Rekan Junaidy yth,
 
Jun:
maaf yah Romo Kreshna, bagian ini saya kurang sependapat.
masing2 boleh mencapai realisasi tertentu atau pencapain apapun, namun
belum tentu dia bisa menjelaskan dengan baik (mahir) sperti seorang
Buddha. lagipula kita butuh waktu utk mengetahui apakah dia meamng
betul2 telah mencapai  mata bathin atau sejenisnya, dan itu tepat
apabila diberikan kepada kita.

coba liat teman2 di dunia barat, mereka praktik meditasi entah apa,
atau sebagaian besar mereka praktik vajrayana, terus menceritakan
pengalamannya, ini itu, dan membuat orang tambah binggung, apalagi
bagi mereka yg belum siap, dan tak sedikit dari mereka yg meng-klaim
mencapai mata batin atau mata ke-3, dll, itu kan sungguh berbahaya,
apalgi bagi kita yg masih dlm tahap belajar, dan menerapkan sedikit
demi sedikit ajaran Buddha.

pencapain spiritual seharusnya tidak menjadi bahan show up, dan saya
yakin kita yg berada di berbagai level juga akan medapat efek
tersendiri.

saya malah takut ini pengkarbitan (maaf kalo istilahnya kurang pas),
kalau tiba2 dia ditunjukin pengalaman transendentalnya (sorry saya
juga blom pernah tau ini apa), terus shock bahkan membuat kehidupannya
berakhir...ini malah gawat (ini salah satu contoh). yah ini namanya
mau untung (mengetahui hukum karma) tapi menuai buntung. of course
vicee versa bisa terjadi.

karena hanya seorang yg betul2 mahir baru bisa memberi bimbingan,
bukan hanya telah mencapai pengalaman transendental, lantas sana sini
cerita.
 
Kreshna:
Pengalaman transendental dari banyak orang tidak perlu ditakuti. Ada yang merasa mempunyai tapi yang sesungguhnya hasil halusinasi. Kalau banyak orang jujur yang mau menceritakan nanti kan lama-lama orang mulai mempelajari dengan lebih profesional dan mulai diketahui mana yang halusinasi atau penipuan dan mana yang obyektif benar, memang hal ini perlu proses lama, tapi kalau tidak ada pelaku jujur yang mau menulis maka tulisan para penipu yang sengaja atau tidak sengaja itu yang akan kita terima.
Saya kira kalau ada pengalaman yang aneh, yang akan shock adalah orang yang mengalami bukan kita yang diceritain, suatu cerita itu tidak seseram pengalaman langsung.Justru kebenaran itulah yang membuat orang harus mengikuti apakah dia senang atau tidak. Kalau misalnya dikatakan bahwa orang yang membunuh seorang bikhu dilihat masuk neraka maka orang lain akan berpikir ribuan kali sebelum melakukan pembunuhan karena hal itu akan dirasakannya riil. Kalau oarnag yang berdana dilihatnya memperoleh kesempatan yang luar biasa menjadi kaya maka orang lain akan betul-betul bersedia berdana.

Jun:
menurut opini pribadi saya, itulah gunanya kita belajar sila, dan
mengenal lebih jauh, barusan saya ikut ceramah Suhu kofa (maaf kalo
salah tulis) di Vih Ekayana Graha, beliau menjelaskan pancasila
Buddhis dalam konteks yg lebih detail, dan saya belajar banyak dari
ceramah itu, beliau mengutip dari karya YM Gampopa (salah satu murid
YM Milerapa). yg kita tahu hanya panatipata, dan bberapa faktor saja,
namun ada aspek2 lain yg selama ini saya belum pernah dengar, seperti
mengapa bunuh? termotivasi oleh 3 racun (kebencian, kebodohan, dan
kemelekatan), contoh membunuh dgn benci karena perselisihan, membunuh
dgn cara bodoh yaitu tidak tau akibat membunuh, membunuh dgn
kemelekatan atas daging, bulu, kulit dsb.

setelah tau demikian, kita lebih aware, dan apabila kita memang sulit
menghindari pembunuhan, maka kita berusaha agar semua faktor ini tidak
lengkap, jadi karma buruk tidak separah yg kalo kita berbuat karma
buruk membunuh secara lengkap, ini yang saya anggap sebagai "terikat"
namun dgn memperhatikan rambu2 yg ada, tak hanya sadar, itu sama
sekali tidak cukup. kalaupun kita membunuh, kita sadar, tapi kita
tetap membunuh hasilnya ada, karma buruk juga tetap berjalan, namun
tidak 100% penuh, karena ada bbrapa faktor yg tidak lengkap, dan
akibatnya juga tidak seberat yg jika kita lakukan secara full.
 
Kreshna:
Anda bicara semacam ini karena anda percaya akan ajaran Sang Budha. Pernahkah anda berpikir, apa yang dipikirkan orang yang tidak percaya pada ajaran Sang Budha?. Percayakah mereka akan keterangan anda ?. Kita perlu berpikir keluar dari sistim kita berpikir baru bisa memahami mereka.
 
Semoga bermanfaat.
 
Kreshna



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke