Refleksi : Jumlah partai politik tidak akan menentukan efektifnya pemerintah, 
apabila para petinggi partai politik terdiri dari oknom-oknom kleptokratik.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?category_name=Opini

      YUNARTO WIDJAYA
      Pemerintahan Efektif dengan 3-4 Parpol 



      Sabtu, 26 Juni 2010

      Pada pertengahan Juni 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap kinerja menteri di Kabinet 
Indonesia Bersatu (KIB) II.

      Isyarat reshuffle itu boleh jadi mengagetkan banyak kalangan. Rakyat akan 
menduga-duga bahwa Presiden SBY sedang membidik seseorang atau beberapa 
menterinya. Pernyataan Presiden ini pun bisa jadi peringatan bagi partai 
politik yang mendapat porsi menteri di kabinet. 

      Isu reshuffle bukan hal baru lagi dalam pemerintahan Presiden SBY dan 
Wakil Presiden Boediono. Memasuki bulan kedelapan pemerintahan SBY-Boediono, 
isu reshuffle telah tiga kali menggelinding ke publik. 

      Pertama, isu reshuffle KIB II pada 100 hari pemerintahan. Bahkan, isu itu 
terkesan panas menyusul terkuaknya skandal Bank Century yang diduga melibatkan 
Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (sekarang Direktur 
Pelaksana IMF). 

      Sebenarnya, seberapa penting reshuffle menteri itu bagi Presiden SBY? 
Apakah langkah tersebut akan menjawab persoalan negara sekaligus mampu 
mengefektifkan pemerintahan? Berikut petikan analisis pengamat politik Yunarto 
Widjaya dari Charta Politika yang disampaikan kepada wartawan Harian Umum Suara 
Karya Feber Sianturi dan fotografer Andry Bey di Jakarta, Kamis (24/6). 

      Presiden SBY mengisyaratkan reshuffle. Menurut Anda?

      Reshuffle kabinet dalam suatu pemerintahan bukan lagi hal baru. Dan, ini 
pernah terjadi pada pemerintahan SBY periode 2004-2009. Wajar saja, Presiden 
mencopot dan mengganti seorang atau beberapa pembantunya (menteri) karena itu 
memang merupakan hak prerogatif seorang presiden. 

      Apakah reshuffle akan mengefektifkan pemerintahan?

      Bisa yes dan bisa no. Semua akan dikembalikan kepada Presiden, bagaimana 
caranya mengelola alasan untuk melakukan reshuffle itu sehingga tidak akan 
mengganggu pemerintahan. Tapi, dengan lebih sedikit parpol atau 3-4 parpol 
mitra koalisi di dalam pemerintahan maupun mitra koalisi di parlemen, maka akan 
lebih mengefektifkan pemerintahan. Intinya, 50 persen plus satu sudah cukup 
efektif. Tapi, dengan adanya PPP dan PKS, koalisi itu 74,5 persen. 

      Partai apa saja yang ideal menjadi koalisi? Partai Demokrat, Golkar, dan 
Partai Amanat Nasional (PAN). Tiga partai ini telah menguasai 50 persen suara 
di parlemen. Jika ditambah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), akan lebih kuat dan 
masih dalam kategori efektif. 

      Adakah alasan kuat melakukan reshuffle?

      Ada dua alasan dan bahasan, yakni melalui prerogative (hal prerogatif 
presiden) dan 3C (competency, cluster, dan chemistry). 

      Bisa dijelaskan?

      Pertama, normatif tentang hak prerogatif. Dalam sistem politik yang 
mengadopsi sistem presidensial, presiden punya hak kewenangan penuh untuk 
melakukan reshuffle. Sebab, ia (presiden) punya hak prerogatif itu sehingga 
bisa membuat keputusan apa pun. Idealnya seperti itu. 

      Bagaimana dengan kekuatan alasan reshuffle 3C?

      Meski sistem politik Indonesia masuk pada tataran politik praktis, 
setidaknya 3C mengeliminasi apresiasi negatif yang mungkin akan muncul apabila 
presiden melakukan reshuffle. Pertama, competency (kemampuan atas tugas dan 
kinerja). Jika pencopotan seorang atau beberapa menteri didasarkan atas 
kinerja, itu wajar-wajar saja dan pantas didukung, dengan harapan menteri yang 
dipilih sebagai pengganti memiliki kemampuan lebih baik. 

      Kedua, cluster. Indonesia sudah punya tradisi membentuk kabinet 
berdasarkan kepentingan kelompok. Dalam hal ini ditekankan bagaimana 
mengakomodasi kepentingan perempuan, persentase untuk wilayah timur, persentase 
untuk kalangan minoritas, persentase untuk partai politik dan profesional. 

      Sementara itu, untuk alasan kuat ketiga, yakni chemistry terkait 
loyalitas dan kedekatan presiden dengan menteri dalam melaksanakan program. 
Jika tidak ada kedekatan dan loyalitas, akan sulit menjalankan program 
pemerintah. 

      Adakah kemungkinan Presiden menggunakan alasan 3C untuk me-reshuffle 
kembali kabinetnya?

      Nah, kita lihat nanti seperti apa. Tapi, tiga hal itu seharusnya tetap 
menjadi patokan bagi Presiden. Saya melihat 3C memiliki unsur-unsur di luar 
kompetensi yang terjadi sekarang. Terkait masalah chesmistry tadi, apakah 
menteri-menteri beberapa parpol akan di-cut keberadaannya karena faktor 
chemistry tadi yang tidak sesuai lagi dengan parpol itu sendiri ataupun dengan 
Presiden? Atau, chemistry itu secara kompetensi tidak bekerja. Ini tentu saja 
harus dicermati secara lebih mendalam untuk dijadikan alasan oleh Presiden 
dalam melakukan reshuffle. 

      Bisa dicontohkan?

      Kasus yang bisa menjadi pertimbangan dari faktor chemestry itu seperti 
masalah Century. Masalah Century bisa menjadi penilaian sendiri bagi Presiden. 
Kita bisa melihat bagaimana teman-teman dari PPP dan PKS yang dari awal 
terkesan setia kepada Presiden, namun pada kasus Century, PPP dan PKS ada di 
dua kaki. Ini menjadi pertanyaan besar bagi Presiden. 

      Pasca-Century, muncul Setgab (Sekretariat Gabungan). Analisis Anda?

      Terbentuknya Setgab menunjukkan konstelasi baru dalam koalisi yang 
dibentuk Presiden. Apalagi, Setgab telah menempatkan Golkar pada posisi yang 
lebih kuat. Bisa jadi, ini menjadi daya tawar "bagi-bagi" partai-partai yang 
lebih kuat, termasuk alasan kuat bagi Partai Demokrat dan Presiden SBY. Golkar, 
Demokrat, dan Presiden SBY menjadikan Setgab sebagai bargaining position yang 
kuat. 

      Berdasarkan indikator di atas, berarti terbuka reshuffle?

      Dengan berdasarkan indikator-indikator itu, kemungkinan besar terjadi 
reshuffle. Tapi, tidak sekarang ini, Juni. Kita tahu sendiri, SBY ini orang 
yang selalu melihat momentum yang tepat dan setepat-tepatnya dalam membuat 
kebijakan yang cukup berpengaruh di hadapan masyarakat dan bangsa. Dia akan 
melihat persepsi dan reaksi publik dulu. 

      Mengapa SBY harus menundanya?

      Kalau dia (SBY) melakukan sekarang, saya kira SBY memprediksi akan 
mendapatkan reaksi yang cukup keras dari publik. Tudingan akan muncul bahwa 
reshuffle itu seakan-akan aksi balas dendam atau tindakan reaktif dari sikap 
Presiden atas tindakan parpol mitra koalisi yang tidak konsisten. 

      Sebaiknya kapan (reshuffle) bisa dilakukan?

      Bisa terjadi reshuffle itu pada September 2010. Pada bulan itu, genap 
satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Ini menjadi agenda tetap dan beralasan 
kuat untuk memasukkan argumentasi kepentingan SBY atas nama pembangunan 
Indonesia ke depan. 

      Apakah alasan itu sudah cukup kuat?

      Tentunya, kinerja menteri selama satu tahun didasari alasan evaluasi 
kinerja menteri yang bersangkutan. Argumentasi rasional bahwa harus ada 
evaluasi terhadap kinerja kabinet. Saya melihat, kalau ini yang akan menjadi 
pertimbangan dan akan dilakukan Presiden, saya melihat PKS dan PPP sedikit pada 
posisi lemah. Mereka harus hati-hati karena posisi mereka saat ini tidak 
terlalu aman. 

      Mungkinkah PKS dan PPP menerima begitu saja?

      Seharusnya seperti itu, mereka menerima sesuai pakta integritas. Apalagi, 
bola itu ada di tangan SBY. Pakta integritas yang selalu didengung-dengungkan 
SBY dkemukakan di depan publik. Dalam arti, SBY memiliki otoritas sendiri. 
Berarti SBY bisa menilai. SBY memiliki otoritas secara penuh untuk memainkan 
argumentasi apa pun yang akan dikeluarkan guna melakukan reshuffle. Nah, saya 
ingin apakah yang akan dilakukan Presiden seperti itu. ***  

--------------------------------------------------------------------------
     

Kirim email ke