Dear sdr chingik,
 
tulisan yang luar biasa bagus!
 
Bila kita membaca kitab Gao Sheng Zhuan (biography of eminent monks), Xu Gao Sheng Zhuan (Further to the biography of eminent monks), and Sung Gao Sheng Zhuan, boleh dikatakan hampir semua bhikkhu mengetahui sebelumnya kapan mereka akan wafat. Bahkan mereka mampu meninggal dalam cara yang aneh, seperti ada yang duduk lotus, berdiri, tertawa, dll. Bila kita melihat literatur guru Zen, banyak di antaranya yang meninggal dalam cara yang aneh dan luar biasa.
 
Seorang upasika yang melatih metoda Pure Land meninggal kira-kira 9 tahun yang lalu di kota Gao Xiong, Taiwan. Setahun sebelum meninggal, dia telah memberitahukan kepada rekan-rekan se-Dharma lainnya. Dia meninggal dalam keadaan duduk bersila, tanpa ada penyakit apa pun. Ruang tidurnya keluar bau harum dan bertahan selama 2 bulan.
 
Bila seorang guru Zen atau umat awam mampu melakukan hal-hal yang demikian, apalagi Buddha.
Kelihatannya perkembangan agama buddha yang belum mantap ini masih harus dibebani dengan polemik demikian. Bagi orang yang mengklaim bahwa kita harus open mind, ya sah-sah aja, tapi tidak pada tempatnya. Mungkin kita harus melihat a bigger picture, dampak dari tulisan bhikkhu mettanando.
 
Sy ada ketemu dengan bhante mettanando hari sabtu siang, dan memperlihatkan foto-foto "aneh". Beliau kagum dan bingung. Kelihatannya bhante belum pernah melihat foto-foto yang memperlihatkan kemayaan "solidity" dan aneka fenomena aneh lainnya.
 
Just a thought!
 
KM

chingik2003 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Bagi mereka yang setuju dengan tulisan bhante Mettanando, maka
syukurlah mereka tetap yakin dengan dhamma dan akan terus maju lagi.
Bagi mereka yang menjadi ragu dan bingung, maka semoga tulisan ini
dapat menguatkan mereka lagi.

Yang terhormat, bhante Mettanando
Berikut tanggapan saya atas tulisan yang berjudul: bagaimana sang
Buddha wafat :

Analisa yang tergolong berani. Tapi bagaimanapun itu tetap saja
sebuah spekulasi, bukan? Apa yang sesungguhnya terjadi kita tidak
tahu. Namun bhante telah melangkah terlalu jauh dengan analisisnya
yang mengatakan bahwa para penulis kitab suci  telah menutupi
kejadian sebenarnya, dan mengatakan merupakan hasil pergumulan
politik dalam komunitas dan nada2 yang seperti meragukan kebenaran
Sutta.   Adanya interpretasi demikian akan sangat tidak adil bagi
para penulis kitab suci.  Secara tidak langsung, pernyataan tersebut
telah menuding para penulis kitab suci telah bersikap munafik,
melanggar sila, memiliki pandangan sesat, mementingkan ordo, berjiwa
picik. Memang perlu diakui bahwa komunitas Buddhis pada masa itu
bukan tidak ada orang yang ��rusak��, namun perlu diingat bahwa proses
terbentuknya kitab suci itu melalui mekanisme pemilihan anggota ordo
yang dilakukan secara ketat. Mari kita analisa dari peristiwa
konsili I. Untuk dapat menjadi seorang wakil konsili, syarat
utamanya adalah orang tersebut harus telah mencapai tingkat kesucian
arahat. Saat itu Sangha memutuskan untuk memilih 500 orang anggota
untuk mengikuti konsili.   Salah satu tokoh sentral konsili Buddhis
selain Mahakassapa adalah Ananda. Ananda adalah tokoh paling penting
dalam tubuh Sangha. Beliau adalah adik sepupu dari sang Buddha. Juga
dikenal sebagai pembantu terdekat sang Buddha. Secara sepintas,
komunitas lain akan memandang Ananda sebagai orang yang paling
��disayangi�� oleh sang Buddha. Secara sepintas juga mungkin orang
akan menilai Ananda memiliki ��kuasa/power�� dalam tubuh Sangha. Namun
kenyataan apa yang kita lihat setelah mangkatnya sang Buddha?
Ternyata Ananda ��ditegur�� oleh Sangha karena tidak menjalankan
tugasnya untuk meminta sang Buddha ��menetap di dunia ini��. Kemudian
saat akan diadakan konsili, ternyata Ananda tidak mendapatkan
tempatnya. Lihatlah, betapa tidak berdayanya Ananda yang meskipun
seolah olah sangat penting kedudukannya dalam Sangha, ternyata
ditolak mentah mentah untuk mengikuti konsili hanya karena beliau
belum menjadi seorang Arahat. Kasus Ananda adalah kasus yang tidak
boleh kita pandang sepele. Dalam hal ini ada pesan penting yang
ingin diperlihatkan dalam proses terbentuknya wejangan suci sang
Buddha. Bahwa segala hal yang menyangkut kepentingan politik  atau
semacamnya sangat dilarang. Kasus Ananda adalah contoh paling
jelas.  
Ananda merasa terkucilkan, dan disinilah juga titik balik pandangan
dia selama menjadi bhikkhu. Beliau sadar bahwa mengetahui semua
wejangan sang Buddha tidak akan berguna tanpa merealisasikannya.
Beliau akhirnya berusaha keras dan mencapai Arahat, dan  kemudian 
baru diperkenankan mengikuti konsili.

Jika konsili dilakukan secara demikian ketat, maka otoritas kitab
suci yang terbentuk dari hasil konsili tersebut menjadi signifikan.
(Kitab suci berbentuk dari lisan hingga masa bentuk  tulisan
dipandang penulis sebagai proses transisi yang sah)
Di sini tidak ada maksud ingin mengatakan bahwa pernyataan
pernyataan bhante Mettanando yang mendiskreditkan komunitas Sangha
masa lalu tidak diperkenankan. Tetapi pernyataan2 itu sepertinya
dilontarkan tanpa mempertimbangkan latar belakang sejarah konsili
yang sangat penting. Adalah sangat besar relavansi antara proses
konsili dan isi kitab suci. Jika sebuah kitab suci yang terbentuk
dari sebuah hasil penulisan yang tidak memiliki latar belakang yang
jelas, mungkin kita boleh bersikap skeptis. Mengenai apa isi dari
kitab suci itu, ini sangat tergantung pada interpretasi masing
masing orang. Secara prinsipil, sebuah ungkapan yang bijak dan
bermanfaat, boleh saja kita memperlakukannya sebagai kitab suci.
Bahkan seorang perampok yang tiba tiba mengucapkan satu bait yang
bijak dan inspirasional boleh saja kita anggap dia telah melontarkan
kata2 suci. Di sini, tokoh, peristiwa dan setting backgroundnya
menjadi tidak penting lagi. Dalam kitab suci Buddha, selain
menyajikan ungkapan2 bijak yang prinsipil, peristiwa, setting
background dan kondisi sang tokoh pun menduduki posisi penting.
Adalah wajar jika kitab suci menyajikan semuanya ini dalam proporsi
yang sempurna, yang inspiratif. Namun seandainya saat memberi
interpretasi pada peristiwa dalam kitab suci terdapat cara
interpretasi yang bernada discredit, skeptis, atau sejenisnya maka
seluruh rangkaian peristiwa, background bahkan ungkapan2 bijaknya
menjadi luluh lantak. Orang tidak lagi memandangnya sebagai sebuah
kitab yang inspiratif. Sekali ada nada miring dalam interpretasi,
maka semua ungkapan dalam kitab itu tidak lagi dipandang secara
istimewa. Ibarat seorang suci yang kita kultuskan, sekali terdengar
ada nada miring dalam dirinya, segala ungkapan bijaknya tidak kita
pandang lagi. Berbeda dengan tokoh duniawi lain seperti Einstein.
Orang bisa kagum dengan kejeniusan  Einstein walaupun beliau banyak
melakukan kesalahan lain misalnya.Tetapi ingat, orang tidak mau
menjadi sama dengan Einstein.  Tetapi jika orang melihat sedikit
saja ��kelemahan�� seorang tokoh yang akan menjadi panutan seumur
hidupnya, maka tingkat keyakinan orang akan berkurang. Orang menjadi
pengikut Buddha karena mau sama seperti Buddha. Oleh sebab itu
mengapa kitab suci muncul dalam bentuk yang begitu ��indah, sempurna,
inspiratif, suci��, ini karena pentingnya agar orang terinspirasi,
tak tergoyahkan. Tapi jangan dipandang sebagai bentuk bujukan yang
munafik, karena kitab suci Buddhis dilandaskan oleh Sila, Samadhi
dan panna. Jika produk komersial yang kita jual, segala nada
��positif�� dari perusahaan itu tentu saja adalah sebuah bujukan demi
kepentingan perusahaan. Tapi Buddhisme adalah sebuah jalan hidup.
Landasan dari Buddhisme selain tersebut di atas juga dilandaskan
pada sang Buddha pribadi dari ajaran ajarannya dan kerelaannya
meninggalkan keluarga demi manfaat orang lain. Jadi betapa
pentingnya landasan itu. 
        

Selanjutnya:
Tentang proses sakit yang dialami sang Buddha, bhante Mettanando 
telah menanalisanya secara wajar dari segi teknis seperti setelah
makan makanan tersebut timbul rasa sakit, pendarahan, haus dll.
Tetapi dari segi proses kesadaran yang ada pada diri sang Buddha,
bhante tampak lebih banyak meletakkan posisi sang Buddha dalam
konteks ��orang awam yang tidak pernah berlatih��. Sehingga terkesan 
tulisan itu ingin menggambarkan betapa rapuhnya sang ��manusia
Buddha��, betapa lemahnya dia, betapa tidak berdayanya dia.
Bagaimanapun hebatnya seseorang tidak akan luput dari sakit tua dan
mati, seorang Buddha sekalipun. Sesungguhnya memang demikianlah
ajaran dari sang Buddha sendiri.  Jika sang Buddha adalah orang
biasa seperti kita, maka wajar saja analisa seperti itu.
Tetapi perlu juga diingat bahwa proses kematian seorang manusia
biasa tidak sama dengan proses seorang manusia yang sudah kenyang
dgn hidup dalam pertapaan dan sikap perhatian penuh. Fenomena yang
diluar jangkauan pemahaman medis masih sering ditemukan hingga
sekarang. Tidak mungkin kita secara mentah mentah mensejajarkan
orang biasa dengan orang yang hidup dalam pertapaan.
 
Tapi tampaknya analisa  bhante Mettanando  telah banyak terkuras
dalam perhatiannya pada kondisi perut sang Buddha. Penggambaran yang
diberikan bhante telah menimbulkan kesan sang Buddha  tidak seperti
wujud keperkasaan seorang Buddha.  Membacanya seolah olah timbul
pikiran ��ah�KBuddha begitu rapuhnya�Kbagaimana bisa menjadi seorang
��penakluk diri sendiri��..��
Timbul pertanyaan dalam pikiran saya: Jika benar seperti apa yang
digambarkan   bhante, maka para pengagum, penyembah Buddha, para
siswa mungkin akan pergi meninggalkan sang guru saat itu. Mereka
mungkin akan berpikir ��seorang Buddha kenapa bisa shock?? Sakit tak
tertahankan??��  Bukan demikian maka beliau tidak sanggup
berkonsentrasi? tetap dalam kesadaran eling? Memiliki perhatian
penuh?


Tetapi jika kita lihat di kitab suci tercatat bahwa setelah sang
Buddha wafat dan dikremasi, terjadi perebutan relik beliau. Ini
moment yang sangat penting. Yang merebut adalah para penguasa. Di
sinilah letak betapa Buddha saat itu adalah sosok yang sangat
disegani. Mengapa? Tentu ada latar belakang yang sangat berpengaruh
dan ada sesuatu yang memang sangat luar biasa pada diriNya. Menurut
kitab suci, sang Buddha  telah mengumumkan kemangkatannya 3 bulan
sebelumnya. Ini pengumuman yang sangat penting, karena jarang ada
yang sanggup mengatakan tentang  kapan kematian seseorang. Seorang
dokter bahkan tidak sanggup.  Sayang bhante Mettanando telah
mengabaikan hal hal ini. Tetapi saya rasa bhante terlalu berfokus
pada proses normal kematian dari sudut pandang medis dan tidak mau
melibatkan kejadian metafisik seperti yang sering ada dalam setiap
wacana agama, padahal dunia medis sendiri masih belum menemukan
jawaban konkrit  tentang hubungan antara kesadaran dan fisik apalagi
kejadian metafisik.  Analisa yang hanya dipacu dari sudut pandang
medis masih memiliki banyak kekurangannya.    

Saya percaya sang Buddha mengetahui kapan beliau akan mangkat,
karena juga terdapat catatan2 kuno dari para penganut Buddha
Mahayana tentang para sesepuh yang sanggup mengumumkan kapan mereka
akan mangkat secara akurat (hingga pada jam sekian).
Tentang persembahan makanan hingga menimbulkan rasa sakit dan wafat,
hal ini sebenarnya lebih bisa dianggap sebagai proses yang telah
diperhitungkan oleh sang Buddha dengan diacu dari teori yang sudah
banyak Beliau paparkan. Dengan terhapusnya kilesa melalui pelatihan
sila, Samadhi dan panna, berbagai jenis kemampuan batin bisa
dikembangkan.   Jika seorang praktisi sejati seperti sang Buddha
tidak sanggup menahan rasa sakit,  tidak tahu ada makanan yang
beliau makan akan membuatnya kesakitan, dll  maka tentu sia sia saja
ajaran yang beliau berikan selama 40 tahun lebih dan terkesan
mubazir. Lebih relevan jika mengatakan beliau terserang sakit namun
dengan pikiran sadar beliau menerimanya dengan perhatian penuh, 
dimana beliau sanggup menghadapi rasa sakit secara berbeda
dibandingkan dengan orang awam yang tidak pernah berlatih.   Tetapi
sepanjang tulisan bhante Mettanando, malah memberi kesan sang Buddha
bagaikan orang tua yang sudah tidak mampu lagi menahan rasa sakit.
Dengan deskripsi seperti itu maka timbul gambaran lain bahwa beliau
sudah tidak mampu memfokuskan pikirannya pada perhatian penuh
seperti yang dilakukan para meditator. Bukankah sangat bertolak
belakang dengan ajaran Nya sendiri dimana perhatian penuh adalah
sarana berlatih yang sangat penting bagi seorang praktisi? Bagaimana
seseorang dengan pikiran kacau dapat memasuki Nibbana? Bahkan
pembuat kebajikan yang menjelang kematian saja  sangat dianjurkan
untuk mengembangkan pikiran positif agar tidak jatuh dalam alam
rendah.  
Jadi proses kemangkatan sang Buddha sesungguhnya bukan diluar dugaan
seperti apa yang digambarkan bhante Mettanando. Bhante melangkah
lebih jauh lagi mengatakan sang Buddha ingin mangkat di kota
kelahirannya namun tidak sanggup berjalan terlalu jauh, ini sudah
bertolak belakang dengan sifat sang Buddha yang menerima kondisi apa
adanya. Bahkan anak istri sanggup Beliau tinggalkan dan hidup
sendiri di hutan, untuk apa beliau bela belain  mau mangkat di kota
kelahiran?




Perbedaan pendapat ini tidak mengindikasikan bahwa saya bersikap
dogmatis.
Bagaimanapun, kitab suci Buddha bagaikan sebuah rakit. Dia hanyalah
sebuah alat untuk membawa kita ke tujuan. Tetapi terhadap sarananya
saja kita menaruh curiga dan membuat interpretasi secara salah, maka
kapan kita bisa mencapai tujuan? Misalnya Kita mendapatkan sebuah
mobil merek Buddhisme  untuk membawa kita ke kota Nibbana, tapi kita
tidak yakin dengan mobil itu dan ragu menaikinya nah..kapan kita
bisa sampai ke kota Nibbana? Memang betul ada mobil lain, tapi
dengan mobil yang sudah bonafit aja kita ragu, bagaimana dengan
merek lain? Kita diajar untuk tidak fanatic dan dogmatis itu
maksudnya agar kita jangan meremehkan merek lain , kita harus akui
ada merek lain untuk ke Nibbana itu namanya tidak fanatic. Kita
jangan sampai gak pernah mau turun dari mobil, itu baru namanya
tidak dogmatis. Fanatik sama dogmatis itu bukan mentang mentang
tidak mau berpegang pada satu isme, toh jatuhnya juga fanatic pada
isme sendiri. 

P.S : Dalam vinaya ada ketetapan bahwa kita tidak boleh menjelek
jelekkan bhikkhu, menghina bhikkhu, meskipun seorang bhikkhu yg
melanggar Sila. Seorang bhikhu yang melanggar sila tentu ada sangha
yang memberi hukuman.
Siapapun yang mengkritik bhikkhu , maka tentu harus introspeksi
diri. Banyak yang beralasan bahwa sah saja kita mengkritik orang
yang salah. Tapi sejauh mana kita telah melakukan kebenaran? Kita
diajar untuk melatih diri mencapai pembebasan. Jiki intisari ini
kita renungkan, maka kita akan sadar, ada benarnya juga.
Banyak umat awam yang sering melontarkan kritik terhadap bhikkhu ini
atau itu. Sebenarnya mereka tidak sadar bahwa mereka telah melakukan
kesalahan. Setidaknya prosedurnya telah salah. Mengkritik dan
membicarakan masalah di hadapan bhikku tentu berbeda. Untuk itu
tulisan ini tidak bermaksud mengkritik bhante Mettanando. Tetapi
sebagai bentuk diskusi yang mohon pencerahannya. Ada kemungkinan
saya yang telah salah tangkap atas pesan yang ditulis oleh
bhante.    Dari segi praktek, saya masih pernah melanggar Pancasila
hingga hari ini. Maksud saya adalah walaupun saya menulis pendapat
saya di atas , itu tidak mengindikasikan saya telah mengenal lebih
baik ajaran Budha dari siapapun, Karena menjalankan sila dasar saja
saya tidak bisa.  Semoga bhante Mettanando memahami maksud saya, dan
semoga saya diberi wejangan dan semoga bhante terima permohonan maaf
saya. 
  


  

  


   







Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke