http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2010081607380316
Senin, 16 Agustus 2010
BURAS
Ramadan Bulan Penuh Hidayah!
"DENGAN hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan 17 Ramadan,
hari Nuzulul Quran (Buras [15-8]), hari kemerdekaan kita itu pun puncak
hidayah-turunnya ilmu pengetahuan-pencerahan Ilahiah!" ujar Umar. "Sejalan
dengan itu, setiap Ramadan negeri kita juga menjadi bulan penuh hidayah,
tadarus membaca Alquran dilakukan saksama setiap malam di masjid-masjid,
surau-surau, maupun rumah-rumah!"
"Semoga hidayah pencerahan Ilahiah menyinari bangsa Indonesia yang
memperingati 65 tahun kemerdekaan di bulan Ramadan! Amin!" timpal Amir. "Siklus
pertemuan hari kemerdekaan dan Ramadan yang penuh hidayah membersitkan harapan
kembalinya hidayah yang mencerahkan para pemimpin bangsa seperti pada bapak
pendiri Republik Indonesia, yang berkat kemerdekaannya menempatkan Indonesia
menjadi lokomotif penghela kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah di dunia!"
"Dalam konteks kekinian, kita bisa menemukan titik restart yang baik dan
benar hingga mampu mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain yang dahulu
di belakangnya, dan menyalip emerging countries atau BRIC-Brasil, Rusia, India,
China-bahkan membuat loncatan fenomenal di balik decline industri yang
mengadang negara-negara maju!" sambut Umar. "Untuk itu, selaras dengan tumpuan
harap pada hidayah, para pemimpin masa kini sewajarnya istikamah, dengan
ikhlas, sungguh-sungguh dan jujur untuk reorientasi-memurnikan semua tugas dari
segala kepentingan politik kekuasaan golongan atau pribadi dengan selubung
retorika, menjadi semata-mata demi kepentingan rakyat dan kemajuan negara!"
"Hanya dengan demikian hidayah yang digapai lewat tadarus Ramadan
seantero negeri mungkin mengkristal dengan binar cahaya yang cerah menerangi
titik restart pada langkah yang tepat dan benar untuk membawa bangsa ini keluar
dari tumpukan masalah yang dari hari ke hari terus semakin ruwet!" tegas Amir.
"Artinya, Ramadan penuh hidayah yang hadir bersama hari kemerdekaan bangsa,
perlu disikapi dan dimaknai sesuai bobot tantangan yang dihadapi, bukan sekadar
basa-basi atau retoris belaka!"
"Dengan intensnya tadarus seantero negeri, jika para pemimpin benar-benar
tulus berusaha menggapai pijar cahaya (nur) hidayah yang menerangi jalan keluar
bagi bangsa intuk dari keterpurukan berkepanjangan, bahkan mukjizat pun sebagai
tanda kemahaagungan-Nya bukan mustahil dihadirkan-Nya!" timpal Umar. "Seperti
mukjizat kemerdekaan yang telah Dia karuniakan kepada bangsa Indonesia!"
H. Bambang Eka Wijaya