==BERDOA== Bukanlah suatu pemandangan yang 'aneh' kalau dalam suatu vihara kita melihat beberapa orang umat Buddha bersujud di depan patung Sang Buddha. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang tidak hanya bersujud, tetapi mulut mereka 'berkomat-kamit'. Pemandangan seperti itu kadang kala menggelitik pikiran kita untuk bertanya-tanya,"Apakah mereka itu mengharapkan sesuatu dari Sang Buddha?"
Setelah diadakan pendekatan, akhirnya beberapa orang di antara mereka ada yang bersedia memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Jawaban yang mereka berikan bermacam-macam. Ada yang mengharapkan kesehatan dan keselamatan; ada yang mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan; ada yang mengharapkan kekayaan; dan ada pula yang mengharapkan jodoh! Kalau dipikirkan, dua jawaban yang pertama itu masih agak bisa dimaklumi, tetapi dua jawaban yang terakhir itu sangat mengherankan! Bagaimana mungkin meminta kekayaan kepada Sang Buddha yang dalam Kitab-kitab Suci dituliskan bahwa Beliau dengan kesadaranNya sendiri telah meninggalkan semua kekayaan yang dimilikinya; mulai dari tiga istananya yang indah sampai pada kerajaannya yang megah? Bagaimana pula meminta 'jodoh' kepada Beliau yang telah meninggalkan istrinya yang cantik jelita dan semua dayangnya yang mempesano? Apakah harapan-harapan itu tidak "salah alamat'? Sesungguhnya sejak pembabaran Dhamma yang pertama sampai saat menjelang parinibbana, Sang BUddha tidak pernah mengajarkan kita untuk meminta-minta apapun juga (terlebih-lebih 'Kebebasan") kepada orang lain, baik kepada dewa, Arahat maupun Sang Buddha sendiri. "Meminta-minta" kepada orang lain bukanlah sesuatu perbuatan yang mulia, sedangkan berusaha sendiri dengan mengerahkan semua kemampuan yang ada adalah suatu perbuatan yang patut dipuji dan dicontoh. Dengan kata lain, dapat dikatakan Sang BUddha tidak menginginkan umatNya menjadi 'pengemis-pengemis' kebahagiaan! Tidak ada sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang diperoleh melalui usaha dan perjuangan sendiri. Tidak jarang Sang Buddha bersabda bahwa Tidak ada sesuatu pun yang bisa diperoleh dengan 'gratis'! Keuntungan, kemakmuran, kesejahteraan, kebahagiaan, apalagi kesucian dan penerangan semp[urna tidak pernah dan tidak akan pernah datang dengan sendirinya. Hanya dengan usaha dan perjuanganlah semua itu baru bisa betul-betul terwujud! Mengharapkan sesuatu dengan berdoa atau memohon seperti itu sesungguhnya lebih sia-sia daripada mengharapkan jatuhnya bintang-bintang dari atas langit. Akhirnya tidak terlalu berlebihan kiranya bila seseorang memberikan komentar bahwa bagaimanapun juga, tujuan utama dari doa manusia adalah untuk meminta "mukjijat". Setiap doa ringkasnya berharap demikian,"Semoga dua kali dua tidak jadi empat!" Perlu ditambahkan bahwa bila doa itu benar-benar "manjur", maka tidak seharusnya banyak orang mati karena kelaparan. Dalam kKitab Suci Ripitaka tidak ada satu ajaranpun yang menganjurkan kita untuk berdoa meminta "makanan" ataupun "rejeki"; baik makanan atau rejeki "secukupnya" maupun berlebihan; baik makanan atau rejeki pada "hari ini maupun hari-hari selabjutnya!" Setelah diteliti secara seksama, maka dapat disimpulkan bahwa hanya orang-orang yang tidak mempunyai "keyakinan pada diri sendiri"lah yang senang berdoa dan memohon. Sekarang mungkin timbul pertanyaan,"Kalau memang agama Buddha tidak mengenal ajaran tentang 'doa', lalu apa yang dilakukan oleh umat Buddha di depan patung Sang BUddha?" Sesuai dengan yang disabdakan oleh Sang Buddha, Umat Buddha sadar dan tahu bahwa perbuatan itu tidak hanya bisa dilakukan melalui ucapan dan perbuatan saja, tetapi melalui pikiranpun perbuatan baik dapat dilakukan. Dengan alasan inilah maka umat BUddha berusaha untuk membersihkan pikirannya dari kekotoran-kekoptoran bathin. 'Salah satu' cara untuk membersihkan pikiran adalah merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha. Pada waktu merenungkan sifat-sifat mulia tersebut, pikiran yang ada dalam diri kita adalah pikiran baik saja. Sebabnya ialah bahwa tidak mungkin dua pikiran yang berbeda (baik dan jelek) muncul pada waktu bersamaan. Ini dapat diumpamakan seperti dua sisi dari satu mata uang. Bila sisi yang satu berada di atas, maka pasti sisi yang lain berada di bawah. Sesungguhnya, sifat-sifat mulia Sang Buddha itu tidak terbatas jumlahnya namun untuk lebih memudahnya, kita bisa merenungkan sifat-sifat itu seperti tercantum dalam Buddhanusati: "Demikianlah Sang Bhagawa, Yang Maha Suci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Sempurna pengetahuan serta tanduknya, Sempurna menempuh Sang Jalan (ke Nibbana), Pengenal segenap alam, Pembimbing manusia yang tiada taranya, Guru para Dewa dan manusia, Yang Sadar, Yang patut dimuliakan". Sifat-sifat mulia inilah yang seharusnya direnungkan oleh setiap umat Buddha di depan patung Sang BUddha, bukan malah memperbesar keinginan dengan memanjatkan 'doa-doa' atau permohonan-permohonan yang sesungguhnya tidak berguna! =============Di ambil dari buku kecil, kumpulan tulisan oleh : S. Gunawan. Dimana kumpulan tulisan tersebut pernah dimuat di Pancaran Dharma tahun 1985 dan 1986============ Tambahan saya: Mungkin rekan yang punya kamus berkenan menuliskan definisi DOA, dulu. Agar pemahaman kita lebih jelas. Kata-kata,"Semoga semua mahkluk berbahagia", menurut saya itu lebih ditujukan kepada diri sendiri. Membangkitkan metta di dalam diri kita sendiri, bukan permintaan kepada satu makhluk tertentu. Bila metta kita kuat, maka pikiran yang sesungguhnya adalah getaran, bisa mempengaruhi pikiran, getaran makhluk lainya juga. Paritta Ettavata, seorang bhikkhu STI dulu pernah jelasin. Aslinya Paritta itu pendek, itu sekarang jadi panjang karena ditambahin oleh bhikkhu Sri Langka dulu. Gimana aslinya, maaf, saat itu nggak sempat nanya. Satu lagi: Ada 3 orang Kwik, Kwek dan Kwak. Punya bibit mangga yang sama, tanah yang sama suburnya, cara perawatan yang sama, pupuknya sama. = Kwik menanam biji mangga, lalu berdoa dengan khusuk, agar tumbuh jadi pohon kelapa. =Kwek menanam biji mangga, juga berdoa dengan khusuk, agar berbuah menjadi pohon mangga dan mendapat buah mangga. =Kwak menanam biji mangga, ingin mendapat buah mangga, tapi sama sekali tidak berdoa apapun. Nah, apakah doa si Kwik mampu terwujud? Tapi, kenapa 'doa' si Kwek 'manjur'? ^_^ Dan, kenapa si Kwek tanpa doa juga mendapat pohon dan buah mangga? Moral the Story: Keinginan kita tercapai TIDAK TERGANTUNG pada ada tidaknya doa, tapi TERGANTUNG BENIH YANG KITA TANAM. Kalau kita menanam benih mangga, maka tanpa doa, pasti benih itu akan membuahkan mangga. Tapi kalau kita menanam benih mangga, maka tak ada doa yang bisa membuat agar membuahkan buah kelapa. Demikian juga kebahagiaan, kekayaan, kesucian, keselamatan, bisa diperoleh bila kita menyediakan benihnya. Semoga bermanfaat. Salam metta, Wijaya ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya. Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh. Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian. Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami. Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
