http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=17043

2010-04-23
Prof Magnis Suseno Berdoa Tidak Perlu Izin Negara




sp/ignatius liliek

Maraknya isu pluralisme dan kebebasan beragama di Indonesia tak bisa dilepaskan 
dari beberapa nama tokoh nasional yang dikenal membela kaum minoritas. Selain 
mantan Presiden RI keempat, Abdurahman Wahid alias Gus Dur, Prof Magnis Suseno 
juga dikenal sebagai salah satu tokoh nasional yang membela kelompok minoritas 
melalui beberapa pandangan dan pemikirannya. Sebut saja, salah satu 
pemikirannya yang menyebutkan pluralisme bukan memandang semua agama sama, 
tetapi berbeda. 


Dalam sebuah diskusi khusus, Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Ilmu 
Falsafaf Driyarkara Jakarta, yang akrab disapa Romo Magnis ini kembali 
menegaskan bahwa pluralisme tidak bisa diartikan bahwa semua agama sama dan 
menganggap agama sendiri yang benar. Harus ada pengakuan terhadap keberadaan 
dan kebenaran agama lain dan menjunjung tinggi nilai universal yang dianutnya. 
Hidup di negara dengan ideologi pluralisme seperti Indonesia, Pancasila sebagai 
dasar negara dinilai sangat tepat. Seharusnya, pluralisme itu diterima sebagai 
kekayaan bangsa, bukan ancaman. 


Terkait dengan pembongkaran sejumlah tempat ibadah, dia pun berpandangan bahwa 
negara seyogianya tidak mencampuri urusan pribadi orang dengan Tuhannya. Orang 
berdoa tidak perlu izin negara. Pandangan Guru Besar Ilmu Falsafat ini dibentuk 
sejak mengikuti Konsili Ekumenis Vatikan Kedua (1962-1965) yang dibuka oleh 
Paus Yohanes XXIII. Salah satu hal yang diamanatkan di dalamnya adalah 
menjunjung tinggi kebebasan beragama. Agama lain mempunyai nilai yang harus 
dihargai oleh umat Katolik."Ini mempengaruhi saya waktu itu. Sejak itu saya 
benci prinsip fundamentalisme dan menganggapnya adalah kekeliruan yang serius. 
Inilah yang kemudian memudahkan saya bergaul dengan agama mana pun," katanya. 


Namun, hal itu tidak lantas membuat Romo Magnis membenci kelompok 
fundamentalis, yang dinilainya mempunyai pandangan picik terhadap Tuhan. 
Kelompok fundamentalis sebenarnya ada di semua agama. Bahkan, sebelumnya ia 
mengakui sempat tergoda dengan fundamentalis Kristiani, yang seolah tahu persis 
siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak. "Sebenarnya, Yesus pun jelas tidak 
ingin manusia menganggap diri mampu mengatakan diri masuk ke surga atau tidak. 
Serahkan kepada Tuhan, dan bersyukurlah jika satu tempat disediakan bagi kita," 
ujarnya. 

Ingin Berbagi Pemikiran
Dengan motivasi tunggal, yakni hanya berkarya untuk kemuliaan Tuhan, pastor 
yang memilih menetap di Indonesia sejak 29 Januari 1961 silam itu tidak ingin 
memikirkan persoalan pribadi. Ia hanya ingin membantu lebih banyak orang datang 
kepada Tuhan. 
Salah satunya dia tunjukkan dengan terus mengajar dan menulis meski kini 
usianya sudah memasuki kepala tujuh. Melalui mengajar dan menulis, dia ingin 
menyampaikan dan membagikan pemikirannya, terutama tentang filsafat, kepada 
lebih banyak orang. 
Di samping lebih dari 400 karangan populer dan ilmiah, Romo Magnis juga sudah 
menulis sebanyak 34 buku. Terutama di bidang etika, filsafat politik, dan 
pandangan dunia Jawa. 


Salah satu bukunya yang terkenal hingga ke negara asalnya, Jerman, adalah buku 
Etika Jawa. Buku ini terbit pertama pada tahun 1981 dalam bahasa Jerman, 
kemudian baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Buku 
terakhirnya yang terbit pada tahun 2009 adalah Menjadi Manusia, Belajar dari 
Aristoteles, yang memberikan petunjuk bagaimana memperoleh hidup yang 
sederhana. Sudah dua pertiga usianya dihabiskan di Indonesia. Dia sangat 
menyukai Indonesia sebagai negara yang indah dan menyenangkan. Indonesia 
dikenalnya dari surat-surat yang dikirimkan anggota tarekat Serikat Yesus atau 
Ordo Yesuit yang sudah lebih dahulu melayani di Indonesia. 


Romo Magnis memilih menjadi rohaniawan muda Katolik di Ordo Yesuit, Serikat 
Yesus yang berkarya demi gereja dan bersifat internasional, setelah menamatkan 
pendidikannya di Humanistisches Gymnasium, setingkat SMA pada usia 19 tahun.


Setelah mendalami studi filsafat, sebagaimana berlaku umum di lingkungan Ordo 
Yesuit dan meraih gelar akademik Bakalaureat dan Lizentiat, Romo secara resmi 
ia mengajukan lamaran berkarya di Indonesia. Lamarannya ditujukan kepada 
pemimpin Setikat Yesuit di Roma, dan ternyata dikabulkan. "Sekarang saya berada 
di tempat yang cocok dengan saya, dan Tuhan menghendaki saya di sini, dan 
inilah yang memberi semangat kepada saya. Puncak kebahagiaan saya tentu bahwa 
saya merasa dalam Yesus, Allah menerima para pendosa, dan saya percaya di dalam 
Yesus, apa pun yang terjadi itulah yang terbaik bagi saya," katanya. 
[SP/Dina Manafe]

Franz Magnis Suseno SJ
Lahir : Eckersdorf, Jerman 26 Mei 1936 
Orangtua : Dr Ferdinand Graf von Magnis ( Ayah)
Maria Anna Grafin von Magnis (Ibu)
Pendidikan Akademik : 
- 1957-1960: Studi Filsafat 
di Philosophische Hochschule Pullach. 
- 1964-1968: Studi Teologi 
di Institut Filsafat Teologi di Yogyakarta. 
- 1971-1973: Studi doktoral 
di Ludung Maximilians Universitat, Munchen. 
Instansi Tempat Kerja : 
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. 
Penghargaan : 
1. Satyalancana Dundyia Sistha 
dari Menhankam 24-11-1986. 
2. Das grobe Verdienstkreuz des 
Verdienstordens Republik Federasi Jerman.

Kirim email ke