19 Januari

   ‘Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah.’
Demikian dikatakan Sang Guru ketika Beliau sedang
berdiam di Tempat Memberi Makan Tupai di Hutan Bambu
berkenaan dengan peta yang memiliki mulut berbau
busuk.

   Dikatakan bahwa dahulu kala, pada zaman Buddha
Kassapa, dua orang laki-laki muda dari keluarga
baik-baik meninggalkan keduniawian dan masuk ke dalam
ajaran Sang Buddha. Mereka menjalani perilaku yang
bermoral, pengendalian diri yang keras, dan hidup
rukun di suatu desa. Namun pada suatu hari datang
seorang bhikkhu yang senang melakukan
perbuatan-perbuatan jahat dan suka memfitnah. Kedua
Thera ini menyambut dengan ramah dan mempersilakan dia
untuk tinggal. Pada hari berikutnya mereka
bersama-sama pergi ke desa untuk mengumpulkan dana
makanan. Ketika melihat tiga Thera ini, penduduk desa
memperlakukan mereka dengan amat hormat dan melayani
dengan makanan bubur beras dll. Maka ketika kembali ke
vihara, bhikkhu itu berpikir, ‘Desa ini merupakan
sumber makanan yang baik karena penduduknya memiliki
keyakinan yang besar. Dana makanannya pun pilihan.
Vihara ini teduh dan airnya pun baik. Aku bisa tinggal
di sini dengan bahagia. Tetapi selama dua bhikkhu itu
masih disini, vihara ini tidak akan memberikan
kenyamanan karena aku akan hidup seperti murid
tumpangan. Maka, aku harus memecah-belah mereka dan
melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi tinggal di
sini.’

   Oleh karena itu, pada suatu hari setelah Thera yang
senior mengajar dua bhikkhu lainnya, bhikkhu pemfitnah
itu masuk ke tempat tinggalnya sendiri, berdiam di
sana beberapa saat dan kemudian menghampiri bhikkhu
senior itu. Bhikkhu senior itu bertanya, ‘Mengapa
engkau datang pada saat yang tidak tepat, saudaraku?’
‘Ada sesuatu yang harus saya katakan, Yang Mulia,’
(jawabnya). Ketika sang Thera memberi izin (untuk
berbicara) dia mengatakan, ‘Yang Mulia, di depanmu
Thera temanmu itu berlaku seperti teman, tetapi
dibelakangmu dia suka menjelek-jelekkan engkau sebagai
pesaing.’ Ketika ditanya apa (itu yang) dikatakan, dia
menjawab, ‘Dengarkan, Yang Mulia, dia bicara
menjelek-jelekkan engkau. Katanya, “Thera senior ini
licik, suka menipu, dan gadungan. Dia mencari nafkah
dengan cara yang salah.”’ ‘Jangan berbicara demikian,
saudaraku. Bhikkhu itu tidak akan berbohong tentang
saya. Dia sudah mengetahui watakku sejak kami masih
umat awam. Sudah menjadi sifat saya untuk selalu baik
dan ramah.’ ‘Jika engkau berpikir demikian karena
kemurnian hatimu, terserah. Tetapi saya tidak
bermusuhan dengan dia, jadi untuk apa saya berkata
bahwa dia mengatakan hal demikian seandainya dia tidak
mengatakannya? Baiklah. Engkau akan melihat sendiri
setelah beberapa waktu,’ katanya. Karena Thera itu
masih puthujjana, dia goyah, dan mulai menduga-duga,
‘Mungkinkah betul apa yang dikatakan itu?’. Maka rasa
curiga muncul di hatinya, dan kepercayaannya agak
goncang. Setelah mengadu pada Thera senior yang
pertama, dengan cara yang sama si dungu itu pun
membuat agar Thera satunya memiliki rasa permusuhan.
Pada hari berikutnya, kedua Thera tersebut tidak
saling menyapa ketika memakai jubah, mengambil mangkuk
dan pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan.
Ketika membawa kembali dana makanan, mereka
masing-masing makan di tempat kediamannya sendiri,
tanpa beramah-tamah ketika fajar menyingsing,
masing-masing pergi sesukanya tanpa memberitahu yang
lain. Ketika orang-orang melihat si bhikkhu pemfitnah
pergi mengumpulkan dana makanan ke desa yang dapat
memenuhi segala keinginannya, mereka bertanya, ‘Ke
mana para Thera pergi, Yang Mulia?’ ‘Mereka bertengkar
sepanjang malam. Sudah saya nasihatkan agar mereka
hidup rukun, jangan bertengkar. Juga saya beritahukan
bahwa pertengkaran akan membawa kesialan, menimbulkan
kesengsaraan di masa depan dan memicu
perbuatan-perbuatan tak bajik lain; lagi pula sebagian
besar perbuatan bermanfaat yang telah dilakukan akan
hilang lewat pertengkaran – dan sebagainya, tetapi
mereka pergi begitu saja tanpa mengacuhkan kata-kata
saya.’ Mendengar hal ini orang-orang itu memohon,
‘Biarlah para Thera itu pergi sesukanya. Tetapi kami
mohon Yang Mulia tinggal di sini demi belas kasihan
kepada kami --Yang Mulia tidak akan menyesal.’
‘Baiklah,’ dia setuju. Namun setelah tinggal di sana
selama beberapa hari, dia mulai berpikir, ‘Aku telah
membuat bhikkhu-bhikkhu yang luhur dan memiliki watak
yang baik itu saling bermusuhan karena keserakahanku
terhadap tempat tinggal. Jelas aku telah melakukan
perbuatan yang sangat jahat!’ Dibebani suara hati yang
amat tidak enak, dia jatuh sakit karena beban
kesedihan, dan ketika meninggal tidak lama kemudian,
dia pun muncul di Avici.

   Kedua Thera yang lain berkelana di negeri itu, dan
suatu ketika bertemu serta bertegur sapa. Mereka
saling memberitahukan kata-kata bhikkhu pemfitnah yang
menimbulkan perselisihan itu. Ketika menyadari bahwa
tidak ada kebenaran di dalamnya, mereka berbaikan
(lagi) dan akhirnya ke tempat tinggal semula. Ketika
orang-orang melihat kedua Thera itu, mereka sangat
bersuka-cita. Dengan amat bahagia mereka melayani
kedua Thera itu dan memberikan empat kebutuhan pokok.
Para Thera itu pun tinggal di sana. Ditopang dengan
makanan yang cocok, mereka mengembangkan pandangan
terang melalui konsentrasi pikiran. Tak lama kemudian
mereka pun mencapai tingkat Arahat.

   Bhikkhu pemfitnah itu terbakar di neraka selama
satu masa jeda-Buddha dan muncul pada periode Buddha
Gotama tidak jauh dari Rajagaha sebagai peta yang
mulutnya berbau busuk. Tubuhnya berwarna emas tetapi
cacing-cacing keluar dari mulutnya untuk memangsa
wajahnya di sana sini. Dia menyebarkan bau busuk
sampai jauh ke udara. Ketika Y.M. Narada turun dari
Puncak Burung Nasar, beliau melihat peta ini dan
bertanya tentang perbuatan yang telah dilakukannya
lewat syair ini:

   ‘Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah.
Tetapi ketika engkau berdiri di udara, di langit,
cacing-cacing memangsa mulutmu yang berbau busuk.
Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di masa
lalu?’
Ketika ditanya oleh Thera itu tentang perbuatan yang
telah dilakukannya, peta itu mengucapkan syair ini
untuk menjelaskan persoalannya:
        
   ‘Dahulu aku adalah petapa yang jahat, dan mulutku
jelek; (walaupun) menyamar sebagai petapa, aku tidak
terkendali di mulut. Melalui kerasnya usahaku maka aku
menerima warna kulit ini, dan karena fitnahku maka aku
menerima mulut yang berbau busuk ini.’

   Setelah menceritakan perbuatan yang telah
dilakukannya, peta itu kemudian mengucapkan syair
penutup untuk menjelaskan kepada Thera itu:

   ‘Engkau sendiri telah melihat ini, Narada. Mereka
yang memiliki belas kasihan dan terampil akan
mengatakan: “Jangalah memfitnah maupun berbohong –
maka engkau akan menjadi yakkha yang semua
keinginannya terpenuhi’.’

   Setelah mendengar hal ini, Thera itu lalu
melanjutkan perjalanan ke Rajagaha untuk mengumpulkan
dana makanan. Setelah makan dan kembali, beliau
mengemukakan hal ini kepada Sang Guru. Karena
menganggapnya sebagai munculnya suatu kebutuhan, Sang
Buddha kemudian mengajarkan Dhamma. Ajaran itu
bermanfaat bagi mereka yang berkumpul di sana.

(Petavatthu 1; Cerita-cerita makhluk Peta)
(1.3 Penjelasan Mengenai Cerita Peta Bermulut Busuk)
(Putimukhapetavatthuvanannana)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya 
maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman 
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta 
kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami 
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas 
dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas 
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan 
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, 
para guru, serta sahabat-sahabat kami ** 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke