ï
Rinto Jiang :

Ah, bro Wijaya, jangan tulis yang seperti di atas lar.

Saya pikir pikiran2 cemerlang anda itu bisa membawa komunikasi yang baik dan usaha pembenahan lebih lanjut bagi aliran ataupun segelintir umat yang masih suka punya pikiran dikotomi murni tidak murni. Eh, malah dimunculkan penumbuhan ego-aliran-sentris yang lebih besar dengan menulis kalimat di atas.

Kritik klaim murni ini harus menjadi satu macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri, apakah masih terjebak pemikiran sempit seperti ini? Dan, saya tidak setuju kalau ada anggapan bahwa yang suka mengkritik aliran ini pasti adalah dari aliran itu. Akh, kapan sih kita bisa belajar mengerti apa itu otokritik? Otokritik itu penting, saya lebih suka cepat2 melakukan instropeksi dengan otokritik sebelum menunggu kritik dari orang lain.

Wijaya:
'Ego-aliran sentris' apa tuch? Saya cuma bermaksud, proporsionallah.
Yang segelintir itu aja silahkan diserang. Tapi sebelum nyerang, menurut saya, perlu DICECAR dengan pertanyaan menyelidik dulu, apa maksud si penulis, penanya. Mau nyerang atau  memang ingin tahu, bertanya. Kalau ia memang tidak tahu--bahkan walau jelas2 ia menyerang--, mestinya ini kesempatan baik buat menunjukkan keindahan sekte kita. Lihat tuch rekan Surya. Ada jalan buat memposting Lamrin. ^_^ Kalau ngga ada mendung, ngga ada petir, tentu ia sungkan mempostingnya. he he he (ini guyon, rekan Surya)
 
Juga, saya sekarang berpikir,"Apa saya MESTI sakit hati dengan klaim2 orang lain, sekte lain, agama lain?"  Apa CUMAN itu PROGRAM yang ada? Apa tidak ada PROGRAM lainnya? Apa tindakan Sang BUddha bila jelas2 dicaci, diserang? Lalu, siapa yang akan kita jadikan teladan? Sang Buddha atau siapa?
 
Dulu memang saya sakit hati kalau dikatakan dari Hinayana. Tapi lama2 merenung, dan dapat jamu. Umat lain juga banyak menyatakan kita sebagai penyembah berhalalah, ateislah, HANYA ajaran manusialah, dlsb. toh akhirnya bisa saya cuekkan, jadi kalau saudara sendiri menambah sedikit menyebut hinayana-lah, fundamental-lah, saya pikir saya mesti berusaha menyamankan diri dengan klaim, tuduhan demikian, dan bahwa itu memang hak asasi orang lain berpendapat. Dan mengganti PROGRAM pikiran saya.
 
Kalau saudara sendiri dilawan, tuduhan umat agama lain, dibiarkan, rasanya kurang afdol,,,, gitu.
 
Dengan renung ini itu, minum jamu program baru, sekarang rasanya hati saya lebih sejuk.
 
 
Rinto Jiang:
Kritik klaim murni ini harus menjadi satu macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri, apakah masih terjebak pemikiran sempit seperti ini?
 
Wijaya:
Baru mengklaim murni aja Anda bersikap demikian. GImana kalau klaimnya: TERLENGKAP-TERMURNI-TERKILAT? HE HE HE HE Apa langsung kena strok?
 
Otokritik sih bagus, tapi cepat menyimpulkan orang lain fanatik, menyerang--ajaran, sekte-- kita, juga kurang baik. Kejar dulu, selidiki dengan pertanyaan, kalau memang ia fanatik, melarang ini itu, Anda masih punya banyak waktu  buat mengeluarkan seluruh unek2 Anda.
 
Sepertinya Anda sangat alergi dengan klaim murni. Memangnya adakah sekte yang mengaku ajarannya nggak murni? Bahwa ajaran itu bukan dari Sang Buddha, bagi Buddhis? Bukan dari Tuhan Pencipta, bagi Agama Samawi? Adakah? Rasanya, itu klaim mayoritas umat beragama.
 
 
Rinto:
Kalau sudah teringat2, pasti ada kata lain yang saya tidak tahu mengapa kata itu bisa muncul begitu saja di benak saya, kata itu adalah "fundamentalisme". Terus terang saya sangat alergi dengan sikap beragama yang seperti ini.
Wijaya:
Selama Anda MEMEGANG sikap demikian, selama hidup Anda tidak akan pernah bahagia.
 
Bagaimana perasaan Anda pada Klaim Umat agama Samawi?
 
Rinto:
Keterkejutan saya muncul saat mulai bertukar pikiran dengan teman2 yang mengaku penganut salah satu aliran, yang mengklaim ini dan itu, lalu mulai suka melarang ini dan itu baik ritual, tradisi maupun pemikiran yang dianggap berbau aliran lain dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang "murni".
 
Wijaya:
Kan Anda bisa bantah dengan argumentasi? Misalnya, Dimana Sang Buddha pernah MELARANG TRADISI? Apa cara sembahyang pemuda Sigala dari Sang Buddha? Itu tradisi, Sang Buddha tidak melarang, cumaaaaaa ISInya diisi dengan DHAMMA.
 
Jadi, bila lain kali kalo ada yang nyerang, protes, suruh buang satu tradisi atau apa,  CARA TERBAIK menghadapinya adalah, menunjukkan bahwa ISI tradisi yang disuruh buang itu adalah Dhamma. 
 
Untuk menghakimi seseorang, biasanya saya berusaha meneliti MOTIFnya. Kalau motifnya bermaksud baik, demi kebaikan kita --walau caranya jelek--, saya lebih mudah memahami dan memaafkan. Kalau MOTIFNYA demi kebaikan saya, saya lebih mudah untuk berusaha tidak balas nyerang.
 
Salam metta,
Wijaya
 
 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, May 18, 2005 11:07 AM
Subject: [Dharmajala] Murni â Fundamentalisme â Radikalisme (Re: Thera_Maha_Vajra)

Wijaya :

Saya sendiri juga malas. Tapi silahkan teliti, cukup sering, satu masalah
ditarik ke Klaim kemoernian Theravada. Lanjut berkisah nostal'gila' ke
Thailand. ^_^
Dikit2, ditarik ke sana. Kalau tidak ada yang menjerit, nanti ini jadi
kebiasaan dan budaya
milis kita. Dan, rekan Theravada akan merasa tidak nyaman, akhirnya out,
MENDUGA milis INI BUKAN BUAT MEREKA. Apa ini mau kita semua di sini?



Rinto Jiang :

Ah, bro Wijaya, jangan tulis yang seperti di atas lar.

Saya pikir pikiran2 cemerlang anda itu bisa membawa komunikasi yang baik dan usaha pembenahan lebih lanjut bagi aliran ataupun segelintir umat yang masih suka punya pikiran dikotomi murni tidak murni. Eh, malah dimunculkan penumbuhan ego-aliran-sentris yang lebih besar dengan menulis kalimat di atas.

Kritik klaim murni ini harus menjadi satu macam motivasi buat melakukan otokritik terhadap diri sendiri, apakah masih terjebak pemikiran sempit seperti ini? Dan, saya tidak setuju kalau ada anggapan bahwa yang suka mengkritik aliran ini pasti adalah dari aliran itu. Akh, kapan sih kita bisa belajar mengerti apa itu otokritik? Otokritik itu penting, saya lebih suka cepat2 melakukan instropeksi dengan otokritik sebelum menunggu kritik dari orang lain.

Dulu, sewaktu saya di sekolah, menerima pendidikan agama Buddha, gak pernah saya pikirin apa itu aliran ini dan itu. Keterkejutan saya muncul saat mulai bertukar pikiran dengan teman2 yang mengaku penganut salah satu aliran, yang mengklaim ini dan itu, lalu mulai suka melarang ini dan itu baik ritual, tradisi maupun pemikiran yang dianggap berbau aliran lain dengan alasan tidak sesuai dengan ajaran Sang Buddha yang "murni". Kalau sudah teringat2, pasti ada kata lain yang saya tidak tahu mengapa kata itu bisa muncul begitu saja di benak saya, kata itu adalah "fundamentalisme". Terus terang saya sangat alergi dengan sikap beragama yang seperti ini.

Mungkin saya terlalu naif yah punya pikiran "murni" adalah akar dari "fundamentalisme" lalu bisa berkembang menjadi "radikalisme". Namun fenomena ini ada di agama2 lainnya dan saya sangat berharap yang beginian tidak akan ada di dalam agama Buddha. Mudah2an.


Rinto Jiang



Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya.

Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami.




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke