Refleksi : Barangkali lebih mudah dikaitkan dengan asing , supaya tidak 
diselesaikan, ibarat kumang di seberang lautan nampak, tetapi gajah dipelapah 
mata tidak kelihatan. hehehehe

http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=9380

2009-07-24 
Keterlibatan Asing Diusut



[JAKARTA] Kepolisian menyelidiki kemungkinan keterlibatan asing sebagai otak 
serangan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, kawasan Mega 
Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (17/7) silam, yang menewaskan sembilan orang. 

Sumber SP di Jakarta, Jumat (24/7) menyebutkan, pengalaman Polri mengungkap 
kasus bom yang melibatkan WNA pernah dilakukan pada penanganan sejumlah 
peristiwa pengeboman, antara lain Bom Bali I, Bom Bali II, JW Marriott I, dan 
Kedubes Australia.

Data SP menunjukkan adanya indikasi kasus bom Bali I di kawasan Legian, 
dikendalikan oleh aktor di luar negeri. Sebelum pengeboman pada 12 Oktober 
2002, sejumlah tokoh Jamaah Islamiyah (JI) menggelar pertemuan di Thailand.

Sejumlah pentolan JI, antara lain, Muklas alias Ali Gufron, Hambali, dan Faiz 
Abubakar Bafana, dikabarkan menghadiri rapat akbar JI pada Februari 2002 itu. 
Faiz Abubakar Bafana akhirnya ditangkap Kepolisian Singapura. Pertemuan itu 
disinyalir membahas pengeboman yang dilakukan secara bertahap dari tahun ke 
tahun, terutama dengan sasaran objek asing, yang berkaitan dengan kepentingan 
Amerika Serikat.

Kejahatan transnasional yang dilakukan di Indonesia, menurut sumber tersebut, 
dibalut dengan isu agama dengan memanfaatkan jaringan terorisme. "Salah satu 
targetnya adalah menghancurkan perekonomian Indonesia," ujarnya.

Perlu diketahui, Indonesia merupakan satu dari tiga negara di Asia yang kinerja 
ekonominya cukup positif. Bersama India dan Tiongkok, Indonesia diperkirakan 
mencatat pertumbuhan ekonomi positif, di tengah pertumbuhan negatif yang 
dialami sejumlah "macan ekonomi" di dunia. Dengan demikian, Indonesia 
diharapkan bisa menjadi salah satu lokomotif pemulihan ekonomi di Asia.

Sementara itu, Mabes Polri berencana membuka kembali Hotel JW Marriott dan Ritz 
Carlton, Sabtu (25/7). "Rencananya, besok kami akan membuka lokasi TKP 
peledakan bom. Sejak kemarin, beberapa sudut yang dijadikan sasaran peledakan 
di dalam hotel memang sudah dibersihkan," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen 
Pol Nanan Soekarna di media center Bellagio Mall Jakarta, Jumat (24/7).

Selama delapan hari pasca peledakan bom, kedua hotel tersebut memang otomatis 
ditutup dan dijaga ketat oleh ratusan aparat kepolisian. "Hingga hari ini, 
kegiatan pra rekonstruksi tim Puslabfor Polri masih dilakukan di dalam dan di 
luar lokasi ledakan. Dalam perkembangan penyelidikan, kita juga masih terus 
berupaya mengidentifikasi para pelaku," ujar Nanan.


Ditangkap 

Sementara itu, Tim Anti Teror Densus 88 Mabes Polri dan Polda Jateng menangkap 
Achmady, anak buah Noordin M Top. Achmady disebut-sebut sebagai calon pelaku 
bom bunuh diri. Dia merupakan teman dekat Bahridin Latif (60), warga Dusun 
Mlela Desa Pasuruan Binangun Cilacap, mertua gembong teroris Noordin M Top. 
Noordin disebut-sebut telah menikahi Arina, putri Bahridin. 

Menurut keterangan yang dihimpun SP, Achmady ditangkap Densus 88 Mabes Polri 
dan Polda Jateng pada hari Rabu (22/7) lalu. Sebelum dibawa ke Mabes Polri, 
Achmady dibawa ke sebuah hotel di kawasan Candi Semarang untuk diperiksa secara 
intensif. Pemeriksaan intensif terhadap Achmady untuk mengetahui keterlibatan 
dirinya dalam jaringan Noordin M Top. 

Achmady merupakan buronan Densus 88 karena sempat lolos dalam penggrebekan di 
sebuah rumah di Dusun Binangun, Desa Wringinanom, Kecamatan Kertek, Kabupaten 
Wonosobo, akhir April 2006. Dalam penggrebekan itu dua anggota jaringan Noordin 
M Top, yakni Abdul Hadi dan Jabir, ditembak mati. 


Tim Bom Bali I

Secara terpisah, pengamat Kepolisian, Upa Labuhari mengusulkan, Polri merekrut 
kembali tim penyidik kasus Bom Bali I. "Agar bisa cepat, sebaiknya tim penyidik 
Bom Bali I dikumpulkan kembali dan didayagunakan. Sebab, mereka terbukti punya 
pengalaman mengungkap pengeboman di Bali, dan cukup memahami pola pergerakan 
Noordin M Top," ujarnya.

Sejumlah perwira Polri yang dulu mengusut Bom Bali I, di antaranya Komjen 
Gorris Mere (Kelakhar BNN), Brigjen Pol (Purn) Suryadharma Salim (mantan Kepala 
Densus 88 Antiteror Mabes Polri), Kombes Carlo Brix Tewu (Wakil Direktur I 
Bareskrim Polri), Kombes Benny Jozua Mamoto (Wakil Sekretaris NCB-Interpol 
Indonesia), Kombes Rycko Amelza Dahniel (Kapolres Jakarta Utara), dan Kombes 
Tito Karnavian (Kasubden Intel Densus 88).

Terkait aksi teror bom, cendekiawan Muslim dari UIN Syarif Hidayatullah 
Jakarta, Chaider S Bamualim mengatakan, melihat motif dan tujuannya, teror 
patut dikecam sebagai tindakan terlaknat dan tercela, kejahatan ekstra keji 
yang harus dilawan. Teroris adalah manusia tanpa kemanusiaan, akal tanpa nalar, 
jasad tanpa jiwa, dan hati tanpa perasaan, tindakan tanpa budi dan moral. 

"Islam mengharamkan kekerasan, apalagi teror. Al Quran dengan keras telah 
mewanti-wanti agar setiap Muslim tidak membunuh, karena membunuh satu jiwa sama 
dengan membunuh seluruh makhluk," katanya kepada SP, Jumat. 

Terkait teror di Tanah Air, ada soal lain yang merisaukan Chaider. "Biasanya 
segera setelah pelaku bom ditangkap akan muncul sekelompok orang yang berusaha 
membela mereka. Mereka sering menyebut diri mereka tim pembela Muslim," 
katanya. 

Hal itu, lanjut Chaider, sah saja dalam kaitan dengan upaya memberi pembelaan 
hukum kepada terdakwa kejahatan apapun sebagaimana diatur undang-undang. Tapi 
dari mana mereka peroleh mandat menggunakan identitas "Muslim" dalam membela 
tersangka teroris?

Menurutnya, klaim semena-mena atas simbol-simbol Islam dalam konteks semacam 
itu tidak dapat diterima. Karenanya, hal itu harus diatur secara hukum agar 
tidak mengganggu hak-hak Muslim lainnya. "Jika tidak, Islam yang luhur ini 
hanya akan dinistakan oleh kepentingan segelintir penganutnya yang 
tindak-tanduknya tidak ada urusannya dengan Islam," tandasnya. [YRS/142/G-5] 

Kirim email ke