http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65699:kekejaman-belanda-terhadap-imigran-china&catid=78:umum&Itemid=131


      Kekejaman Belanda terhadap Imigran China        
      Oleh : Maulana Syamsuri 

      Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 di 
Jakarta, bukanlah hadiah dari penjajah Belanda, bukan hadiah dari Jepang, 
Inggris atau sekutu dan bukan pula jatuh dari langit atau lahir dari lampu 
Aladin, namun sebagai hasil perjuangan seluruh komponen rakyat Indonesia.

      Sejarah mencatat ,bahwa perang rakyat melawan penjajah terjadi di seluruh 
wilayah Nusantara, yakni perlawanan rakyat Demak yang dipimpin Dipati Unus 
menyusul pemberontakan Ternate yang dipimpin Sultan Harun, Perlawanan rakyat 
Aceh yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda, Tengku Cik Ditiro, Cut, Meutia . 
Menyusul perlawanan rakyat Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung, kemudian 
pergolakan rakyat Banten yang dipimpin Sultan Agung, Perlawanan rakyat Makasar 
dibawah pimpinan Sultan Hasanuddin, juga rakyat Maluku yang dipimpin Kapiten 
Pattimura, Di Sumatera Barat perang melawan Belanda dipimpin oleh Tuanku Imam 
Bonjol, Diponegoro memimpin perjuangan rakyat Mataram, Rakyat Sulawesi Selatan 
berperang melawan Belanda dipimpin oleh Sultan Bone dan rakyat Kalimantan 
dipimpin oleh Pangeran Antasari sementara di Bali dipimpin oleh I Guti Ketut 
Jelantik dan di Sumatera Utara, perang melawan Belanda di pimpin 
Sisingamangaraja XII.

      Setiap memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, seluruh 
rakyat Indonesia akan terkenang kembali pada penjajah yang pernah menduduki 
wilayah Nusantara yang menyebabkan seluruh rakyat menderita selama 
bertahun-tahun.

      Selama tidak kurang dari 350 tahun Belanda menjajah negeri ini dan 
menguras kekayaan bumi persada untuk kemakmuran negerinya.

      Harga rempah-rempah yang terus mengalami kenaikan telah mendorong Staten 
Gerenall atau Parlemen Belanda mengusulkan agar semua perusahaan pelayaran 
membentuk sebuah kongsi dagang dan terbentuklah perserikatan Maskapai Hindia 
Timur bernama Vereenigde Oost Indiche Compagne atau yang lebih dikenal dengan 
nama VOC berpusat di Amsterdam, Belanda.

      Hak-hak istimewa yang dimiliki VOC adalah monopoli dagang di wilayah 
antara Amerika dan Afrika termasuk Indonesia. VOC juga memiliki hak angkatan 
perang dan mem bangun benteng pertahanan. VOC juga berhak berperang dan 
menjajah. Juga hak mengangkat pegawai serta hak melakukan peradilan serta 
mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri.

      Pada dasarnya VOC adalah organisasi perusahaan pelayaran, tapi pada 
kenyataannya mereka menjajah, memiliki pasukan perang, membuat peradilan dan 
mencetak uang sehingga timbullah perbuatan sewenang-wenang di daerah 
kekuasannya.

      Tahun 1618 Gubernur Jenderal Jan Pieterzooen Coen, menyerang kerajaan 
Banten dengan mengirimkan 17 kapal perang dan pihak Belanda dibantu oleh 
tentara Inggris. Pangeran Jayakata mundur bersama pasukannya, sejak saat itulah 
Jayakarta dinamakan Batavia dan menjadi pusat pemerintahan Belanda di Nusantara 
ini serta pusat kegiatan VOC. Dari hasil VOC di Batavia, Den Haag mendapat 
kiriman uang 30 persen dari seluruh anggaran belanja negeri itu.

      Perlawanan Etnis China Terhadap Belanda

      Sejak awal abad ke 17, sebelum penjajah Belanda menjejakkan kakinya di 
Indonesia, hubungan yang erat telah terjadi antara Bangsa Indonesia dan China, 
terutama dalam hal perdagangan. Pada saat itu orang-orang China telah membuka 
jalur perdagangan di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan pulau-pulau lainnya di 
Nusantara. Kebanyakaan imigran etnis China datang ke Nusantara ini adalah 
laki-laki dan mereka menikah dengan perempuan setempat, mengikuti pola hidup 
masyarakat setempat dan mengikuti adat budaya lokal. Keturunan mereka lahir, 
sekolah, bekerja, menikah dan mati di negeri ini. Bahkan banyak di antara 
imigran maupun keturunannya tidak lagi mengerti bahasa nenek moyangnya, China.

      Menurut Prof. H.M. Hembing Widjayakusuma, dalam bukunya Pembantaian 
Massal 1740, Tragedi Berdarah Angke, yang diterbitkan oleh Pustaka Obor 
Jakarta. Beliau menulis, bahwa keturunan China adalah nadi perekonomian kota 
Batavia. Tanpa Etnis China, Batavia adalah kota mati dan kehilangan pesonanya. 
Itulah sebabnya warga China mendapat perlakuan yang istimewa dari Belanda. 
Perekonomian dan pasar benar-benar pada saat itu dikuasai orang-orang China. 
Apalagi dalam hal pengadaan gula. Dimana pabrik gula di Jawa sebagian besar 
dimiliki oleh warga China

      Pada tahun 1683 terdapat 130 pabrik gula, 125 di antaranya adalah milik 
imigran China, 4 pabrik milik orang Belanda dan 1 pabrik milik orang Jawa. 
Dalam hal pelayanan publik kalangan etnis China juga mendapatkan hak-hak 
istimewa dan banyak kemudahan.

      Demikian pula dalam hal tempat tinggal. mereka selalu mendapatkan tempat 
bermukim di kawasan elit, strategis untuk mendirikan toko, usaha dan pabrik. 
Namun situasi manis itu tidak selamanya berlangsung. Banyak hal yang 
menyebabkan sikap Belanda terhadap imigran China berubah. Terutama disebabkan 
kemampuan etnis China dalam berdagang maupun berbaur dengan warga bumiputera 
yang menimbulkan kekhawatiran Belanda bahwa mereka tidak dapat menguasai bumi 
Nusantara sepenuhnya. Hal ini disebabkan penduduk setempat lebih bersimpati 
kepada etnis China ketimbang kepada Belanda.

      Lambat laun Belanda mempersulit pelayanan dan sikap mereka terhadap etnis 
China. Jumlah Imgiran baru yang datang dari Tiongkok dibatasi, biaya masuk 
dinaikkan ratusan persen, pajak warga China juga naik berkali-kali lipat.

      Penekanan dan penindasan mulai dilakukan Belanda terhadap imigran China. 
Terutama terhadap imgiran yang tidak memiliki ketrampilan diberlakukan 
semena-mena. Penangkapan , penculikan dan penyiksaan mulai dilakukan Belanda 
sehingga banyak etnis China hidup dalam ketakutan dan kegelisahan.

      Moral etnis China juga diracuni dengan pemberian Opium atau obat bius 
sehingga banyak imigran yang bermalas-malasan akibat opium sehingga banyak 
etnis China melakukan tindakan kriminal karena butuh uang untuk membeli opium.

      Penangkapan di Saat Imlek

      Akhir tahun 1739 terjadilah penangkapan besar-besaran oleh Belanda 
terhadap imgiran China dan hal itu dilakukan Belanda pada saat warga China 
sedang merayakan Imlek. Penangkapan ini menyebabkan warga China menjadi panik, 
takut dan cemas serta hidup tidak tenang dan jauh dari rasa nyaman. Mereka 
merasa tertindas lahir dan batin.

      Bulan Februari 1739 Belanda melakukan penangkapan terhadap etnis China 
secara besar-besaran. Hal inilah yang memicu warga keturunan China untuk 
melakukan perlawanan. Dari hari ke hari anti Belanda semakin berkobar dalam 
diri para entis China. Di bulan September 1740 di pabrik gula Gandaria Batavia 
telah berkumpul 1.000 orang Etnis China untuk menyerang markas Belanda. Mereka 
dipimpin oleh Wang Tai Pan.

      7 Oktober 1740 terjadi lagi bentrokan yang menimbulkan banyak korban di 
kedua belah pihak. Belanda menumpas perlawanan Etnis China secara besar-besaran 
dan sangat mengabaikan sifat manusiawi. Tersiar kabar, bahwa yang tertangkap 
dibuang ke Sri Langka dan di tengah samudera, imigran itu dibuang ke tengah 
laut. Tidak sedikit kelompok imigran China yang tertangkap disiksa, ditusuk, 
dan dibunuh. Kekejaman Belanda semakin menjadi-jadi.

      9 Oktober 1740 rumah salah seorang pimpinan perlawanan China, Nie Hoe 
Kong dikepung dan ditembaki. Juga rumah-rumah warga China lainnya dihujani 
dengan tembakan. Warga kawasan itu lari kucar-kacir dan di luar rumah mereka 
dihadang oleh tentara dan pasukan VOC serta dibantai habis-habisan. Bahkan 
pihak Belanda mengumumkan akan memberikan hadiah 2 dukat bagi mereka yang dapat 
memancung kepala etnis China. Penggeledahanpun dilakukan dimana-mana disertai 
penangkapan.

      Pada hari itulah warga China dikumpulkan, baik yang tertangkap di dalam 
rumah, baik yang berada di penjara maupun dirumah sakit dan dikumpulkan 
dibantai secara biadab. Namun etnis China tetap saja melakukan perlawanan yang 
gigih. Lebih dari 3.000 warga China bersenjata menyerang pos Belanda di 
Tangerang. Hari berikutnya, tidak kurang dari 6.000 orang China menyerang pos 
pertahanan Belanda lainnya.

      Selama tiga hari itulah terjadi pembantaian besar-besaran oleh Belanda 
terhadap warga China. Tidak kurang dari 10. 000 warga China kehilangan nyawa. 
Mayat-mayat bergelimpangan di setiap sudut kota dan jalan-jalan, kali dan 
kanal, maupun di emperan toko. Warna Kali Angke menjadi merah karena bercampur 
darah.

      Tidak kurang dari 10.000 jiwa melayang oleh kekejaman Belanda. Tidak 
hanya itu, selama 350 tahun Belanda menjajah negeri ini ratusan ribu bahkan 
juga mungkin jutaan nyawa bangsa ini telah melayang.

      Proklamasi Kemerdekaan R.I. 17 Agustus 1945 dilakukan pada pagi hari di 
bulan Puasa 1.356 H. Peringatan hari Proklamasi itupun dilakukan pada tahun 
inti tepat pada bulan Puasa 1.431 H.

      Kita pantas mengenang para syuhada dan pahlawan yang telah gugur untuk 
merebut kemerdekaan maupun mempertahankannya. Berbahagialah rakyat Indonesia 
yang ini telah terbebas dari penjajahan. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan 
hal-hal yang positif dan membangun. Mari kita tumpas korupsi, mari kita tumpas 
teroris, mari kita tumpas segala bentuk mafia. Jangan tiru para anggota DPR 
yang bermalas-malas, padahal mereka menikmati gaji dari uang rakyat yang tidak 
sedikit jumlahnya. ***
     






Kirim email ke