Kosong Itu Perlu Menempati Ruang Enggak ???
Inilah pertanyaan Einstein yang paling menakjubkan yang dikenal oleh para
ilmuwan. Untuk memahami pertanyaan ini selalu harus kita menguasai definisinya
dulu, tanpa definisi yang jelas akan membawa pemahaman yang ambiquity.
Ruang angkasa adalah ruang yang tidak ada batasnya, padahal perdefinisi yang
dinamakan "ruang" itu khan harus ada batasnya, kalo enggak ada batasnya maka
tidak lah disebut "ruang".
Semua materi menempati ruang, apakah yang bukan materi juga menempati ruang ?
Logikanya kalo ada materi tentu wajar menempati ruang, lalu gimana sesuatu yang
bukan materi, apakah juga menempati ruang. Kalo yang bukan materi itu kita
namakan kosong, akan muncul, apakah "Kosong" itu juga menempati ruang ??? Dan
apakah ruang kosong ini juga merupakan "Materi"????
Pertanyaan2 diatas ini adalah Jawaban Einstein tentang adanya Tuhan yang oleh
para ulama Nasrani dan Yahudi dianggap "Non-Materi".
Kalo "Non-materi" juga dianggap "Materi", maka ruang kosong juga menempati
ruang.
Kalo yang disebut "Materi" adalah "keberadaan" dan "Non-Materi" adalah
"Ketiadaan". Maka "ketiadaan" ini juga harusnya menempati suatu ruang.
Kalo ada ulama yang menganggap Tuhan sebagai Non-Materi atau ketiadaan, dan
dianggap harus juga menempati ruang, lalu gimana caranya mendeteksi ruang yang
tidak ada ini tapi menempati suatu ruang ??? Karena biarpun sesuatu itu tidak
ada, tapi kalo menempati suatu ruang, maka ruang itu harus bisa dideteksi
dengan cara mengukurnya.
Semua penjelasan diatas, pada akhirnya membawa kita kepada pembuktian adanya
ruang waktu yang tiga dimensi pada semua kekosongan ataupun keberadaan.
Artinya ruang angkasa yang tanpa batas itu bisa kita batasi dengan ukuran
waktu. Lebih lanjut lagi, ukuran waktu itu bisa diconversi menjadi panjang
gelombang. Artinya, Tuhan yang non-materi ini bisa dideteksi dengan mengukur
kekosongannya dalam dimensi waktu atau melalui ukuran panjang gelombangnya.
Kalopun dengan cara ini kemudian Tuhan bisa anda anggap sebagai terbukti ada,
maka keberadaannya sama sekali tidak perlu disembah, dan keberadaannya tidak
pernah mengirim utusannya. Juga tidak perlu mengirim wahyu dan perintah2
sebagai kesajibannya, apalagi membanjiri dunia kita dengan darah orang2 tak
berdosa untuk menegakkan Syariah Islam.
Umat beragama terjebak istilah yang dibuatnya sendiri padahal istilah materi
dan non-materi sudah lama tidak lagi digunakan didunia ilmu pengetahuan.
> hendri simatupang <bang_...@...> wrote:
> Jadi peralatan ukur yang pernah dibuat
> manusia juga tidak dapat memastikan
> bentuk jenis materi tsb.
> Manusia bisa saja membuat deskripsi
> berdasarkan pikirannya, dengan alat
> yang dibuatnya, untuk mengukur
> kebendaaan tsb. Tetapi harus ada
> kesepakatan baru bisa diterima bahwa
> ini materi atau immateri. Materialisme
> ini juga konsep jadi bisa diterima
> pada suatu sisi, tapi bisa berbeda
> pada sisi lain.. Jelas hanya konsep
> saja. Tapi memang lebih baik membahas
> science tanpa membawa fatwa agama, Koq
> Jhengis Khan bisa beragama Islam itu
> dari mana sumbernya...?
Karena ternyata istilah yang diciptakan ulama2 agama Nasrani tentang adanya hal
yang bersifat materi dan non-materi pada akhirnya menjadi deadlock setelah
terbukti yang tadinya dianggap non-materi ternyata adalah materi juga.
Namun ulama didunia Islam masih saja memenjarakan dirinya dalam istilah2
seperti materi dan non-materi ini untuk menyarukan agamanya se-olah2 sejalan
dengan ilmu pengetahuan (yang tidak disadari sudah tidak lagi menggunakan
istilah ini), se-mata2 cuma untuk kepentingan dakwah mempertahankan keimanan
umat meskipun dengan jalan menanamkan kebohongan2 yang sama sekali tidak bisa
dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Memang, pada hakekatnya agama Islam
bukanlah rujukan ilmiah seperti yang didambakan oleh umatnya.
Ny. Muslim binti Muskitawati.