yg jelas, setau saya ga ada satupun agama d dunia ini
yg terlepas dari tradisi kelompok tertentu.
 
kalo soal sembahyang kpd dewa-dewi? sah2 aja menurut saya.
"menjadi buddhis bkn berarti hrs meninggalkan tradisi kan?"
itu kata seorang bhante theravada.
kalo saya menganggap, sembahyang ato apa namanya kpd makhluk lain,
itu mirip konsepnya sama kalo kita minta tolong kpd sesama manusia, kpd teman?
manusia kan makhluk sosial.... jd boleh2 aja donk?
 
knp bukan dewa-dewi india?
wajar karena umatnya rata2 org tionghoa...mereka lebih mengenal dewa-dewi tionghoa dari pada india. kalo yg disembahyangi dewa2 india, itu baru aneh.
 
biasa di kelenteng/vihara, terdpt patung2 dewa2 tionghoa, sebagian dr
patung2 tsb adl org2 yg pernah hdp zaman dulu, dan pny jasa2 tertentu kpd negara/kaisar
makanya dibuatlah patung2 tsb untuk mengenang &merenungkan jasa2 mereka. bukankah itu hal yg baik?
 
zhou
flyaway_withlove <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [email protected], "bodhimanggala"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Nah, ini dia satu lagi!
> Bro Kaisar Huang, nih anak perlu dikasih ceramah you lagi nih! heueue

It's my pleasure.

>
> Dedek, tologn sebutkan Buddhisme mana yg 'murni', yg tidak
> dipengaruhi oleh Budaya manapun ??

well sebenarnya buddhisme itu sendiri sudah tidak murni karena ada
ismenya. Seharusnya tidak ada karena Siddharta sendiri tinggal di
India. Tapi setidaknya yang diucapkan oleh dia cukup bebas dari
pengaruh kebudayaan India.

>
> Tampaknya anda mendeskriditkan Buddhsme yg dipengaruhi oleh Budaya
> Chinese.

Bukan mendeskriditkan tapi bingung. ada sebuah vihara di mana pengaruh
kebudayaan Cina nya ada. Kita bisa dengan gampang melihat huruf2
mandarin bertebaran. Nah di bagian tertentu ada beberapa patung dewa
yang jelas sekali mereka adalah dewa-dewi Cina. Ada nama-nama mereka
yang jelas2 nama mandarin. Orang-orang membakar dupa dan bersembahyang
dan menancapkan dupa di tempat khusus.

Ok, mari kita lihat kehidupan Siddharta. Beliau lahir di Nepal,
menghabiskan sebagian besar hidupnya di India ( khususnya bagian Utara
). Dan beliau tidak pernah jjs ke Cina. Correct me if I'm wrong.
Mengatakan buddhism mengajarkan bersembahyang kepada dewa-dewi
menimbulkan suatu keanehan. Kenapa dewa-dewi cina yang disembah bukan
dewa-dewi India yang seharusnya lebih masuk akal disembah karena
Siddharta berkarya ( mostly ) di India. Jadi berdasarkan biografi
Siddharta dan pemahaman saya, maka saya mengatakan buddhism yang
diajarkan Siddharta tidak mengajarkan penyembahan atau sembahyang
kepada dewa-dewi.

Lalu bagaimana dengan vihara di atas yang melakukan praktik
persembahyang kepada dewa-dewi???? Ini salah satu hal yang sulit saya
pahami. Inilah penjelasan saya yang cukup terbatas: praktik itu
terjadi karena terjadi asimilasi antara buddhism dengan kepercayaan
cina waktu penyebaran buddhism dari india ke cina.

Nah saya tidak bilang praktik sembahyang kepada dewa-dewi itu jelek
atau salah. Saya hanya bilang itu bukanlah buddhism ( setidaknya
buddhism yang diajarkan Siddharta ).

Tapi mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh vihara itu, sembahyang
kepada dewa-dewi itu bukan buddhism juga sulit karena itu kan vihara
tempat pengajaran buddhism. Jadi saya mencapai kompromi dalam hati
saya, itu adalah buddhism yang dipengaruhi kebudayaan / kepercayaan cina.

Yang pasti kita sepakat satu hal. Di dunia ini selalu ada perbedaan
pendapat. Saya tidak bilang pendapat saya itu pasti benar. Anda
berbeda pendapat? Mari kita hidup damai.

> Apakah anda orang chinese? orang india? orang tibet?

WNI. anyway, saya orang biasa dan orang biasa bisa salah.

>
> cheers
> surya




Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.



Yahoo! Mail
Stay connected, organized, and protected. Take the tour

Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke