Tertarik juga saya menanggapi tulisan sdr. Palm Spring,

Saya kira bukan karena "kesadaran bathin" yang menyebabkan beberapa umat
Buddhis pergi ke Vihara dengan berpakaian kurang sopan dan tidak tertib
dalam mengikuti kebaktian, justru sebaliknya karena mereka tidak sadar akan
apa yang sedang mereka lakukan pada saat itu.
Tugas kitalah yang sadar bahwa hal-hal tersebut tidak tepat dan menyadarkan
mereka agar berperilaku sopan dan tertib dalam mengikuti kebaktian.

Kebanyakan dari umat di atas mungkin pikirannya tidak ada di dalam
kebaktian itu sendiri (tidak berada dalam saat ini), namun memikirkan apa
yang akan mereka lakukan seusai kebaktian. Misalnya seusai kebaktian akan
jalan2, pergi ke mall, pergi ke pesta, etc., yang membuat mereka berpakaian
sesuai dengan tempat tujuan mereka seusai kebaktian.

Saya kira bagi umat yang "sadar bathin" akan makna dari kebaktian akan
berpakaian sopan dan tertib dalam mengikuti kebaktian. Dan untuk
menyadarkan mereka yang belum sadar akan makna dari kebaktian itu sendiri
bisa dilakukan misalnya dengan memasang tulisan yang besar didepan pintu
masuk Vihara, agar umat berpakaian rapi dan sopan selama mengikuti
kebaktian, dan melarang berbicara hal2 yang tidak perlu selama kebaktian
berlangsung. Juga dengan memilih topik dhammadesana yang berbobot dan tidak
membosankan sehingga umat tertarik untuk mendengarkan dhammadesana tersebut
daripada berbicara sendiri dengan temannya selama kebaktian.

Salam Metta.




                                                                           
             "Palm Spring"                                                 
             <[EMAIL PROTECTED]                                             
             tmail.com>                                                 To 
             Sent by:                  <[email protected]>        
             [EMAIL PROTECTED]                                          cc 
             roups.com                                                     
                                                                   Subject 
                                       Re: [Dharmajala] Antara Takut dan   
             06/15/2005 11:11          Sadar: Tentang lancai dan berisik   
             PM                                                            
                                                                           
                                                                           
             Please respond to                                             
             [EMAIL PROTECTED]                                             
                 roups.com                                                 
                                                                           
                                                                           




permisi numpang lewat..., agak beda tapi saya rasa relevan.

Rasa takut itu bisa sangat berguna.
Dalam Agama Buddha sendiri, yang alirannya menekankan pada ritual dan
mekanisme karma, seperti contohnya diuraikan dalam kitab sebab-akibat yang
kadang dijumpai di kelenteng / vihara, manusia diingatkan untuk tidak
berpikir / sadar, tapi melalui ancaman akan karma buruk, bisa mencegah
orang tsb untuk melakukan hal bodoh. Di gereja misalnya, umat
diindoktrinasi bahwa karena itu rumah Tuhan, maka umat berpakaian dengan
sopan dan tertib (tidak berisik).  Umat tidak boleh berpikir jika benar itu
rumah Tuhan, mengapa ada yang dibiarkan kebanjiran oleh Tuhannya ? Rapi dan
tertib, ini merupakan manfaat yang begitu bajik dari suatu metoda yang
mendasarkan bahwa "manusia itu lemah, mesti ditakut-takutin".


Jalur yang menekankan kesadaran dan melihat ketakutan sebagai hal yang
negatif, bisa sangat tidak berguna dan berbahaya.
Ajaran Buddhisme memang mengolah kesadaran bathin umatnya.

Tapi di vihara-2 utama di Jakarta, saya sering menjumpai umat berpakaian
lancai (lancai tidak sama dengan rapi & sederhana): yang cowok pakai kaos
seadanya (bukan kemeja rapi dan sederhana), yang cewek bisa pakai celana
pendek sekali, meskipun itu ibadah sore/malam.  Saya tidak munafik, suka-2
saja lihat paha cewek apalagi kalau mulus. Tapi kalau saya ke vihara, saya
inginkan suasana rapi dan tertib, kalau mau lihat paha mulus saya mendingan
ke nightclub.  Silahkan saja coba ke vihara-2 utama di JKT (Lodan, Ekayana,
Sunter) pada jam kebaktian umum.  Tidak jarang disekitar saya/Anda, umat
sibuk ngobrol sendiri selama kotbah kebaktian, paling waktu meditasi diam
("langsung jadi arahat"), dan waktu baca parita, suaranya keras dan tertib.
Silahkan perhatikan mereka yang sibuk berbicara, dan Anda akan merasakan
sendiri bahwa yang sibuk berbicara itulah yang (seolah-olah) BENAR !
Meskipun sudah diperingati oleh pembicara kebaktian, masih saja umat-2 ini
sibuk ngobrol, bahkan kalau perlu makin seru....... HP
juga...haiya....kangtao masuk lah........kebaktian?? Ada orang kotbah di
depan ? Ah, ini kan bukan rumah Tuhan....ini rumah untuk tingkatkan
kesadaran batin lah.......... KESADARAN......??? Haiya......

Seringkali saya mengalami ini, dan seringkali saya sangat tergoda untuk
melihat orang-2 lancai dan berisik begini agar masuk gereja saja, sebab
disana mereka akan bisa malu, sedangkan di vihara susah sekali untuk malu.
Coba saja, eksperimen ke gereja utama di kota Anda (dan bandingkan dengan
situasi waktu kotbah, di vihara utama di kota Anda). Coba di gereja, Anda
duduk dan terus ngobrol sendiri, kalau ngga malu, sebab lingkungan umatnya
tertib dan rapi. Mereka bisa saja tertutup pikirannya, tapi pilih mana :
"sadar" tapi jadi kampungan (sambil merasa sadar bahwa kampungan begini itu
betul adanya), atau "takut" (tidak sadar), tapi jadi membentuk masyarakat
yang rapi dan tertib ketika kotbah berlangsung ?

Saya tidak capai menuliskan hal yang sama ini lagi dan lagi, sebab hal
begini dari dua tahun lalu sampai sekarang, ternyata TIDAK BERUBAH
....ajaib bukan ? .... Artinya untuk membuat rapi dan tertib aja -- ini
ngga usah ngomong metta, mudita, panna -- itu lebih efektif kalau pakai
efek "ancaman"......: RIBUT KETIKA KEBAKTIAN ....ALAM PETA AKIBATNYA.......

Sampai saat ini saya masih malu ajak umat gereja (lagi) ke vihara, sebab
perbandingannya seperti ini, jelas menimbulkan kesan negatif, bukannya
simpatik, terhadap Buddhisme. Saya pernah coba, dan malu. Saya coba lagi,
saya malu lagi. Jika saya coba lagi, saya kuatir jangan-2 saya malah
mempromosikan kejelekan sikap umat vihara daripada demi memajukan Buddhisme
itu sendiri.

Semoga umat Buddhist makin dihormati secara konkrit, melalui sikpanya yang
rapi dan tertib selama kebaktian, oleh umat beragama lain.
Bukan di teori, tapi praktek, spt di contoh di atas.

PS.



----- Original Message -----
 From: Wijaya
 To: [email protected]
 Sent: Tuesday, June 14, 2005 11:37 AM
 Subject: Re: [Dharmajala] Re: Mengapa Berbuat Baik ? * Bro Wijaya *

 Namo Buddhaya,

 Pemikiran saya memakai asumsi:
 "Tuhan menguji Nabi Ibrahim agar mengorbankan anaknya sendiri. Ditaati
 dengan iklas oleh Nabi Ibrahim, tapi ketika hendak dilaksanakan, Tuhan
 kemudian mengubah perintahnya, agar korban itu, anaknya, diganti dengan
 domba saja."


 Gunawan Kurnia
 > Tan Jan Sui fwd by Wijaya :
 > Dalam pengertian Agama Buddha, rasa takut, walau dalam bentuk apapun
 juga,
 > tetap merupakan suatu penghalang yang membuat bathin manusia menjadi
 > tertekan dan tertindas sehingga tidak dapat berpikir dengan pandangan
 luas,
 > bebas dan terbuka.
 > Sungguh menyedihkan, bila agama yang seharusnya bisa membawa perasaan
 tenang
 > malah mempertebal rasa takut yang tidak beralasan dari para pengikutnya.
 >
 > GK :
 > Bro Wijaya,
 > Kalo begitu, apakah statement di atas nggak kontradiktif dengan 'ottapa'
 ?
 --------------
 Wijaya:

 Tidak.
 Yang satu takut pada HUKUM KARMA, yang satunya takut pada
 PERINTAH--Penguasa, Tuhan.

 Di konsep Hukum Karma, tak kenal perintah Sang Penguasa. Jadi, umatnya
 bisa
 berpikir merdeka. Bisa meninjau perintah siapapun atau tindakan yang AKAN
 diambil dari segi keadilan, kemanusiaan, kasih, bermanfaat atau merugikan
 pihak lain. dlsb.

 Di konsep DOSA--agama Samawi--, ada PERINTAH, yang jadi penilaian adalah:
 TAAT atau TIDAK TAAT. Dengan penilaian demikian, maka peninjauan umatnya
 pada segi keadilan, kemanusiaan, kasih atas satu perintah menjadi sesuatu
 yang mubasir. Bila tidak mau dinilai sebagai bentuk KERAGUAN, Iman yang
 ngga
 bulat.

 Dengan melihat sejarah agama2, saya pikir konsep KETAATAN itu membuka
 peluang pada pemimpin agama Samawi untuk mengarahkan umatnya, bahkan
 sampai
 pada perang, misalnya. Karena pimpinan agama bisa saja menyatakan satu
 tindakan adalah perintah Tuhan(ayat kan bisa dimaknai bermacam-macam) dan
 Umat tidak punya pilihan lain, selain TAAT. Akibatnya, ketika satu umat
 menyerang, menghabisi kelompok lain(bahkan yang seagama tapi beda sekte
 saja), umat tersebut justru berpikir tindakannya itu adalah BAIK SEKALI,
 karena TAAT pada perintah Tuhan.

 Beda dengan Buddhisme, umatnya tidak gampang diarahkan pimpinan agamanya
 ke
 arah yang bertentangan dengan konsep karma. Karena hukum karma adalah
 fixed.
 Membunuh nyamuk aja buruk, bagaimana pimpinan agama Buddha bisa
 mengarahkan
 Umat Buddha, agar umatnya mau menghabisi kelompok lain tapi si Umat
 berpikir
 itu adalah karma baik? Sulit, kan?


 GK:
 > Tan Jan Sui fwd by Wijaya :
 > Mengapa berbuat baik ?
 > Kami berbuat baik karena kami sadar, tahu dan mengerti dengan jelas akan
 > manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan perbuatan itu.
 >
 > Komentar SCh ( seorang rekan ) :
 > Manakah yang terbaik di antara pilihan berikut :
 > 1. Berbuat baik karena diperintah ( oleh yang lebih kuasa ).
 > 2. Berbuat baik karena takut atas hukuman.
 > 3. Berbuat baik karena takut atas akibat kejahatan.
 > 4. Berbuat baik karena tau hasilnya juga kebaikan ( manfaat ).
 >
 > GK :
 > Ada pilihan lain, yang gampang diomongin tetapi susah dilakonin, yaitu :
 > 5. Berbuat baik demi perbuatan baik itu sendiri.
 > Maksudnya, kalo memang mau berbuat baik mah, just do it aja lah, then
 forget
 > it.
 > Kaisar-heng pernah kasih contoh yang menurut saya tepat sekali, kurang
 > lebihnya seperti di bawah ini.
 >
 > Analoginya kira-kira kaya' orang b***k gitu lah.
 > Orang yang lagi boker itu dianalogikan sebagai orang yang lagi berbuat
 baik,
 > bersih-bersih kotoran, gitu lho.
 >
 > Kalo kita lagi b***k itu 'kan gara-gara apa yang kita makan.
 > Tapi kita nggak mikirin itu t***i tadinya sayur lodeh, nasi goreng, ayam
 > bakar, cap cay atau puyonghay.
 >
 > Habis b***k, kita juga nggak mikirin itu t***i lari ke mana.
 > Yang penting, habis b***k mah jangan lupa c***k dan cuci tangan.
 > Huehuehue ... ^_^
 ----------
 Wijaya:
 Pilihan 2 dan 3, nggak logis.
 Pilihan ke 5 adalah pilihan mereka yang egonya sudah tipis atau habis.

 Maksud kotbah kaisar Huang tersebut bukan ke arah ini. Beda konteks.
 Kotbah kaisar itu tentang: kalau sudah berdana atau berbuat baik pada
 orang
 lain, jangan diungkit-ungkit lagi. Nggak perlu disebar luaskan, ataupun
 disesali. Karena kalau setelah diingat, lalu timbul perasaan MENYESAL
 [Sialan, dikasih angpao bukanya buat beliin obat bininya, malah dibeliin
 arak/togel!, misalnya.], maka penyesalan(dosa dalam istilah Buddhis) ini
 adalah termasuk karma buruk.

 Tapi, ada Bhante jelasin, perbuatan baik kita, patut diingat, dengan
 maksud
 ketika mengingat kebaikan kita, timbul rasa bahagia, ini menjadi
 pendorong
 agar kita mengulang perbuatan baik itu lagi.

 Jadi masalahnya bukan DILUPAKAN atau PATUT DIINGAT, tapi tujuan kita
 melupakan dan tujuan kita mengingat kebaikan yang telah kita lakukan.

 Salam metta
 Wijaya

 Send instant messages to your online friends
 http://asia.messenger.yahoo.com




 ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri
 saya maupun di luar diri saya **

 ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami
 taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian
 dan cinta kasih yang kokoh **

 ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
 secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga
 terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

 ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
 welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore
 hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama
 melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur
 kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **



 ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri
 saya maupun di luar diri saya **

 ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami
 taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian
 dan cinta kasih yang kokoh **

 ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
 secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga
 terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

 ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
 welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore
 hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama
 melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur
 kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **


 Yahoo! Groups Links
       To visit your group on the web, go to:
       http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

       To unsubscribe from this group, send an email to:
       [EMAIL PROTECTED]

       Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/UwRTUD/UOnJAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke