Memang pertanyaan saya cukup mengelitik...

tapi pernyataan Anda menyatakan seakan-akan manusia
selalu benar dengan segala tindak tanduknya...
setidaknya dibenarkan oleh manusia sendiri... 

bagaimana Anda bisa tahu dari 'kacamata pri
kebinatangan' bahwa apa yang kita lakukan terhadap
mereka merupakan suatu kewajaran ?
kewajaran bagi siapa ? bagi manusia atau bagi hewan
tersebut ??

yang dibahas disini adalah permasalahan campur tangan
manusia 
dan apa yang dilakukan manusia terhadap hewan yang
dianggap *wajar*

jadi pembahasan bukan pada kehidupan satwa,..tapi
kepada prilaku manusia yang *wajar* terhadap satwa

saya tidak memandang melalui kacamata manusia...bahkan
saya melihat dari kacamata si walet (itu pun kalau dia
memakai kacamata) coba deh baca dengan teliti lagi
email saya terdahulu..

kalau saya melihat dari kacamata manusia...maka saya
juga akan mengatakan apa yang dilakukan manusia
terhadap walet itu adalah hal yang wajar...extrimnya
saya akan mengatakan itulah karmanya sang walet.... 

hal di atas tidak saya ungkapkan karena mencoba
melihat dari sisi walet.... 

coba deh anda baca ulang email saya yang terdahulu....
dari kacamata manakah saya menjawab email yang ada....

coba luangkan waktu untuk melihat *kewajaran* manusia
di http://www.petatv.com

with metta

yamin


--- Rudi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ha...ha..... Ini adalah pertanyaan yang cukup
> menggelitik. Saya memang tidak
> pernah menanyakan si Walet atau si Sapi apakah
> mereka menderita atau tidak.
> Tapi saya mencoba melihat dari sisi 'peri
> kebinatangan'. Dalam dunia hewan,
> apa yang kelihatan tidak manusiawi merupakan hal
> yang normal buat mereka.
> Bila manusia campur tangan dengan semangat metta
> atau manusiawi, barangkali
> malah akan mengacaukan keturunan hewan tersebut.
> Contoh : harimau dan singa
> jantan akan berusaha memangsa anaknya sendiri (
> apalagi yang jantan ),
> sejenis laba-laba Afrika melahirkan ratusan bayi dan
> si induk menyediakan
> diri sebagai santapan awal buat bayi-bayi tersebut.
> Contoh yang lebih
> 'ringan', dahulu manusia menganggap induk kucing dan
> induk buaya sangatlah
> kejam karena 'menggigit' anaknya. Penelitian
> terakhir membuktikan bahwa
> itulah cara membagi kasih sayang ala hewan.
> 
> Well, saya tidak ingin memperdebatkan tentang 'peri
> kebinatangan' vs 'peri
> kemanusiaan'. Saya juga tidak ingin memperdebatkan
> tentang penelitian atau
> wawancara terhadap bintang kita, si Walet atau co
> star-nya, si Sapi. Yang
> saya mau tekankan disini, janganlah memakai satu
> kacamata ( baca : kaca mata
> manusiawi ) untuk seluruh hal. Barangkali Anda benar
> dan barangkali juga
> persepsi saya terlalu kejam.
> 
> Bila membalikkan persepsi, bagaimana rumah kita di
> rusak dsb, wah itu
> analogi yang menurut saya kurang pas. Tapi OK, saya
> bisa menangkap maksud
> Anda.
> 
> Menanggapi bung Yusli tentang peternakan besar, Anda
> benar. Namun cobalah
> asosiasikan dengan pendidikan di negeri Cina,
> terutama bagaimana mereka
> mendidik calon alit senam. Sayang sekali saya tidak
> punya link dan
> artikelnya. Sebagai gambaran, di Cina, anak-anak
> berbakat usia 4 tahun sudah
> dididik untuk atlit senam dengan segala 'siksaan' (
> ala Shaolin ? :-)))).
> Apakah ini manusiawi ?
> 
> 
> Salam,
> Rudi


                
__________________________________________ 
Yahoo! DSL – Something to write home about. 
Just $16.99/mo. or less. 
dsl.yahoo.com 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke