Sekuntum teratai buat rekan Ekayana dan Surya, para calon Buddha,
Terima kasih banyak atas kesediaan rekan Eka memposting informasinya.
Maunya nunggu respon rekan Surya, sehingga tulisan ini lebih sedikit kata
'MUNGKIN'-nya, tapi nunggu ia yang sibuk, bisa kelamaan.
Dengan menyadari segala keterbatasan saya--bahasa inggris, intelektual,
informasi--, perkenankan saya mengemukakan pendapat. Semoga ada rekan yang
berkenan meluruskan, bila dianggap keliru.
Himbauan agar kita jangan merendahkan kelompok lain, memang bagus. Tapi apa
efektif? Jujur? Menganggap, menilai rendah apa yang kita nilai rendah adalah
hal yang wajar. Kalau yang kita nilai lebih rendah, lalu kita katakan sama
saja, yah ini sekedar basa-basi, formalitas. Memasukkan kepala dalam pasir.
Masalah, penyakitnya memang tak kelihatan, tapi BUKAN karena sembuh.
Dipermukaan mungkin tenang, tapi dalam hati masih punya unek2, praduga,
anggapan,"Ia lebih rendah
dibanding kelompok saya."
Agar kita tidak merendahkan milik orang lain, cara terbaik adalah
MEMAHAMInya, bahwa penilaian kita itu MUNGKIN:
=Hanya berdasarkan kepercayaan buta, bukan melihat sendiri.
=Hanya berdasarkan informasi yang sesungguhnya adalah MUNGKIN, KONON,
ANGGAPAN, CMIIW, KEBOHONGAN PUTIH, bahkan mungkin DISINFORMATION.
=Cara menganalisa kita tidak logis, tanpa sadar sudah melakukan pelintiran.
=Kita lebih dulu membenarkan isi kitab suci atau kata pemimpin agama kita,
baru kemudian kita mencari-cari premis2 pendukungnya.
=Melihat dari sudut pandang atau paradigma yang berbeda.
=dlsb.
Bila salah satu itu bisa kita PAHAMI, otomatis sikap merendahkan
itu--penilaian saya adalah sudah benar, fakta--akan berkurang secara
drastis, syukur2 bisa hilang. Dari PEMAHAMAN inilah sikap saling menghargai
yang sesungguhnya bisa dicapai. Lebih jauh, kebencian, ALERGI pada milik
orang lain juga akan menyusut.
Cara di atas bisa diterapkan pada interaksi lintas sekte dan agama. Dengan
semangat di atas, saya coba mengemukakan pendapat pribadi berikut:
1. Istilah Hinayana baru muncul di Kitab Saddharmapundarika Sutra (awal abad
1?). Jadi Ketika Sang Buddha hidup sampai beberapa lama, sebelum ada
perpecahan Sangha, maka yang dikenal hanya AJARAN Sang Buddha, Buddha
Dhamma. Tak ada istilah Sarvativada, Theravada, Mahasangika, Mahayana.
2. Perpecahan mulai sejak konsili I, yang terjadi karena perbedaan vinaya.
Bukan Ajaran, Dhamma.
3. Saya pernah baca soal,"Tidak akan masuk Nirvana, selama masih ada makhluk
yang menderita." Tentu ini ikrar yang sangat amat sungguh mulia sekali.
Namun, petapa Gotama, sebagai bodhisatva, masih melakukan jalan
ekstrim. Bahwa seorang bodhisatva dengan paramita yang begitu sempurna masih
bisa salah jalan, apalagi yang paramitanya jauh dari kesempurnaan, tentu apa
yang dianggapnya baik, luhur atau benar, belum bisa dipastikan. Akhirnya toh
beliau merealisir Nirvana SENDIRIAN, TIDAK MENUNGGU SIAPAPUN. Tidak menunggu
agar semua makhluk 'masuk' duluan. Ini HISTORIS menurut Theravada, saya
tidak tahu bagaimana pandangan Mahayana soal historis Buddha Gotama.
4. Makanya muncul pertanyaan, bila seorang mencapai Nirvana tanpa menunggu
orang-orang lain, apa memang benar-benar bisa di katagorikan ia --termasuk
Sang Buddha Gotama sendiri--berSEMANGAT Hinayana?
5. Pointnya saya, "Hati-hati mengklasifikasikan semangat, jalan kelompok
lain, jangan sampai TANPA SADAR malah merendahkan apa yang kita junjung.
Buddha Gotama sendiri."
6. Soal murni tidak murni, lebih dekat dengan ajaran Sang Buddha Gotama
sepertinya diklasifikasikan oleh para peneliti sejarah yang mungkin bukan
seorang Buddhis. Penilaian sejarahwan ini yang mungkin dianggap menyudutkan
Mahayana. MUNGKIN, karena Theravada adalah penempuh jalan negatif,
Non Teistik dianggap lebih dekat dengan ajaran Sang Buddha, sedang
Mahayana--mungkin, dengan paham Tri Kaya-nya--sudah berkembang
("disempurnakan") menjadi jalan positif, Teistik.
Yang satu dikatakan LEBIH MURNI, yang satu LEBIH SEMPURNA.
7. Soal istilah Hinayana, sepertinya sudah dibakukan oleh para
peneliti--saya tidak tahu siapa-- buat menyebut ajaran awal Buddha Dhamma,
yang nantinya berkembang menjadi berbagai sekte. Jadi, mungkin Umat
Theravada
mesti setuju dan menerimanya dan mensyukurinya punya satu soal ujian untuk
mengamati bathinnya. Apa masih melekat dengan istilah atau tidak. ^_^
8. Tapi kalau berdasarkan data rekan Surya, bahwa Hinayana adalah SEMANGAT,
maka mestinya semangat itu adalah semangat pribadi, yang bisa saja ada di
kelompok manapun. Itu Klaim satu sekte. Tapi klaim sekte atau agama manapun,
belum tentu adalah kebenaran.
Itu pendapat pribadi dan info yang saya ketahui, mencoba minta pendapat,
informasi dari rekan2 di sini yang lebih tahu. Saya akan berterima kasih,
bila ada yang berkenan meluruskan dengan informasi yang lebih akurat dan
lebih tepat. Tapi kalau rekan Eka dan Surya atau yang lain nggak sempat
merespon, maka ini respon terakhir saya buat topik ini.
Lagi sekali,
Himbauan--apapun--akan lebih efektif bila disertai dengan PEMAHAMAN,
PENGERTIAN.
Luruskan yang--dianggap--bengkok dan jelek dengan pemahaman, pengertian,
penjelasan, bukan dengan larangan atau himbauan memasukkan kepala dalam
pasir, atau dengan emosi dan negative thinking.
Tapi kalau hati emosi, panas (yang memang di luar kontrol kita), pikiran
diusahakan tetap dingin. ^_^
Salam metta
Wijaya
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, May 18, 2005 9:49 AM
Subject: Re: [Dharmajala] Re: Thera_Maha_Vajra
> > Kalau boleh, saya ingin tahu soal,"Apakah menurut pandangan Mahayana,
> > Buddha
> > Gotama termasuk penempuh Hinayana atau Mahayana?"
> > Alasannya?
>
>
> Dr. Edward Conze dalam bukunya "A Short History of Buddhism" membagi
> perubahan besar dan radikal selama 2500 tahun menjadi 4 periode :
>
> Periode I : 500 SM - 0
> - munculnya Hinayana
> - di India
> - orang suci : Arahat
>
> Periode II : 0 - 500 M
> - munculnya Mahayana
> - menyebar ke Asia Timur
> - orang suci : Bodhisattva
>
> Periode III : 500 - 1000 M
> - munculnya Tantra dan Ch'an
> - pusat agama Buddha yang kreatif ada di luar India (khususnya Cina)
> - orang suci : Siddha
>
> Periode IV : 1000 - sekarang
> - statis
> - tersebar ke Barat sejak 1819, mula-mula naskah Pali, kemudian Zen dan
> naskah Mahayana, dan akhirnya Tantra.
>
> Kemunculan Hinayana, Mahayana, Tantra dan Ch'an, semuanya dapat dilihat
> bertujuan mulia untuk melestarikan semangat asli ajaran Buddha.
>
> Ketika semakin sedikit yang mampu menghafal Sutra di luar kepala, maka
> disusunlah Abhidharma, dengan tujuan mulia melestarikan semangat asli
> Buddha. Sayang periode Hinayana ini ditandai keasyikan skolastik dan
> melupakan masyarakat awam. Para bhikkhu tanpa dukungan masyarakat awam
> tentunya tidak mungkin bertahan.
>
> Menjadi jelas kemudian kalau cita-cita Bodhisattva dimunculkan untuk
> menggantikan cita-cita Arahat pada periode kemunculan Mahayana. Menjadi
> jelas pula yang disebut arahat-yang-egois bukanlah Arahat yang
> sesungguhnya, tetapi mereka yang pada saat itu melupakan masyarakat awam.
> Jadi Mahayana bertujuan mulia untuk mengembalikan semangat asli Buddha.
>
> Tetapi Mahayana dalam mengembangkan doktrinnya ternyata juga
> over-intelektualisasi. Muncullah Tantra dan Ch'an yang dengan tujuan mulia
> untuk melestarikan semangat asli Buddha, membendung over-intelektualisasi
> tersebut dengan kembali mengutamakan latihan dan praktik.
>
> Catatan :
> - Hinayana di India terutama adalah Sarvastivada, yang Sutra, Vinaya,
> maupun Abhidharma-nya kini menjadi bagian dari Tripitaka Mahayana.
> - Theravada adalah bentuk agama Buddha yang kemudian berkembang di
> Srilanka. Abhidhamma-nya berbeda dengan Abhidharma Sarvastivada. Theravada
> diwarnai oleh Acariya Buddhaghosa.
>
>
> Kurang lebih 40 tahun terakhir ini kita melihat fenomena baru dalam upaya
> melestarikan semangat asli Buddha, yaitu Agama Buddha Nonsektarian dan
> Socially Engaged Buddhism.
>
> Dalam kata pengantar buku "Heartwood of the Bodhi Tree" karya Acariya
> Buddhadasa dari Thailand, Santikaro Bhikkhu menulis :
> "Unconcerned with narrow-minded sniping between Theravada and Mahayana,
> Buddhadasa Bhikkhu seeks, rather, Buddhayana, the Buddha's vehicle, the
> original pristine Dhamma at the heart of all genuine and living Buddhist
> schools."
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Would you Help a Child in need?
It is easier than you think.
Click Here to meet a Child you can help.
http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya.
Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan;
tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan;
serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh.
Kami mengikuti jalur perhatian penuh,
latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam
agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian.
Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih,
menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa
akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan
tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta
sahabat-sahabat kami.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/