Kepercayaan Adalah Delusion Yang Berbahaya !!!
                                              
Tulisan saya ini sangat penting diketahui para pembaca karena merupakan 
deskripsi ilmiah yang menggambarkan pato-fisiologis dan anatomis daripapda 
angan2, kepercayaan, delusion, dan idea.

Sebelumnya, saya HARUS menjelaskan dulu definisinya DELUSION atau delusi atau 
dalam bahasa Indonesianya disebut "waham".  Contohnya, dalam bahasa Indonesia 
kita kenal istilah "waham kebesaran" yang dalam istilah psikiatrisnya disebut 
MEGALOMANIA.

Secara ringkas bisa dijelaskan, bahwa DELUSION itu adalah angan2 yang 
patologis, yaitu angan2 yang diyakini seseorang sebagai real bukan sebagai 
angan2.

Angan2 itu sendiri merupakan hal yang tidak real, tidak ada realitasnya, dan 
sering juga disebut sebagai dunia abstract.

Dunia periklanan juga menyebarkan angan2 yang realitasnya bisa ber-beda2, 
dimana satu orang bisa jadi menganggap angan2 iklan itu sebagai benar dan 
terbukti.  Bila apa2 yang diiklankan itu kita anggap sesuai dengan kenyataan 
realitasnya, maka angan2 tadi bukanlah delusion, tapi sebaliknya kalo angan2 
itu tidak berbukti kebenarannya  tapi oleh sebagian orang dianggap benar, maka 
disebutnya sebagai delusi atau waham.

Itulah sebabnya, dunia periklanan juga berbahaya yang harus diawasi penguasa 
karena bisa mengakibatkan banyak orang terhinggap "delusi".

Agama adalah kepercayaan, yaitu kepercayaan yang sama sekali tidak ada 
realitasnya, sifatnya tetap abstract tidak bisa berubah jadi real.  Dan apabila 
ada umat yang menganggapnya real, maka umat tsb sudah dihinggapi delusi, umat 
itu adalah penderita delusional yang merupakan angan2 patologis yang 
membahayakan umat lain dan umatnya sendiri.

Juga, ilmu pengetahuan mulanya juga adalah angan2 yang kemudian bisa berubah 
menjadi realitas atau ada realitasnya, karena itulah, angan2 yang bisa berubah 
menjadi realitas, atau angan2 yang ada realitasnya disebut sebagai IDEA.

Apabila anda nonton bioskop, theater, buku cerita, bahkan autobiografi orang2 
besar itu sekalipun juga merupakan angan2, dan angan2 ini ditanamkan oleh anda 
sendiri dimana sumber angan2 itu berasal dari orang2 lain yang mengekspresikan 
angan2nya kedalam filem, teater, buku cerita maupun autobiografi.  Dalam hal 
ini, angan2 yang anda dapatkan bisa anda sadari sebagai angan2 saja dan anda 
tetap menyadari bahwa realitasnya tidak ada, atau realitasnya tidak sama dengan 
apa yang ada di filem, buku cerita, atau autobiografi.

Angan2 menjadi berbahaya bagi anda atau bagi orang lainnya, apabila angan2 itu 
menjadi delusi, yaitu angan2 yang anda anggap sebagai real, anda yakini 
sepenuhnya sebagai realitas.

Pancaindera seperti mata, hidung, telinga, perasa, dan pengecap adalah 
merupakan receptor semua persepsi yang ber-beda2 yang sangat rentan dipengaruhi 
angan2.  Hal inilah yang sering digunakan dalam iklan, dalam sulap, dalam 
hipnotisme atau suggesti dll.  Termasuk disini adalah kepercayaan dan agama 
yang bisa mempengaruhi persepsi seorang individu.

Filem 3 dimensi adalah contoh pengecohan atau penipuan persepsi sehingga 
se-olah2 anda merasa berada dalam dunia real yang padahal adalah dunia angan2 
sang penciptanya.  Tapi penipuan persepsi seperti ini sepenuhnhya anda sadari 
dan anda nikmati.

Sebaliknhya, coba anda bayangkanlah, kalo dari jauh anda melihat ada orang yang 
berjalan ter-buru2 sambil membawa penggaris.  Persepsi mata anda diteruskan 
ke-otak menjadi bayangan atau angan2 dimana ada orang yang lari2 mengejar anda 
sambil bawa golok yang mau ditebaskan keleher anda.

Reflex anda, atau response anda selalu berasal dari persepsi yang tertangkap 
oleh pancaindera ini.  Akibat persepsi yang menghasilkan angan2 yang salah ini, 
akan menyebabkan juga reflex atau respons yang juga salah.

Apabila benar2 ada orang yang berlari mengejar dengan golok yang akan 
ditebaskan keleher anda, maka reflex atau response normal bisa saja anda cabut 
pistol dan menembaknya karena anda merasa diri anda terancam bahaya sehingga 
merasa perlu membela diri.  Dan akibatnya orang yang bersalah itu bisa mati 
tertembak sebelum membunuh diri anda.

Demikianlah, akan menjadi berbahaya kalo realitasnya ada orang yang berjalan 
ter-buru2 tetapi dipersepsikan oleh pancaindera anda sebagai orang2 yang 
ber-lari2 mengejar anda yang anda pahami ingin menebas leher anda, dan kemudian 
reflex atau response yang salah dengan menembak orang yang tidak bersalah itu 
hingga mati.  Angan yang patologis seperti inilah yang kita namakan sebagai 
DELUSI.

Delusi ini bisa terjadi akibat pengaruh obat2an, akibat depressi, akibat 
paranoid personality, akibat psikosis, dan yang penting anda ingat disini, 
bahwa delusi ini paling sering diakibatkan oleh kepercayaan kepada agamanya.  
Makin kuat kepercayaannya, makin tinggi daya rusak mentalnya kepada seseorang 
umat.  Dengan kata lain, makin kuat keimanannya, makin tinggi kemungkinannya 
menjadi penderita Delusi.

Memang, delusi ini tidak selalu membahayakan orang lain, ada kalanya, akibat 
delusi ini, seseorang mem-bagi2kan gaji bulanannya kepada pengemis hingga 
gajinya habis, isterinya ngomel2, dan apabila terjadi berulangkali, maka sang 
isteri bisa melaporkannya kepolisi untuk kemudian sang suami ditangkap dan 
diperiksa ke rumah sakit jiwa.  Sebaliknya kalo delusi-nya mengakibatkan 
pembunuhan atau meledakkan bomb seperti yang kerap dilakukan muslimin yang 
mengalami delusi ini, tentunya akan berbahaya bagi masyarakat dan juga bagi 
dirinya sendiri yang bisa ditembak polisi.

Oleh karena itu, kepercayaan agama yang anda sadari hanya sebatas kepercayaan 
saja yang tidak ada realitasnya, tidaklah berbahaya, bisa menjadi hiburan 
maupun pendorong kemajuan anda untuk menolong sesama sebagai nilai2 yang 
manusiawi.

Sebaliknya, kepercayaan agama yang salah yang ditanamkan sebagai realitas 
meskipun tidak ada buktinya, akan menjadi delusi yang menghancurkan lingkungan 
anda dan juga diri anda.

Brainwash itu adalah satu contoh cara dalam menyebarkan delusi kepada 
masyarakat maupun kepada tawanan musuh agar berubah persepsinya hingga 
menguntungkan kita.

Kalimat syahadat dalam Islam itu juga adalah contoh bagus untuk melakukan 
brainwash muslimin menjadi terorist.

Setiap kali kita mengucapkan syahadat berulangkali dalam setiap shalat "aku 
bersaksi bahwa....." padahal realitasnya tidak pernah menyaksikannya.  Hal ini 
akan menjerumuskan umat Islam menjadi penderita "delusi" yang parah akibatnya 
seperti yang terjadi pada para pelaku terror komando Jihad.

Itulah sebabnya, bagi para muslimin yang mengucapkan selalu kalimat syahadat 
berulang kali dalam semua shalat2nya, dirasakan kalimat syahadat itu menjadi 
mantera2 yang dirasakan telah merubah hidupnya se-olah2 berada dalam dunianya 
tersendiri yang asing baginya, tetapi diyakininya sebagai tempat disorga yang 
hanya diberikan Allah kepada mereka yang bertaqwa.

Ny. Muslim binti Muskitawati.



Kirim email ke