|
Bisa dikonfirmasi???
"Seorang Pacceka Buddha dapat lahir kapan saja (pada saat ajaran Buddha
masih ada maupun sesudah lenyap)."
Sepengetahuan saya: Pacceka Buddha hanya akan
muncul pada masa "kekosongan" Dhamma [tdk adanya pembabaran Dhamma oleh seorang
Samma Sambuddha]. Atau masa transisi antara 2 Samma Sambuddha.
----- Original Message -----
Sent: Friday, September 09, 2005
13:45
Subject: Re: [Dharmajala] Bisakah umat
yang tidak beragama Buddha mencapai nibanna?
Kita gak bisa setuju 100% dengan tulisan orang. Bahkan membaca kitab suci
pun, sering mengerutkan dahi.
Overall, menurut saya, tulisan Saggadhana patut dapat acungan
jempol.
Dengan pemahaman yang dia miliki, saya kira dia sudah punya jawaban dan
pendirian sendiri. sagga dhana <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Saya
ingin sedikit ikut nimbrung dalam diskusi dalam milis ini mengenai topik
diatas, mudah-mudahan saya memberikan masukan yang benar dan sesuai
dengan ajaran Buddha itu sendiri.
Ajaran agama Buddha ditemukan
oleh Sang Buddha Gautama dengan mengamati phenomena nama (bhatin) dan
rupa (jasmani) karena beliau ingin menemukan jalan untuk membebaskan
dirinya dari penderitaan. Bila seseorang melakukan hal yang sama, ia akan
mencapai kesempurnaan (nibanna).
Dalam dunia iptek, sang Buddha
dapat dipersamakan dengan Newton yang menemukan hukum gravitasi
hanya dengan mengamati apel yang jatuh. Tidak peduli apakah ia
beragama Kristen/islam/Buddha atau lainnya, asalkan ia menjatuhkan apel
dari atas maka gerakan apel tersebut akan mengikuti hukum Newton. Hal
yang sama dengan 4 kesunyataan mulia atau hukum agama Buddha lainnya
(hukum kamma, paticca samupada, dll) karena semuanya berdasarkan
kebenaran
Setelah menemukan hukum alam tersebut, Sang
Buddha menjabarkan dan mengajarkan kepada umat manusia. Semua orang
yang mengikuti ajaran yang diajarkan oleh sang Buddha disebut Siswa sang
Buddha, sedangkan orang yang mencapai kesempurnaan atau nibanna karena
mengikuti ajaran sang Buddha disebut Arahat
Bila ada orang yang
tidak mengenal agama atau ajaran Sang Buddha, namun ia melakukan ariya
magga dan meditasi intensif dalam bentuk perenungan perenungan (cara
yang sama dengan sang Buddha) dan ia mencapai kesempurnaan maka orang
tersebut disebut oleh umat Buddha sebagai Pacceka Buddha. Seorang pacceka
Buddha adalah orang yang mencapai kebuddhaan namun tidak memiliki
kemampuan mengajarkan kebenaran yang ditemukannya. Seorang Pacceka Buddha
dapat lahir kapan saja (pada saat ajaran Buddha masih ada maupun
sesudah lenyap). Sehingga untuk mencapai kesempurnaan
tidak perlu bagi seseorang untuk beragama Buddha. Pacceka Buddha yang
tercatat terakhir kali adalah Pacceka Buddha Matanga yang ceritanya dapat
dibaca pada alamat berikut ini : http://www.webcom.com/imcuk/uchittin/baswl/BASWL11.html. Beliau
mencapai kebuddhaan sebelum Siddhata gautama lahir
Bila suatu
ketika dimasa-masa yang akan datang, agama Buddha telah lenyap dari muka
bumi dan tidak ada satu orangpun yang mengenal ajaran Buddha maupun
istilah Buddha maka akan ada seseorang yang menemukan kebenaran ini,
mengajarkan kebenaran ini dan ia akan menyebut dirinya sebagai
Buddha. Maka beliau dikategorikan sebagai sammasambuddha atau Buddha
yang mengajarkan ajarannya.
Tidak mungkin ada dua sammasambuddha
pada periode yang sama. Oleh karena ajaran ini hanya bisa
ditemukan pada saat ajaran Buddha sudah lenyap, tentu saja beliau
tidak beragama Buddha. Ingat bahwa pada jaman dahulu pertapa gautama
merupakan penganut kepercayaan hindu
Apakah nibanna itu ?
.
Agama Buddha mengenal istilah tiga akar perbuatan yang terdiri
dari Lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kebodohan bhatin).
Lobha itu sendiri adalah reaksi menyenangkan yang dirasakan
seseorang atas sesuatu sehingga timbul keinginan untuk terus menerus
memiliki atau merasakannya. Sebagai contoh, seseorang yang menyenangi
kenikmatan yang ditimbulkan dengan memiliki uang (belanja, foya-foya)
maka ia akan cenderung untuk mengejar dan mendewakan uang.
Dosa adalah reaksi sebaliknya atas sesuatu yang
tidak menyenangkan sehingga kita cenderung membenci, menghindarinya
dengan segala cara. Sebagai contoh orang yang merasa senang akan uang dan
merasa bahwa ia akan sengsara bila tidak mempunyai uang maka ia
akan berusaha mati-matian untuk menghindari lenyapnya uang yang
dimilikinya.
Moha adalah kebodohan kita karena menganggap kedua
hal diatas itu real dan ketidak tahuan kita bahwa begitu hebatnya kita
ditaklukkan oleh dosa dan lobha, sehingga kita tidak menyadari betapa
melekatnya diri kita akan keinginan untuk mendapatkan sesuatu
yang menyenangkan dan keinginan untuk menghindari sesuatu yang tidak
menyenangkan
Nibanna adalah terjadinya perubahan pola berpikir
kita sehingga kita tidak melekat lagi akan tiga akar perbuatan diatas.
Nibanna dapat dicapai dalam kehidupan ini , saat ini , sekarang juga dan
tidak perlu menunggu mati sehingga nibanna sangat lain dengan surga
yang hanya bisa dicapai dengan kematian. Dengan terhapusnya keinginan
maka terhapus kemelekatan dan roda tunimba lahir ini.
Sehingga dikatakan nibanna diluar samsara dan nibanna disebut sebagai
Tanhakkhaya (Padamnya nafsu keinginan)
Jadi kita bisa melihat bahwa
pandangan orang yang menyatakan bahwa surga sama dengan nibanna
adalah tidak benar adanya, maka umat Buddha memandang surga hanya
bagian dari 31 alam kehidupan dimana maha pencipta juga merupakan
penghuni salah satu alam kehidupan tersebut
Bagaimana mencapai
kenibanna an ?
Ada yang beranggapan bahwa nibanna bisa dicapai
dengan banyak-banyak berbuat baik dan beramal. Namun bila kita melihat
konsep nibanna diatas dimana nibanna suatu keadaan yang dicapai dengan
perubahan secara total atas pola pikir kita maka kita bisa
membayangkan apakah nibanna bisa dicapai dengan banyak-banyak berbuat
baik.
Saya sama sekali tidak membantah bahwa perbuatan baik yang
dilakukan kita akan membantu tercapainya nibanna. Saya juga setuju bila
dengan berbuat baik semakin banyak maka jalan kita mencapai nibanna
semakin lapang. Saya sangat menyadari bahwa semakin sering kita
berbuat baik maka semakin cepat dan semakin dekat kita dengan nibanna
itu sendiri. Namun nibanna tidak akan bisa dicapai dengan hanya berbuat
baik saja. Mengapa???
Nibanna hanya bisa tercapai dengan ariya
magga dimana samma sati (vipassana) sebagai salah satu pilar utamanya
sedangkan dana sendiri tidak termasuk dalam salah satu unsur dari ariya
magga. Dana hanyalah menjadi pondasi dasar dari ariya magga dan bukan
ariya magga itu sendiri. Untuk membaca ariya magga lebih lanjut
silahkan klik alamat berikut ini http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=796&cont=dhammasari06.html&path=naskahdhamma/dhammasari&multi=T&hal=0&hmid=235
Bila
seseorang tidak beragama Buddha , namun ia menjalankan ariya magga
secara tidak sadar, ia menjalankan ariya magga secara intensif maka
ia pasti akan mencapai ke nibannaan. Dalam Buddha tidak perlu label
tidak perlu penyelamatan atau lainnya namun lebih mementingkan
tindakan nyata. Bahkan silabbataparamasa (kepercayaan bahwa
upacara/adat istiadat dapat membawa seseorang
mencapai kesempurnaan) dianggap sebagai salah satu dari 10
belenggu (samyojana) yang harus dipatahkan bagi umat yang ingin
mencapai kenibannaan. Untuk menmgetahui lebih lanjut
mengenai samyojana cek alamat berikut ini: http://www.palikanon.com/english/wtb/s_t/samyojana.htm
Yang
menjadi pertanyaan adalah bila umat agama lain, namun tidak menjalankan
ariya magga dan hanya mengikuti ajaran agamanya saja, bisakah ia
mencapai nibanna???? Anda bisa menyimpulkan sendiri.
Semoga
masukan diatas dapat menambah bahan diskusi dan bermanfaat bagi kita
semua
Dengan penuh
metta Saggadhana
___________________________________________________________
How
much free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE
with Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com
___________________________________________________________ How much
free photo storage do you get? Store your holiday snaps for FREE with
Yahoo! Photos http://uk.photos.yahoo.com
__________________________________________________ Do You
Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
YAHOO! GROUPS LINKS
|