> a.wid...@... wrote: > Wah, itu sih etika moral bukan etika > bisnis...harusnya anda ngajar di kelas > ke rohanian..bisnis itu nyari untung > dari mutar modal..tidak ada yg salah > dgn meloby...itu untuk kelangsungan > bisnis..siapapun yg menang meloby...
Enggak bisa, itu justru melanggar etika bisnis, kemanapun juga anda tanya kepada pebisnis diseluruh dunia, mana ada yang membenarkan system monopoli seperti itu. Katanya untuk melindungi produksi mobil dalam negeri dilarang import mobil, tapi kalo ada yang mau beli mobil produksi dalam negeri waktu itu diharuskan inden setor duit dulu 60%, tunggu 5 tahun baru barangnya diserahkan, udah gitu masih nipu lagi, berat mobilnya 50% lebih ringan dari berat yang tertera di booklet manual-nya. Di Amerika bisnis monopoli dan nipu seperti ini dilarang keras, langsung izin bisnisnya dicabut. Aku tahu banget praktek kotor si William itu. Mobil knockdown yang di importnya itu enggak akan di assembling kalo belum ada yang bayar. Jadi semua knockdown itu waktu masuk pelabuhan tanjung priok dibiarkan aja enggak dibayar dulu pajak masuknya. Nantinya kalo ada pembeli satu2, maka onderdil dalam bentuk knockdown itu di "robber" di tanjung Priok tentu dengan menyogok petugas2 kelas teri disana. Akibatnya banyak mobil2 yang dijual Astra itu tidak bayar pajak dari mempreteli assembly part mobil2 itu satu persatu dari pelabuhan tanjung priok. Pokoknya masih ada 1001 cara tipuan yang merugikan konsumen yang dilakukan Oom William ini. Dia pelanggar hukum, pelanggar etika moral, penyelundup, dan spekulan yang selalu merugikan negara. Dia juga termasuk koruptor. Pelanggaran kepegawaian juga dilakukannya. Isteri William membuat usaha rantangan, dan makanan rantangannya ini dijual ke Astra dengan mencuri uang makan para pegawai di Astra. Akibatnya, semua pegawai Astra yang seharusnya dapat uang makan, jadi tidak dapat uang makan lagi karena disediakan makanan yang diushakan tante William ini. Ny. Muslim binti Muskitawati.
