Refleksi : Ayo silahkan mulai baku sikat sekarangan juga! http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=120642
[ Jum'at, 05 Maret 2010 ] Menunggu Wakil Rakyat Berkelahi Lagi BANYAK pelajaran yang bisa dipetik dari Pansus Hak Angket Kasus Bank Century. Sebagai sebuah rangkaian kerja politik, kasus Bank Century sungguh sarat nilai meskipun hasil pansus itu sendiri masih jauh dari memuaskan. Nilai itu, misalnya, semua tahu bahwa tak ada kesetiaan abadi dalam politik. Tapi, melihat pembelotan partai-partai yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, yang di era kepemimpinan SBY-Boediono ini mendapat jatah menteri, tetaplah mencengangkan. Belum setahun gerbong pemerintahan SBY-Boediono berjalan, tapi sudah mendapat ancaman ketidakharmonisan di internal kabinetnya. Lobi, negosiasi, dan pingpong politik yang dilontarkan SBY beberapa hari menjelang sidang paripurna bahwa dia akan me-reshufle menteri-menteri dari partai anggota koalisi agar sikapnya melunak ternyata tak kesampaian. Malah sikap "melawan" terhadap ancaman reshuffle itu justru ditunjukkan dengan vulgar saat voting pemilihan opsi apakah kebijakan bailout salah atau tidak. Di sini kita bisa membayangkan suasana batin seperti apa yang terjadi di lingkaran istana sekarang ini. Ketidakharmonisan kabinet telah berulang-ulang memberikan kita pengalaman buruk, karena konflik internal akhirnya lebih banyak menguras energi ketimbang tenaga yang dicurahkan untuk melaksanakan program kerja para menteri. Dan, tanda-tanda itu telah nyata ditunjukkan lewat perjalanan Pansus Century. Kita terkesima dengan gaya Gayus Lumbuun sekaligus termehek-mehek oleh ulah Ruhut Sitompul juga karena ada Pansus Bank Century. Gayus yang tutur katanya berusaha mewakili perasaan rakyat kebanyakan setidaknya memberi kita harapan bahwa tidak semua wakil rakyat mengecewakan. Gayus dan segelintir wakil rakyat yang lain itu bisa menjadi secercah sisi cerah akan keterwakilan perasaan rakyat di gedung dewan meski sisi lainnya tetap lebih mirip dengan kepalsuan dalam sinetron dan dagelan memuakkan. Di luar gedung DPR para demonstran ingar-bingar dengan retorikanya sendiri. Masih ingat kasus demo dengan cara menuntun kerbau di Bundaran HI kapan hari itu? Ciri khas demonstrasi adalah: semakin diperhatikan, diliput, disiarkan, dan disebarluaskan, semakin merasa sukseslah sang demonstran. Kasus demo dengan kerbau telah menjadi polemik karena SBY pun merasa tersentil dengan penggambaran kerbau yang malas dan tidak pintar. Karena demo itu, polisi lantas melarang para demonstran berunjuk rasa dengan melibatkan binatang. Di saat sidang paripurna Pansus Bank Century para demonstran sebenarnya bertindak lebih gila lagi. Mereka bahkan ada yang membawa seekor babi yang ditempeli foto Wapres Boediono. Tapi, esoknya, koran-koran ternyata bersikap bijak dan tak berminat dengan memuat foto demo yang tak mengindahkan etika itu. Ini tentu pelajaran penting bagi siapa pun. Bagi demonstran, meski demokrasi menjamin kebebasan dalam menyampaikan pendapat, ada etika yang tak boleh diinjak dan dicampakkan begitu saja. Media juga punya tugas penting untuk tidak gegabah melahap hal-hal yang secara visual terlihat atraktif. Pelajaran lain, banyak yang menilai kericuhan yang terjadi di akhir sidang Pansus Bank Century tak ubahnya perilaku siswa taman kanak-kanak seperti kata Gus Dur. Terhadap hal ini, agaknya kita musti lebih teliti dalam menafsir sindiran Gus Dur. Perkelahian yang dimaksud Gus Dur tentu bukan semua bentuk perkelahian. Kalau perkelahian itu seperti yang ditunjukkan para wakil rakyat di pansus, yang berkelahi karena kepentingan golongannya, tentu kita pantas malu. Tapi, kalau suatu saat nanti para wakil rakyat berkelahi karena benar-benar ingin memperjuangkan aspirasi rakyat, kita pasti senang adanya. Itu karena perjuangan wakil kita setara dengan gaji tinggi dan aneka fasilitas yang diterimanya. (*)
sig.jsp?pc=ZSzeb114&pp=GRfox000
Description: Binary data
