Refleksi : Meninggal karena  gizi buruk ataukah sebnarnya disebabkan oleh 
kelaparan?

http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=12146


Rabu, 13 Januari 2010 , 14:21:00

4 Pasien Gizi Buruk Meninggal



PONTIANAK. Dari 43 kasus gizi buruk sepanjang 2009 lalu di Kota Pontianak, 
empat orang di antaranya meninggal dunia karena penyakit penyertanya. "Semua 
anak yang meninggal tersebut setelah dirujuk ke rumah sakit. Mereka juga 
mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ispa), anorexia serta penyakit lain 
seperti paru-paru. Jadi, bukan disebabkan gizi buruk murni," kata Kepala Seksi 
Gizi Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Uray Ridwan kepada Equator, Selasa (12/1). 

Masing-masing yang meninggal itu pada Januari sebanyak dua orang, Agustus satu 
orang disusul satu orang pada November. Sedangkan dari 43 kasus yang terdeteksi 
tersebut yang dirawat di Puskesmas Kampung Dalam sebanyak 23 kasus. 

"Sisanya ada yang dirawat di puskesmas rawat rumah tangga tetapi ada juga yang 
langsung dirujuk ke rumah sakit. Mereka tidak lewat Puskesmas Kampung Dalam," 
ujar Uray. 

Penanganan gizi buruk ini, kata Uray, 100 persen ditangani dengan bantuan paket 
dari Pemerintah Kota Pontianak. Namun penanganannya mengalami kesulitan di 
lapangan karena rata-rata penderita diketahui menderita gizi buruk dalam 
kondisi yang sudah sangat parah. 

"Ini karena tidak adanya informasi, jadi kami berharap masyarakat RT/RW jika 
ada warganya terdeteksi memiliki badan sangat kurus diharapkan langsung melapor 
ke puskesmas, dan ini akan ditangani langsung," ungkap Uray. 

Ia berharap partisipasi masyarakat untuk melapor jika ada temuan, khususnya 
keluarga miskin. "Nantinya akan ada petugas puskesmas yang langsung turun ke 
lapangan, mengecek apakah benar gizi buruk atau ada kelainan lain. Itulah yang 
akan dicek," jelasnya. 

Jumlah tersebut, lanjut Uray, jika dibandingkan dengan jumlah penderita gizi 
buruk 2008 memang terjadi peningkatan. "Sebelumnya itu jumlahnya 41 kasus, 
sekarang ini 43 kasus. Memang dari jumlah ada peningkatan tetapi kalau dari 
keberhasilan program kami sudah surveillance gizi yang hasilnya sudah cukup 
baik. Untuk itu jangan dilihat dari jumlahnya melainkan seberapa banyak kasus 
gizi buruk bisa ditangkap," kata Uray.  Terpisah, Pelaksana Gizi Puskesmas 
Kampung Dalam, Herkulana Farida Sgz, di ruang kerjanya mengatakan penemuan 
kasus gizi buruk di Puskesmas Kampung Dalam sepanjang 2009 ini sebanyak 23 
kasus. 

"Sedangkan total kasus dari 2006-2009 sebanyak 95 kasus, dengan rincian 2006 
sebanyak 16 kasus, 2007 sebanyak 18 kasus, 2008 sebanyak 38 kasus dan 2009 
sebanyak 23 kasus," jelasnya.  Menurut Herkulana memang pada 2009 terjadi 
penurunan kasus penemuan gizi buruk ini. "Tetapi masih dalam tanda kutip 
penurunan ini," ungkapnya tidak yakin. 

Karena, kata dia, rata-rata pasien yang ditemukan sebagai kasus gizi buruk 
tersebut tidak mau dirawat dengan berbagai alasan seperti rumah tidak ada yang 
menjaga, ataupun kedua orang tua bekerja. "Inilah yang menjadi kendala kami," 
tegasnya. 

Lebih lanjut Herkulana mengatakan 23 kasus yang dirawat di Puskesmas Kampung 
Dalam, empat di antaranya meninggal dunia setelah rujukan ke rumah sakit. 
"Mereka ini meninggal karena penyakit komplikasi yang berat. Dari empat orang 
meninggal ini dua orang berasal dari Kecamatan Pontianak Timur dan dua lainnya 
berasal dari Kecamatan Pontianak Barat.," tegasnya. (ian) 
 

Kirim email ke