SUARA PEMBARUAN DAILY
----------------------------------------------------------------------
----------
Ke Tibet, Mereka Pergi
TIBET? Berapa banyak orang Indonesia yang tahu negara itu ? Aha,
dalam versi Republik Rakyat Cina (RRC), Tibet bukan sebuah negara.
Tibet hanya bagian dari RRC.
Tapi bagi sebagian besar rakyat Tibet, apalagi yang masih mengakui
Dalai Lama sebagai pimpinan negara dan spiritualnya, Tibet milik
Tibet. Tindakan RRC mengklaim dan memang mengirimkan pasukannya ke
Kota Lhasa puluhan tahun lalu, adalah pencaplokan.
Tibet. Negeri di atas awan. Negeri impian para petualang fisik maupun
spiritual. Bagian pegunungan Himalaya yang masuk wilayah Tibet seakan
magnet kuat bagi banyak kalangan di dunia.
Tidak perlu heran, jika banyak di antara pelancong ke Tibet, harus
bersusah payah menyesuaikan cuaca yang berbeda dengan cuaca di negeri
asalnya. Tidak sedikit yang harus pulang ke negerinya sebelum bisa
menikmati keindahan Tibet hanya karena tipisnya oksigen di negeri itu.
Tapi semua kesulitan itu, tapi semua cerita tentang keindahan dan
dunia spiritual Tibet itulah yang membetot enam pencatat dan peziarah
asal Indonesia mau bersusah payah bergerak menuju Tibet.
Mereka, Yori Antar, Raudia Kepper, Enrico Soekarno, Jay Subyakto,
Krish Suharnoko dan Ella Ubaidi. Mungkin hanya ada satu kesamaan di
antara mereka. Selebihnya, mereka mempunyai profesi masing-masing.
Mereka memang ingin mengetahui, duhai gerangan, seperti apakah Tibet
itu. Apa yang sebenarnya terjadi di negeri itu.
Yori dan Krish adalah arsitektur. Jay, siapa pula yang tidak tahu
pria berambut panjang ini. Ia sutradara video musik. Enrico, seorang
seniman yang sering mengadakan pameran foto, gambar, lukisan di
berbagai negara. Hasil penjelajahan ke enam penziarah itu - meminjam
istilah Enrico - dituangkan dalam sebuah buku memikat bertajuk, Tibet
di Otak. Buku penuh foto, dokumentasi perjalanan yang penting
diketahui siapa pun yang ingin mengetahui Tibet.
Keenam pencatat itu harus berpacu dengan waktu, berjuang melawan
dingin dan rasa sedih di hati menyaksikan Tibet yang merana akibat
nafsu kekuasaan negara tetangganya. Mereka berencana akan
menyumbangkan semua keuntungan penjualan bukunya untuk rakyat Tibet.
Jangan kaget jika membaca kata pengantar karya Dalai Lama dalam buku
itu. Tokoh perjuangan Tibet yang sekarang harus meninggalkan
negerinya itu, menulis tentang hubungan erat antara Tibet, Buddha,
dan Indonesia di masa lampau.
Menurutnya, ribuan tahun lalu, tentu saja sebelum Indonesia berdiri,
tokoh spiritual Buddha yang besar jasanya bagi pengembangan agama
Buddha di Tibet, Atisha Dipankara, menuntut ilmu ke wilayah yang
sekarang menjadi bagian Indonesia. Ia tinggal dan belajar agama
Buddha di Sumatera pada seorang guru spiritual bernama Dharmakirti.
Dharmakirti, menurut Dalai Lama ialah, Lama Serlingpa yang sangat
dihormati warga Tibet.
Dalam catatan keenam pencatat itu, Tibet dilanda culture genocida,
istilah yang mulai dipopulerkan para aktivis HAM saat ini yang
mengandung arti, penghancuran budaya. Jejak-jejak penghancuran
kekayaan budaya Tibet itulah yang mendominasi foto, lukisan dan
catatan keenam penziarah itu.
"Duh, Istana Potala di Lhasa yang terkenal itu nyaris tidak kami
temukan. Sekarang banyak toko-toko suvenir di kawasan itu.
Mengenaskan. Tibet telah dihancurkan tapi kami yakin Tibet akan
menemukan jalan lain yang menyenangkan," kata Yori di tengah-tengah
peluncuran buku Tibet di Otak. (A-14)
----------------------------------------------------------------------
----------
Last modified: 21/4/05
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/