http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010031301064715
Sabtu, 13 Maret 2010
BURAS
Overekspos, Membuat Teroris Jadi 'Familiar'!
H. Bambang Eka Wijaya
"OVEREKSPOS--pemberitaan yang berlebihan--atas teroris bisa berakibat
warga imun, teroris menjadi masalah biasa--terasa 'familiar' (tak asing
lagi)--seperti masalah kehidupan sehari-hari lainnya!" ujar Umar. "Tak beda
dengan tayangan kekerasan yang berlebihan, membuat orang merasa terbiasa dengan
kekerasan, hingga tak lagi membuatnya merasa ngeri atau takut! Kemudian,
kekerasan jadi kebiasaan, bahkan dijadikan sebagai cara menyelesaikan masalah
atau mencapai tujuan!"
"Rasa 'familiar' warga terhadap teroris--dan kekerasan yang
dilakukannya--menjadi ancaman tersendiri bagi bangsa!" timpal Amir. "Apalagi
dengan kecenderungan yang terjadi atas Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra, dan
terakhir Dul Matin, kedatangan jenazahnya di kampung disambut sebagian warga
dengan spanduk yang mengelu-elukannya sebagai mujahid--pejuang kebenaran! Di
lain pihak, warga lainnya termasuk aparat, membiarkan hingga terkesan hal itu
soal biasa!"
"Bisa jadi ancaman, karena selain teroris jadi hal yang kian tak
menyeramkan lagi, istilah unik yang dipakai dibumbui penafsiran surgawi, juga
mudah menyesatkan warga yang lugu--pengetahuannya terbatas!" tegas Umar. "Dari
arakan menyambut jenazah Amrozi-Mukhlas dan Imam Samudra terlihat, simpatisan
mereka ramai juga! Siapa bisa menjamin di antara simpatisan itu tak ada yang
mengidolakan teroris, ingin mati seperti itu?"
"Lebih celaka lagi itu dilumasi ide-ide universal, semisal munculnya
penilaian, penembakan mati teroris melanggar HAM--hak-hak asasi manusia!"
timpal Amir. "Lewat wacana universal itu, bahkan warga yang merupakan korban
terorisme, bisa terpancing dan terjebak Stockholm Syndrom--korban berpihak ke
teroris penyanderanya!"
"Kesan teroris kian tak menyeramkan juga bisa merebak dari ditampilkannya
di televisi mantan teman-teman teroris yang telah insyaf kembali ke
masyarakat--terbukti mereka tidak menakutkan dan diterima warga tempat
tinggalnya!" tegas Umar. "Ini sebanding dengan yang ditangkap Densus 88,
sebelum jadi teroris ternyata mereka juga warga yang biasa-biasa
saja--contohnya Heru dan Sule, cuma dagang kopiah dan sajadah di Pasar Way
Jepara, Lampung Timur!"
"Karena itu, dengan realitas overdosis tayangan teroris justru telah
menjadi kebutuhan informasi warga, perlu disiasati agar kesan menyeramkan dan
menakutkan teroris tidak luntur!" tukas Amir. "Jangan seperti narkoba, tanpa
disadari merebak dalam sekali di masyarakat, seiring pasokan dari jaringan
internasional yang deras pula!" *
<<bening.gif>>
<<buras.jpg>>
