Refleksi : Kalau modal intelektual (IPM) NKRI di bawah Palestina tak perlu 
dihebohkan karena dengan begitu bagus bisa dikirim team studi banding DPR/MPR 
untuk belajar mengetahui mengapa dan bagaimana mereka bisa lebih intelektual 
sekalipun berada dalam suasana konflik.

http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010060906355416

      Rabu, 9 Juni 2010 
     

      BURAS 
     
     
     

Modal Intelektual, IPM Indonesia di Bawah Palestina!


       
      "PADA persaingan dunia yang menajam dalam ekonomi berbasis pengetahuan, 
kekuatan modal intelektual menjadi penentunya. Tapi, indeks pembangunan manusia 
(IPM) Indonesia justru di urutan 111 dari 180 negara (data PBB 5 Oktober 2009), 
di bawah Palestina di urutan 110," ujar Umar. "Peringkat itu di bawah Singapura 
(23), Kuba (51), Meksiko (53), Libia (55), Malaysia (66), Brasil (75), Bosnia 
(76), Thailand (87), China (92), dan Filipina (105)."

      "Itu terlihat pada ekspor kita yang masih bahan mentah, dari kopi, lada, 
karet, sampai cokelat! Sedang Malaysia, sudah jadi pengekspor terbesar dunia 
semikonduktor-tinggi muatan pengetahuannya!" sambut Amir. "Modal intelektual 
itu investasi jangka panjang, terdiri dari sumber daya manusia berkualitas, 
cara berhubungan yang baik dan berkelanjutan, serta organisasi yang baik untuk 
memberi nilai tambah dalam perekonomian!"

      "Investasi buat modal intelektual yang terpenting, usaha peningkatan 
kesehatan masyarakat dan pendidikan!" tegas Umar. "Bagaimana kesehatan rakyat 
mau meningkat kalau jatah berasnya sekelas makanan ternak, mayoritas anak 
fisiknya tak berkembang normal, peningkatan kecerdasan terhambat! Sedang 
pendidikan diliberalisasi lewat komersialisasi, banyak anak keluarga tak mampu 
yang kebetulan cerdas pendidikannya kandas!"

      "Itu belum cukup!" timpal Amir. "Anak desa yang kreatif punya impian 
besar dihambat pembatasan urbanisasi kota besar, hingga kota besar jenuh dengan 
rutinitas, langka impian segar, bangsa kian tertinggal jauh dalam modal 
intelektual!"

      "India, justru menyadari IPM-nya rendah (urutan 134) tidak ketat 
membatasi urbanisasi!" sambut Umar. "Itu menjadi kunci, meski IPM rendah, India 
maju dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang mengatrol ekonomi negerinya tumbuh 
di atas 8 persen! Film Slumdog Millionaire manifestasinya, anak gelandangan 
mampu menjawab hingga pertanyaan terakhir Who Want to be Millionaire!"

      "Televisi News Asia melaporkan, Bollywood bisa bertahan juga oleh 
dukungan darah segar impian anak desa!" tegas Amir. "Juragan film di Mumbai 
proaktif mencari ide-ide baru dari desa! Satu contoh, seorang pemuda desa 
membawa video demo, bukan hanya cerita dari demo itu yang diangkat! Aktris 
alami dalam demo itu dijemput ke desa untuk dijadikan bintang sinetron! 
Terakhir, gambar artis itu jadi iklan Nokia untuk India!"

      "Pokoknya, banyak hal harus kita benahi untuk memperkuat modal 
intelektual dalam persaingan global!" timpal Umar. "Kalau terus melawan arus 
pembangunan SDM yang salah kaprah ini, kita bisa kian jauh tertinggal!" ***

      H. Bambang Eka Wijaya
     

<<bening.gif>>

<<buras.jpg>>

Kirim email ke