http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=20233
Jum'at, 11 Juni 2010 , 05:09:00 Sumbangan Bauksit Capai Rp9,5 M Setahun Jatah Jakarta 20 Persen, Pemprov Kalbar Hanya 16 Persen Kepala Dinas Distamben Kalbar, Ir H Agus Aman Sudibyo MM. (Dokumen/Equator)PONTIANAK. Emas hitam nama lain bauksit sumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalbar selama tahun 2009 mencapai Rp9,5 miliar. Demikian kata Ir H Agus Aman Sudibyo MM, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kalbar, Kamis (10/6). Diterangkannya Pemasukan sektor pertambangan itu diperoleh dari dua bentuk retribusi yang ditarik pemerintah. Masing-masing, iuran tetap (landrent/deadrent), serta iuran eksploitasi (royalti). "Pemasukan iuran tetap sepanjang 2009 sekitar Rp889,8 juta. Sedangkan pemasukan iuran eksploitasi mencapai Rp8,7 miliar," papar Agus, mantan Kadishut Kalbar ini dijumpai Equator di ruang kerjanya. Iuran tetap adalah iuran yang dibayarkan kepada Negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum, study kelayakan, konstruksi, eksplorasi dan eksploitasi. Iuran ini diberlakukan pada suatu wilayah kuasa pertambangan, kontrak karya, atau perjanjian karya pengusahaan pertambangan, terutama jenis batubara. Iuran eksploitasi adalah iuran produksi yang dibayarkan kepada Negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan eksploitasi sesuatu atau lebih bahan galian. Iuran ini berbentuk wajib dan mengikat. Selain kedua iuran ini, masih ada iuran lainnya, yakni iuran eksplorasi. Iuran eksplorasi adalah iuran produksi yang dibayarkan kepada Negara, dalam hal pemegang kuasa pertambangan, kontrak karya. Kemudian perjanjian karya pengusahaan pertambangan mendapat hasil berupa bahan galian yang tergali atas kesempatan eksplorasi dan study kelayakan yang diberikan kepadanya. Pemasukan sebesar Rp9,5 miliar yang diterima pemerintah sepanjang 2009 bukan pemasukan bersih. "Angka itu harus dibagi sebanyak 20 persen ke Pemerintah Pusat, dan 80 persen ke pemerintah daerah. Rincian dari 80 persen ini, 16 persen untuk Pemerintah Provinsi. Sebanyak 32 persen untuk kabupaten/kota tempat pertambangan beroperasi, dan 32 persen lagi untuk kabupaten/kota lain dalam satu provinsi," kata Agus. Berdasarkan data Distamben Kalbar, potensi bahan tambang yang dimiliki daerah ini mencapai 27 jenis. Potensi itu menyebar hampir merata di 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar. Dari segi eksploitasi dan eksplorasi, jenis bahan tambang yang sering ditambang sebanyak 10 macam, meliputi emas, timah hitam, bauksit, mangan, zircon, ball-clay, kaolin, granit, serta pasir sungai. Dari keseluruhan jenis bahan tambang ini, bauksit menyumbang pendapatan terbesar. Bauksit terdapat di Kabupaten Sanggau, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten Bengkayang. Total kandungan bauksit diperkirakan melebihi 895 juta ton. Emas merata di Kalbar. Total kandungan emas diperkirakan mencapai 590 juta gram atau sekitar 590 ton. Timah hitam dan besi hanya dijumpai di Kabupaten Ketapang. Cadangan kandungan timah hitam diperkirakan mencapai 300 ribu ton, dan kandungan besi diperkirakan mencapai 103 juta ton. Bahan tambang jenis zircon menyebar di seluruh Kalbar. Total kandungannya diperkirakan mencapai 5 ribu ton. Bahan tambang jenis Mangan hanya dijumpai di Kabupaten Bengkayang dengan total kandungan lebih 2 juta ton. Untuk bahan tambang jenis kaolin, granit, dan pasir sungai, juga merata di seluruh Kalbar. Kandungan kaolin diperkirakan mencapai 317 juta ton, pasir sungai lebih 17 miliar ton, dan granit lebih 1 triliun ton. Sementara untuk ball-clay, hanya terdapat di Kabupaten Ketapang. Total kandungan ball-clay yang masih tersedia di wilayah itu cukup menjanjikan untuk dilakukan kegiatan eksploitasi dan eksplorasi, yakni melebihi 7 juta ton. Hingga sekarang, Distamben mencatat ada sekitar 481 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang sudah diterbitkan untuk kegiatan pertambangan di Kalbar. Izin itu terbagi atas 356 IUP eksplorasi, dan 125 IUP eksploitasi. Menurut Agus, perusahaan pertambangan di Kalbar yang melakukan kegiatan eksploitas kebanyakan tidak menargetkan pasaran lokal. Artinya, setiap bahan tambang yang mereka tambang jarang dijual untuk kebutuhan lokal Kalbar, kecuali bahan tambang jenis emas. "Rata-rata hasil tambang itu dimanfaatkan untuk eksport. Tapi sebagian diantaranya ada juga untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri," tutur Agus tanpa menjelaskan secara rinci jenis hasil tambang untuk kebutuhan dalam negeri itu. Dari seluruh kegiatan eksplorasi dan eskploitasi bahan tambang di Kalbar, Distamben berharap ada peningkatan pendapatan yang bisa diperoleh pemerintah ditahun-tahun mendatang. Harapan ini tampaknya bukan hal mustahil diwujudkan jika pengelolaan sektor pertambangan di daerah ini terus dibenahi dan dimaksimalkan. "Tahun 2010 ini, kita memprediksi penerimaan mencapai Rp10 miliar, atau meningkat sebanyak Rp500 juta dibandingkan tahun lalu. Prediksi ini kita susun berdasarkan laporan pemengan kuasa pertambangan," pungkas Agus. (bdu
