Maaf sekedar ralat: "Karena kalau sekedar tulisan mungkin masih agak susah dihubungi" seharusnya ".... agak susah dipahami."
Metta, Tan --- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Semangat sejati berlindung pada Triratna sesungguhnya adalah > berlindung pada diri sendiri (wawasan tertinggi), jadi jelas sekali > ini tidak dapat disebut sebagai pengkultusan. Meskipun oleh orang > yang masih awam dalam Buddhisme, Buddha dan Bodhisattva dianggap > sebagai sesosok "dewa." Tetapi ini bukanlah semangat ajaran Dharma > yang sejati. Sekali lagi saya ungkapkan bahwa di dalam Sutra Intan > (Vajracchedika Prajnaparamita Sutra) dijelaskan bahwa Buddha tidak > dicari pada wujud dan suara. Nah, jika demikian apakah Anda masih > menganggap bahwa Buddhisme adalah "pengkultusan pribadi"? > Apakah Tirattana adalah bentukan para murid-murid Buddha sendiri? > Kita semua bukan pakar Buddhologi sehingga masih belum layak untuk > menjawab ya ataupun tidak. Namun karena semangat sejati tirattana > tidak bertentangan dengan bagian ajaran Buddhis lainnya, kita tidak > mempermasalahkan hal itu. > Anda mempelajari Dharma sepotong-sepotong, bagaikan meneliti sebuah > bakteri atau spesies baru, oleh karena mudah sekali mengalami > penafsiran yang salah. Jika Anda mempelajari Buddhadharma harus > dilihat secara keseluruhan. Anda harus melihatnya dahulu sebagai > suatu bangunan yang utuh beserta pondasinya. Tidak bisa Anda melihat > pintunya dan lalu berteriak, "Haaa.... Buddhadharma itu ternyata > seperti pintu." Ini jelas tidak benar. Ibarat bangunan Buddhadharma > itu bukanlah pintu, jendela, atap, ataupun lantainya saja. Agar > mendapatkan pemahaman yang utuh lihatlah secara keseluruhan terlebih > dahulu struktur bangunannya, baru melihat detil-detilnya. Jika Anda > telah melihat keseluruhan struktur bangunannya, baru Anda dapat > memaknai pintu, jendela, atap, dan lantai secara benar (dari sudut > pandang keseluruhan struktur bangunannya itu). > Saya sudah berulang kali mengatakan pada posting2 terdahulu. Sikap > kritis itu bagus. Tetapi kalau sikap kritis yang asal-asalan dan ugal- > ugalan ini malah bertentangan dengan sikap kritis yang sejati. > Semangat mengawasi terus menerus "sang pikiran" juga mengandung > bahaya kalau Anda tidak melatih hati yang welas asih. Sekedar sharing > saya memang tidak piawai melatih pengamatan terhadap "sang pikiran" > (meditasi). Dengan jujur saya katakan bahwa di dalam hati sering > mencibir orang-orang tertentu yang gembar-gembor menyuruh orang > lain "mengamati pikiran." Bagi saya yang paling penting adalah > mengembangkan hati welas asih. Meditasi yang tinggi-tinggi jelas bagi > saya masih belum menjadi suatu kebutuhan pokok (nanti mungkin kalau > sudah tua baru saya akan meditasi). Sekedar sharing, latihan > spiritual saya (mungkin nampak "gila" dan menggelikan bagi orang > lain) adalah: membalikkan kumbang yang tertelungkup, memberi makan > kucing liar, sedapat mungkin tidak membunuh nyamuk dan akan saya tiup > saja bila hendak menggigit, membisikkan nama Buddha Ratnasikkhin ke > telinga hewan-hewan atau ikan yang dijual di supermarket, > memvisualisasikan hewan-hewan, ikan, udang, atau kerang yang dijual > di supermarket atau restaurant agar kelak dapat menuju ke Sukhavati, > kalau terpaksa membunuh hewan (misalnya kelabang atau hewan > menjijikkan lainnya) saya akan bervisualisasi agar mereka menuju ke > Sukhavati (saya tidak membunuh karena benci, tetapi karena itu hewan > itu berbisa dan mungkin membahayakan anggota keluarga saya lainnya, > kalau memang itu membuahkan karma buruk akan saya terima dengan > lapang dada), dan lain sebagainya. Masih banyak hal lainnya, tetapi > tidak akan saya sebutkan di sini karena nanti dikira pamer. Saya > sarankan agar Anda mempraktekkan metode "gila" ini terlebih dahulu, > nanti semua pertanyaan Anda akan terjawab dengan sendirinya. Anda > akan tahu sendiri apa itu Buddha, Dharma, dan Sangha yang sejati. > Menjelaskan Buddha, Dharma, dan Sangha secara intelektual nampaknya > tidak akan bermanfaat bagi Anda. Cobalah melatih hal-hal sederhana > seperti menyiram tumbuhan atau bunga, sambil mengatakan, "Wahai > tumbuhan, semoga dengan curahan air ini Anda berbahagia." Mungkin, > orang akan mengira saya gila, karena berkomat-kamit sendiri di depan > tumbuhan atau hewan, tetapi saya tidak peduli. Mungkin saya memang > gila, tetapi apakah jeleknya menjadi gila? Apakah ruginya menjadi > gila kalau hal itu dapat membawa Anda memahami Triratna - bila Anda > benar-benar ingin memahaminya. > > Meditasi mengamati pikiran memang sangat baik, tetapi pengalaman saya > memperlihatkan bahwa di antara 1000 peserta hanya 1 atau 2 saja yang > berhasil, lainnya malah menjadi orang-orang jahat. Meditasi harus > dilandasi oleh pengembangan cinta kasih terlebih dahulu. Mempelajari > Buddhadharma secara intelektual juga sangat bagus, saya juga gemar > mempelajari sesuatu secara intelektual, tetapi Buddhadharma bukanlah > makanan intelektual semata. Ia tidak dapat dikupas dan dianalisa > seperti Anda menganalisa mikroba di bawah mikroskop. Masing-masing > bagiannya saling berhubungan dan tidak ada artinya kalau tidak > dihubungkan dengan keseluruhan bagian lainnya. > > Kalaupun Buddha mengajarkan sesuatu, pasti dapat direduksi kembali > pada ajaran-ajaran "dasar" seperti tillakhana, patticasamutpada, dan > empat kebenaran mulia. > > Saya kira sekian dahulu, kalau ada pertanyaan boleh menghubungi hp > saya di 0816 658902. Karena kalau sekedar tulisan mungkin masih agak > susah dihubungi. > > Semoga Buddhadharma semakin jaya. > > Metta, > > Tan > > > --- In [email protected], Ika Polim <ika_polim@> wrote: > > > > Dearest All, Bro & Sis > > > > Yg Sy Tahu Betul Dari Ajaran / Filosofi Buddhisme Adalah Sangat > Anti "Pengkultusan" Apapun Yg Ada Di Dalam Dunia / Bhumi Ini !! > > > > Di Satu Sisi Berkata / Mengajar Demikian Namun Di Sisi Yg Lain > Umat Harus Berlindung / Mengambil Tindakan Mental - Perlindungan Thp > Buddha, Dharma & Sangha. !! Bukankah Triratna INi Jelas2 Mencerminkan > Pandangan Pro Pengkultusan Thp Sesuatu Yg Disebut "Buddha" Itu ?? > > > > Pertanyaan Berikutnya Adalah Apakah Benar Konsep Triratna Ini Ide > Dari Sang Buddha Shakyamuni Sendiri Atau Hasil Rekayasa Para Murid > SETELAH Sang Buddha Parinirvana ?? > > > > Semoga Terus Semangat "Mengawasi Sang PIKIRAN Sendiri" !!!!!!! > > > > > > --------------------------------- > > Brings words and photos together (easily) with > > PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail. > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
