Bro Yamin, Karma.. kenapa harus takut... justru kalau kita tahu bahwa dengan banyak berbuat baik akan mendatangkan kebahagiaan, maka perbanyaklah berbuat baik. Namun kalau kita tahu akibat berbuat jahat itu adalah penderitaan maka kurangi/jauhi perbuatan jahat itu. Kan simple... Kalau anda dijawab bahwa semua adalah kuasa Tuhan, apakah hal ini sama dengan kita adalah ROBOT terus apa donk peranan "Kehendak Bebas" yang selalu digembar-gemborkan ??? ini tentunya mengandung kontradiksi antara Kehendak Bebas & Kuasa Tuhan.
Namun dalam ajaran Buddha, secara gamblang dituliskan "buatlah pulau pelindung bagi dirimu sendiri". Ada satu cerita menarik yang pernah diulas di beberapa milis waktu lalu, berikut saya posting lagi: ======================================================== Kuala Lumpur, Malaysia -- I know a Sinhalese family living in England. The wife is a pious Buddhist but the husband is not particularly religious although he is an very honest and kind person - religious without calling himself so. He is also a very no-nonsense kind of person. To the mother's great distress the oldest daughter has become a very fanatical evangelical Christian and she insists on praying every night before the family start eating. Being a tolerant Buddhist the mother lets her do this, the father sits there impatiently waiting for her to finish and the other children smile to themselves, thinking that their sister has 'gone a little loose'. Evangelicals love to do this sort of thing. They will use every opportunity to push their religion into the center of attention. If they are Christian they will insist on letting you know it. One of the things the daughter would often say as she prayed was 'Thank you Jesus for this food that we eat with gratitude tonight'. One night, after months of listening to such things the father decided he had had enough. He roared; 'It is not Jesus who puts this food on the table every night but me. It is I who work 50 hours a week to get the money to buy what we eat, not Jesus. If you ever say that again I will throw you out of this house and then you can ask Jesus to get you another place to stay'. =========================================== Dari cerita di atas bisa ditarik kesimpulan... apakah benar Tuhan yang memberi kita makan, apakah benar Tuhan yang memberi kita uang ? Bukan kan.. tentunya hasil kerja keras kita sendiri yang membuahkan penghasilan / uang, dan kita belikan makanan. Salam, Suwarno --- In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jadi, karma bukan sesuatu untuk kita takuti ya ? > Jadi sebenarnya kita (umat Buddhis) tidak sombong dan egois dalam > melakukan bantuan kepada orang ? apakah itu dalam bentuk dana, tenaga, > pikiran > > Tapi di kita setiap mau berdana atau melakukan bantuan selalu terselib > "Menanamkan Karma baik" > Sedangkan di mereka setiap memberikan bantuan mengatakan "Kuasa Tuhanlah > yang telah bekerja melaluiku" "Tuhanlah yang bekerja menggunakan tangan > dan kakiku, saya hanyalah sebagai perantara saja" (bukan setiap > kali,..tapi sering. Mungkin ini sama seperti mukzizat atau apapun > sebutannya tapi intinya mereka tidak menonjolkan diri dalam melakukan > usaha bantuan) > > dengan pernyataan demikian saya merasa mereka tidak egois...tidak ada > AKU loh yang bantu Kamu,...AKU loh dan AKU loh.... > saya kalah berdebat jika udah sampai seperti ini....binggung benaran > maklumlah newbie yg belum punya banyak Teori > > metta > yamin > > > SWLiang wrote: > > > Bro Yamin, > > > > Nampaknya si-penanya adalah tidak mengerti dengan benar tentang > > konsep Karma, dan si-penanya nampaknya tidak mengerti benar Kebenaran > > sebagai Kesunyataan, namun kebenaran yang menurut "Katanya". > > Berikut saya kutip dari penjelasan Bhante Saddhaviro ketika ber- > > Dhammadesana beberapa waktu lalu di bulan April 2005 di Cetiya Buddha > > Manggala Batam yang mana sekaligus saya tambahkan beberapa comment > > dari saya. > > " ... Bahwa ada 3 macam cara pemahaman kebenaran itu sebagai > > kebenaran yaitu: > > 1. pemahaman berdasar "Katanya", contohnya adalah dari membaca kitab > > suci spt: Tripitaka, Alkitab, Al-Quran dsb... semuanya adalah katanya > > kitab suci. Dan setiap Kitab Suci akan meng-klaim bahwa dirinya > > adalah yang benar. Orang yang demikian, dengan memahami cuman > > berdasar Kitab Suci maka pandangannya akan sempit, dan pemahaman > > kebenarannya hanya sebatas katanya Kitab Suci. > > 2. pemahaman berdasar "Kenyataannya", contohnya adalah orang menjadi > > berubah agama/keyakinan setelah melihat, menyaksikan peristiwa yang > > menurutnya adalah mukjizat, seperti doa penyembuhan, saat orang > > tersebut didoakan oleh bhikkhu/pendeta/kyai dan menjadi sembuh, maka > > dia merasa bahwa doa itu manjur, maka dia berubah keyakinannya. Namun > > ketika satu saat dia sakit kembali dan minta bhikkhu/pendeta/kyai itu > > untuk mendoakan kembali, hasilnya nihil atau tidak sembuh sama > > sekali. Nah dari sini nampak bahwa kenyataan bisa berbeda untuk > > setiap orang, setiap waktu dan setiap tempat. Namun apabila kita > > mendasarkan keyakinan pada kenyataannya, maka keyakinan itu tidaklah > > berlaku di setiap tempat dan setiap waktu serta untuk setiap orang. > > > > > -- > No virus found in this outgoing message. > Checked by AVG Anti-Virus. > Version: 7.0.323 / Virus Database: 267.6.9 - Release Date: 6/11/2005 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Would you Help a Child in need? It is easier than you think. Click Here to meet a Child you can help. http://us.click.yahoo.com/sTR6_D/I_qJAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
