Dear all, Saya sependapat dengan langkah2 yang disarankan oleh Pa Hud. Langkah-langkah yang cerdas dengan prinsip mengembangkan apa yang sudah ada. Dan untuk menjalankan apa yang disarankan oleh Pa Hud pun, kita akan menghadapi tantangan dan kendala yang segunung karena 1 alasan yang sangat prinsipil. Mayoritas Buddhis cuma bisa OMDO. Bisa kasih pendapat, tapi tidak mau menyingsingkan lengan baju untuk terjun merealisasikan apa yang dia katakan. Singkat kata, untuk menjalankan langkah2 yang telah dijabarkan Pa Hud, masing2 wihara dan organisasi Buddhis akan tersengal-sengal bagaikan orang bengek yang diminta untuk lari sejauh 100 meter. Tidak cukup orang yang peduli, terlebih-lebih tidak cukup orang yang peduli dan mau meluangkan waktu, terlebih-lebih lagi orang peduli yang mau meluangkan cukup banyak waktu. Mayoritas cuma bisa OMDO. Mau hasil tapi tidak mau usaha. Pandai kasih pendapat tapi tidak kasih upaya.
Bukan saya tidak sepaham dengan mendirikan sekolah Buddhis. Saya sangat mendukung langkah tersebut bahkan saya pernah menuliskan sebuah artikel mengenai Pendidikan Buddhis dan bersama-sama teman2 mengorganisir dialog interaktif serta peluncuran buku yang berjudul "Mencari Format Pendidikan Buddhis Abad 21" pada bulan Mei tahun 2003 lalu. Dialog interaktif ini sedianya akan digelar sebanyak 6 kali dan diharapkan akan berakhir dengan tercapainya kesepakatan dari semua komponen Buddhis untuk bahu membahu secara all out menangani masalah pendidikan Buddhis. Tapi setelah membaca situasi yang ada, terutama setelah bertemu muka dan berinteraksi dengan pemuka2 Buddhis yang terkenal (yang bisa saya jangkau), saya putuskan untuk menangguhkan proyek ini. Saya merasa buang2 waktu dan bagaikan membuang gunung Himalaya ke dalam samudra. NO EFFECT! ORA MUDENG. Lebih baik cepat2 banting setir dan segera mendarat ke bumi dan melakukan hal yang lebih realistis, yaitu belajar, berlatih, dan berbagi Hidup Berkesadaran dan SEB melalui Program Dharmajala dan semoga melalui Program Dharmajala, 30 tahun kemudian, kawan2 yang sekarang berusia 20 tahunan kelak akan menjadi PEMIMPIN di wihara maupun organisasi Buddhisnya masing2. Mudah2an setelah lewat proses penempaan diri dan kolektif yang cukup panjang, Pendidikan Buddhis yang berlandaskan pada "Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam maupun di luar diri saya", akan terwujud. Pendidikan yang bukan cuma semata-mata ditempeli label Buddhis. Yang disebut Buddhis karena yang punya beragama Buddha, kepsek dan para gurunya beragama Buddha, murid2nya mayoritas beragama Buddha. Bukan itu. Tapi pendidikan yang memang pantas disebut Pendidikan Buddhis karena berlandaskan pada "Menyadari apa yang sesungguhnya yang sedang terjadi di dalam maupun di luar diri saya" dan yang kontekstual dengan realitas politik, ekonomi, budaya, sosial, dan teknologi kita saat ini. Saudara-saudari seDharma, Kalau anda tersentuh, Kalau anda tertantang, Kalau anda tak ingin sekadar OMDO, Kalau anda berkomitmen untuk betul2 memperjuangkan Pendidikan Buddhis, Kapan saja, di mana saja, saya siap bersinergi dengan anda. Salam Perjuangan JL --- In [email protected], "Giri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pa Hudoyo: > *** > Berikut ini saya sampaikan kepada seluruh umat Buddha di forum ini, > langkah-langkah apa yang bisa kita perbuat untuk memperkuat iman umat > Buddha--khususnya anak-anak dan para remaja--terhadap Buddha Dharma: > > 1. WADAH: > > 1.1 Perbanyak sekolah-sekolah minggu Buddhis di semua vihara, dan kalau > bisa di semua kelenteng. > > 1.2 Perbanyak organisasi muda-mudi Buddhis di semua vihara, dan kalau bisa > di semua kelenteng. > > 1.3 Mulai adakan kebaktian-kebaktian mingguan di kelenteng-kelenteng yang > belum menyelenggarakannya. > > 2. MUTU: > > 2.1 Tingkatkan kurikulum pendidikan agama Buddha di semua sekolah minggu > Buddhis yang ada, dan di semua organisasi muda-mudi Buddhis yang ada. > Belajarlah dari sekolah minggu Kristen, dan organisasi muda-mudi Kristen. > > 2.2 Tingkatkan pengetahuan dan ketrampilan para guru sekolah minggu Buddhis > yang ada, dan para aktivis organisasi muda-mudi Buddhis yang ada, dengan: > > 2.2.1 Terbitkan buku-buku panduan praktis (manual) pengajaran agama Buddha > di sekolah minggu Buddhis dan di kalangan remaja. Gunakan metode-metode > pengajaran modern yang terbukti efektif dan praktis. Sekali lagi belajarlah > dari pengalaman agama Kristen. > > 2.2.2 Sebarluaskan pengalaman keberhasilan (success stories) dari > sekolah-sekolah minggu Buddhis dan organisasi muda-mudi Buddhis tertentu > melalui kegiatan "Lokakarya Guru-Guru Sekolah Minggu dan Aktivis Remaja > Buddhis" yang diadakan setahun sekali dan diikuti oleh para guru sekolah > minggu dan aktivis remaja dari semua vihara/kelenteng di suatu wilayah > tertentu. > > 2.2.3 Rekrut para pakar ahli pendidikan anak dan pakar psikologi anak untuk > menyumbangkan pemikirannya dalam "Lokakarya Guru-Guru Sekolah Minggu dan > Aktivis Remaja Buddhis" tersebut dalam 2.2.2. > > 3. PROMOSIONAL: > > 3.1 Rencanakan dan organisasikan suatu kampanye yang efektif dan > berkesinambungan untuk mengajak anak-anak Buddhis dari kelenteng-kelenteng > yang belum punya sekolah minggu untuk ikut sekolah minggu di vihara yang > berdekatan. > > 3.2 Rencanakan dan organisasikan suatu kampanye yang efektif dan > berkesinambungan untuk mengajak para orang tua Buddhis dari > kelenteng-kelenteng yang belum punya kebaktian mingguan untuk ikut > kebaktian mingguan di vihara yang berdekatan. > > 3.3. Rencanakan dan organisasikan kampanye yang sama dengan menyisir tempat > tinggal (RT, RW dst) dari umat Buddha KTP yang menjadi sasaran. > > Kegiatan promosional ini kedengarannya sederhana dan mudah, tapi agar > benar-benar efektif, harus direncanakan, diorganisasikan, dikelola dan > dievaluasi secara berkelanjutan. Berilah nama pada kegiatan promosional > ini, misalnya: "Kampanye Pemahaman Buddha Dharma untuk Umat Buddha". > > Belajarlah dari sekte-sekte seperti Saksi Yehovah, Nichiren Shoshu dll > bagaimana mereka mempromosikan ajaran mereka dan mendapatkan umat. Landasan > dari kampanye seperti ini haruslah: pendekatan orang-ke-orang dan > pendekatan keluarga-ke-keluarga. > > Saya rasa, kegiatan-kegiatan seperti ini jauh lebih feasible dan relatif > murah dibandingkan mendirikan satu sekolah Buddhis, yakni: mengembangkan > apa yang sudah ada, daripada membuat sesuatu yang baru yang sering kali > tidak feasible. > > Salam, > Hudoyo ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
