Refleksi : Beberapa waktu lalu di Sumedang ditemukan ular pemakan mayat. Ular 
ini dimandikan dan didoakan oleh imam, kemudian dilepaskan. Kalau ular jenis 
ini dipelihara tak perlu cape-cape gali tanah untuk membuat kuburan, kasi saja 
mayat kepada ular, bisakah begitu?

http://www.antaranews.com/berita/1269933504/memburu-ular-maut-segede-tiang-listrik

Memburu Ular Maut Segede Tiang Listrik
Selasa, 30 Maret 2010 14:18 WIB | Artikel | Pumpunan | 
Munawar Mandailing

Lubang pembuangan limbah di pinggir Sungai Tembung yang diduga sarang ular 
piton raksasa pemangsa seorang murid SMP di Deli Serdang. (munawar 
mandailing/antara)
Medan (ANTARA News) - Sudah hampir dua minggu sejak memangsa M. Zakaria (13), 
murid SMP PGRI Deli Serdang, ular piton raksasa itu belum juga ditemukan. 
Selama itu pula, piton yang menurut warga pinggir Sungai Tembung ukurannya 
segede tiang listrik itu, hilang entah ke mana, kendati belasan pawang 
dikerahkan untuk memburunya.

Diperlukan kerja keras, keuletan dan kesabaran, untuk memburu binatang melata 
ganas yang sekarang begitu diperhatikan warga Deli Serdang itu. Warga daerah 
ini bersumpah, ular itu harus ditemukan.

Ular besar yang mendadak raib begitu gagal memangsa Zakaria itu tidak hanya 
membuat warga sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Tembung cemas dan takut, 
tetapi juga menyedot perhatian warga Sumatera Utara, bahkan Indonesia.

Pawang-pawang ular dari berbagai daerah di tanah air pun didatangkan untuk 
memburu dan melacak sang ular maut.

Warga daerah situ belum merasa aman hidupnya sepanjang ular besar yang raib 
bersembunyi itu tidak diketahui keberadaannya. Sebelum belasan pawang ular itu 
menemukan sang ular, ratusan jiwa orang warga pinggir Sungai Tembung tak akan 
pernah merasa hidup tenteram.

"Saya heran sampai saat ini, ular ganas itu belum juga didapat, tidak tahu apa 
alasannya. Saya takut akan jatuh lagi korban lainnya," kata Zulkifli (52), 
paman korban Zakaria di Tembung, Selasa.

Zulkifli menyatakan, tidak ada alasan untuk tidak menemukan piton sepanjang 
tujuh meter itu, karena kalau tidak, ratusan warga bisa mengalami nasib serupa 
dengan Zakaria, atau lebih buruk lagi, ditelan hidup-hidup si ular bengis itu.

Zulkifli sampai meminta Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Camat Percut Sei 
Tuan dan Kapolsekta Percut Sei Tuan turun menangani urusan ini.

"Pemerintah di daerah setempat jangan sampai membiarkan masyarakat yang tinggal 
di pinggiran DAS Tembung terus trauma dan takut keluar rumah," kata Zulkifli.

Jumat dua pekan lalu (19/3), sehari setelah Zakaria tewas diremukkan ular 
segede tiang listrik itu, pawang berhasil menangkap seekor ular di Sungai 
Tembung. Tetapi, ular ini ternyata bukan pemangsa Zakaria, melainkan ular lain 
yang biasa berkeliaraan di Sungai Tembung.

"Ciri-ciri ular pemangsa Zakaria itu berkulit agak hitam dan berukuran besar 
serta sebagian tubuhnya ada bekas luka tombak," terang Zulkifli.

Ular yang kena jerat itu memang lain dari si pemangsa Zakaria karena tubuhnya 
lebih mulus, warna kulit lebih putih dan tidak terlalu besar.

Sebelumnya, Kamis petang (18/3), warga sekitar Sungai Tembung digegerkan oleh 
seekor piton raksasa, telah memangsa pelajar SMP yang sedang mandi di sungai 
itu bersama tiga temannya, sepulang dari sekolah.

Piton yang diduga sedang sangat lapar itu dengan ganasnya melilit Zakaria yang 
sekuat tenaga pula berenang menjauhi dan keluar dari sungai. Piton itu 
membanting-bantingkan Zakaria di dalam sungai, hingga akhirnya pelajar SMP itu 
mati lemas.

Tiga kawan korban berhasil keluar dari sungai dan bergegas meminta bantuan 
warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi pemangsaan. Lalu, menggunakan bambu 
runcing, warga menombak kepala dan badan ular sampai lilitannya ke tubuh 
Zakaria melonggar.

Usaha warga tidak sia-sia. Si piton segera melepaskan korban yang sudah remuk 
dan tidak bernyawa lagi itu. Mulut piton ini sebenarnya sudah hendak menelan 
Zakaria. 

Ular itu menyelam untuk kemudian menghilang menuju terowongan persembunyiannya 
dan sampai saat ini tidak pernah keluar, demikian Zulkifli.

Trauma

Teman korban yang juga saksi pembunuhan brutal manusia oleh hewan itu, Khairil 
Asri (10), mengaku masih trauma. Dia masih lekat mengingat bagaimana temannya 
dipatok, dibelit dan nyaris ditelan piton besar itu.

"Sampai saat ini saya masih terus terbayang dengan peristiwa ular besar yang 
memangsa Zakaria. Pengalaman menyedihkan itu sulit dilupakan," ujar pelajar SD 
kelas IV yang juga warga Desa Tembung itu.

Khairil mengaku, dia tidak bisa tidur, bahkan tidak berani keluar rumah dan 
pergi bersekolah, kalau mengingat peristiwa itu.

"Pikiran saya juga tidak bisa tenang ketika membayangkan Zakaria yang nyaris 
ditelan ular besar itu," Khairil.

Dia mengaku menyaksikan langsung Zakaria dipatuk dan dililit ular raksasa 
tersebut. "Saya benar-benar ngeri dan sangat takut melihat ular besar yang 
melilit Zakaria itu," katanya.

Dia juga menyaksikan Zakaria dibanting-bantingkan oleh sang ular ke Sungai 
Tembung dan dililit empat kali, sampai lemas dan meninggal dunia seketika di 
sungai itu.

"Saat Zakaria masih digulung ular ganas tersebut. Zakaria masih sempat merintih 
meminta tolong. Tapi apa daya saya, saya masih kecil dan juga takut melihat 
ular yang menampakkan taringnya yang besar dan tajam itu," tutur Khairil.

Khairil hanya bisa menolong kawannya itu dengan cara memberitahu paman korban, 
Juhri Sihombing, bahwa keponakannya sedang di ujung maut.

Seterusnya, dibantu beberapa warga setempat, Juhri berusaha menyelamatkan 
Zakaria yang dililit erat si ular. Mereka berhasil melukai ular itu, dengan 
tombak dari bambu runcing. Lilitannya mengendur, dan Zakaria pun dilepaskannya.

Pawang

Seorang warga Tembung, Mualim M. Nur Alamsyah Nasution (45) meminta pawang ular 
yang saat ini berlomba memburu piton besar itu menangkap binatang ganas itu 
secepatnya.

"Bila perlu petugas Polsekta Percut Sei Tuan, staf Camat Percut Sei Tuan, staf 
Desa Sunggal dikerahkan mencari ular besar pemangsa itu," kata Alamsyah.

Menurutnya, piton sepanjang tujuh meter itu diduga bersembunyi di terowongan 
pembuangan limbah milik PT Panca Pinang yang hanya 50 meter dari Sungai Tembung.

Ular raksasa itu tidak hanya meresahkan warga di pinggiran DAS Sungai Tembung, 
tetapi juga membebani pikiran banyak orang.

"Bisa saja ular yang belum tertangkap itu akan semakin ganas memangsa warga 
yang sedang mandi atau mencuci di Sungai Tembung," kata Alamysah.

Ia mengharapkan Camat Percut Sei Tuan mendatangkan lebih banyak pawang yang 
lihai dari Pulau Jawa atau mencari pawang ular terkenal di Sumatera Utara.

"Jangan biarkan terlalu lama bersembunyi di dalam Sungai Tembung. Kalau boleh 
ular tersebut ditangkap hidup-hidup," ujarnya.

Alamsyah mengakui bahwa ular besar itu sudah lama menghuni dan berkeliaran di 
Sungai Tembung. Pada 1973, sewaktu duduk di bangku SD, untuk pertamakalinya 
Alamsyah menyaksikan ular besar itu.

15 tahun kemudian, pada 1988, Alamsyah melihat ular itu untuk kedua kalinya. 
Tentu saja ular itu belum sebesar seperti sekarang.

"Bisa saja ular yang dilihat saya itu adalah ular piton berukuran besar yang 
memangsa Zakaria. Kalau memang benar ular itu, maka usianya sudah puluhan 
tahun," demikian Alamsyah. 

Sampai tulisan ini dibuat, ular raksasa nan maut itu belum juga diketahui 
rimbanya, meski pawang-pawang ramai mencarinya. (*)


Baca Juga
  a.. Keluarga Ikut Buru Ular Pemangsa Zakaria
  b.. Pawang Jawa Dikerahkan Cari Ular Pemangsa Zakaria

<<20100401073839-sarang-piton.jpg>>

Kirim email ke