http://www.antaranews.com/view/?i=1247368752&c=INT&s=ASP

Indonesia Tidak Akan Campur Tangan Soal Kerusuhan Xinjiang

Minggu, 12 Juli 2009 10:19 WIB |
Beijing (ANTARA News) - Indonesia tidak ingin dan pernah campur tangan dalam 
kerusuhan yang terjadi di Xinjiang, China barat laut, sekalipun mayoritas 
penduduk di wilayah itu adalah beragama Islam, kata Dubes RI untuk China 
Sudrajat.

"Apa yang terjadi di Xinjiang adalah urusan dalam negeri China dan kita 
menghormati kedaulatannya dan tidak akan campur tangan masalah itu," kata Dubes 
Sudrajat di Beijing, Minggu.

Hal tersebut dikemukakan menanggapi terjadinya kerusuhan di Xinjiang, sebuah 
wilayah yang terletak di China barat laut yang penduduk mayoritas asli Uigur 
beragama Islam.

Sudrajat berharap dan yakin China akan bisa mengatasi kerusuhan yang terjadi di 
Xinjiang dengan aturan dan hukum yang berlaku di China sehingga masalah bisa 
segera diseleaikan dan kehidupan sosial dan pembangunan berjalan normal.

Ditegaskan bahwa Indonesia sejak dahulu berprinsip untuk tidak mencampuri 
urusan dalam negeri China, baik itu masalah separatisme yang terjadi di 
Xinjiang, di Tibet maupun Taiwan.

"Kita konsisten untuk tidak ikut-ikutan maupun campur tangan dalam setiap 
masalah yang terjadi di China. Kita hormati China sebagai negara yang 
berdaulat," katanya.

Demikian pula China, katas Dubes, mereka tidak pernah campur tangan dan 
ikut-ikutan dalam masalah separatisme yang terjadi di beberapa daerah di 
Indonesia.

"Telah ada kesepakatan dari kedua negara bahwa kita sama-sama menghormati 
kedaulatan negara dan tidak campur tangan. Termasuk juga soal Xinjiang, kita 
tidak ingin campur tangan," tegas Sudrajat.

Dalam setiap peristiwa separatisme di China, posisi Indonesia selalu mendukung 
kebijakan pemerintah China dalam menyelesaikan masalah dengan baik dan percaya 
akan bisa diselesaikan.

Demikian pula untuk soal Taiwan, kata Sudrajat, Indonesia tetap tegas menganut 
kebijakan Satu China (One China Policy).

Dubes Sudrajat menggambarkan bahwa hubungan diplomatik RI-China saat ini dalam 
posisi yang sangat baik, dimana para pejabat tinggi negara kedua negara intens 
melakukan berbagai komunikasi dan kerjasama berbagai bidang.

Pertemuan tingkat tinggi pejabat kedua negara dilakukan pada 1 Juli ketika 
Menlu Hassan Wirajuda dan Menlu Jiang Jiechi di Beijing menandatangani 
kerjasama naskah ekstradisi kedua negara yang merupakan tindak lanjut Kerjasama 
Strategis RI-Rhina yang ditandatangani kedua presiden di Jakarta 2005.(*)

Kirim email ke