Tapi walaupun kayak gitu..aku bisa petik satu hal. Sindu mengerti penderitaan orang lain dimungkinkan disebabkan oleh penderitaan yang dia rasakan sendiri. Ya itu dipaksa makan makanan yang g disukainya.
Dengan kata lain, kita ngga akan pernah mengerti penderitaan orang lain sampai kita mengalaminya sendiri. Atau masih ada yang salah?
Retny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Touching story fromIndia
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran : berapa lama lagi kamu
baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang
utk makan. Aku taruh Koran & melihat anak perempuanku satu2nya, namanya
Sindu. Tampak ketakutan, air matanya banjir didepannya ada semangkuk nasi
berisi nasi susu asam / yogurt (nasi khas/ curd rice). India
Sindu anak yg manis & termasuk pintar dlm usianya yg baru 8 thn. Dia
sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu & istriku msh kuno, mereka
percaya
sekali kalau makan curd rice ada "cooling effect". Aku mengambil mangkok
dan
berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok
curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah. Aku bisa
merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Tangis Sindu mereda & ia menghapus air mata dgn tangannya & berkata
boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya bbrp sendok tapi
semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta .. agak ragu2
sejenak akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.
Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya? Aku menjawab
oh pasti sayang. Sindu tanya sekali lagi betul nih ayah? Yah pasti sambil
menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sbg
tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,
istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa
emosi, janji kata istriku.
Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu jangan minta komputer atau
barang2 lain yg mahal yah, karena ayah saat ini tdk punya uang.
Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tdk minta barang2 mahal kok.
Kemudian Sindu dgn perlahan2 & kelihatannya sangat menderita, dia
bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu
Dalam hatiku aku marah sama istri & ibuku yang memaksa Sindu utk
makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati
penderitaannya, dia mendekatiku dgn mata penuh harap. Dan semua
perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata
Sindu mau kepalanya digundulin / dibotakin pada hari Minggu.
Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin,
tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jgn terjadi dlm keluarga kita,
dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak
kebudayaan kita.
Aku coba membujuk : Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain
kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan
pilihannya, tidak ada 'yah, tak ada keinginan lain kata Sindu.
Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak
mencoba untuk mengerti perasaan kami.
Sindu dgn menangis berkata : ayah sudah melihat bgmn menderitanya
saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk
memenuhi permintaan saya, kenapa ayah sekarang mau menarik /
menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran
moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang
apapun yang terjadi, seperti Raja Harishchandra (rajajaman India
dahulu kala )untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta /
kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku :
janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata :
apakah aku sudah gila? Tidak jawabku kalau kita menjilat ludah
sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai
dirinya sendiri. Sindu permintaanmu akan kami penuhi.
Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya
besar dan bagus. Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah,
sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan
melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas
lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil
sambil berteriak, Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku
ternyata, kepala anak laki2 itu botak.Aku berpikir mungkin"botak"
model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil
dan berkata : anak anda, Sindu, benar2 hebat. Anak laki2 yang
jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya, dia
menderita kanker leukemia. Wanita itu berhenti sejenak, menangis
tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena
pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak
mau pergi kesekolah takut diejek / dihina oleh teman2 sekelasnya.
Nah Minggu lalu Sindu datang kerumah dan berjanji kepada anak
saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi, hanya saya
betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya
yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati
Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.
Aku berdiri terpaku dan aku menangis.
Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang kasih.

