnya G30S yang membawa malapetaka dan 
tragedy kemanusiaan dinegara kita.  Daripada ganyang Malaysia khan lebih baik 
kalo kita malah kerja sama dengan Malaysia sehingga sama2 untung, sama2 senang, 
dan sama2 damai!!!  Kenapa Malaysia harus kita ganyang?  Padahal Malaysia 
sendiri tidak bermaksud mengganyang Indonesia !!!!

Inilah yang kita namakan Revolusi Sukarno membutuhkan korban, menyebabkan 
jatuhnya korban, dan rakyat kita dikorbankan untuk itu. SEKALI LAGI BELAJAR LAH 
DARI PENGALAMAN, SEJARAH ADALAH TEMPAT KITA BELAJAR BUKAN TEMPAT KITA 
MELESTARIKAN DENDAM, IRI, KESOMBONGAN, KEBANGGAAN DAN KETAKABURAN.

Marilah kita belajar dari kejadian ini, jangan mengganggu negara lain kalo 
negara kita tidak mau diganggu.  Sekali kita rusak dan ganggu negara lain, maka 
sepanjang sejarah dunia ini kita akan terus dicurigai, diawasi, dan akan 
diperlakukan sebagai musuh dunia beradab.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Kirim email ke