Bro Tan, Sekuntum teratai untuk anda, seorang calon Buddha.
Menurut aku yang sedang kamu lakukan adalah bagian praktik Dharma Membumi. Praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Itu juga yang sedang kita latih di Program Dharmajala. Hanya saja landasannya adalah menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi saat ini di dalam maupun di luar diri kita. Menurut saya meditasi seperti yang sudah Bro Tan jelaskan itu adalah meditasi yang keliru. Kebijaksanaan yang tidak dilandaskan cinta kasih bukanlah kebijaksanaan, sebaliknya cinta kasih yang tidak dilandasi kebijaksanaan bukanlah cinta kasih. Apa indikator kita maju dalam praktik Dharma? Menurut aku: Kita jadi lebih sabar. Kita jadi lebih rendah hati. Kita jadi lebih perhatian sama orang atau makhluk lain. Kita lebih bisa memaafkan diri sendiri dan orang lain. Kita lebih bisa mengetahui dan mengakui kesalahan kita sendiri. Kita tidak lagi begitu auban. Kita jadi lebih dapat membantu orang lain. Dan masih banyak lagi. Itu aja susahhhhhhhhhhhhhhhnya minta ampunnnnnnnnn. Bahasa rakyatnya kurang lebih kaya gini lha: "Injek bumi aje belom bisa, udah mau injek langit, nyang bener aje loe." Eniwei, Salut Bro. Anumodana JL --- In [email protected], "dh4rm4duta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Namo Buddhaya, > > Semangat sejati berlindung pada Triratna sesungguhnya adalah > berlindung pada diri sendiri (wawasan tertinggi), jadi jelas sekali > ini tidak dapat disebut sebagai pengkultusan. Meskipun oleh orang > yang masih awam dalam Buddhisme, Buddha dan Bodhisattva dianggap > sebagai sesosok "dewa." Tetapi ini bukanlah semangat ajaran Dharma > yang sejati. Sekali lagi saya ungkapkan bahwa di dalam Sutra Intan > (Vajracchedika Prajnaparamita Sutra) dijelaskan bahwa Buddha tidak > dicari pada wujud dan suara. Nah, jika demikian apakah Anda masih > menganggap bahwa Buddhisme adalah "pengkultusan pribadi"? > Apakah Tirattana adalah bentukan para murid-murid Buddha sendiri? > Kita semua bukan pakar Buddhologi sehingga masih belum layak untuk > menjawab ya ataupun tidak. Namun karena semangat sejati tirattana > tidak bertentangan dengan bagian ajaran Buddhis lainnya, kita tidak > mempermasalahkan hal itu. > Anda mempelajari Dharma sepotong-sepotong, bagaikan meneliti sebuah > bakteri atau spesies baru, oleh karena mudah sekali mengalami > penafsiran yang salah. Jika Anda mempelajari Buddhadharma harus > dilihat secara keseluruhan. Anda harus melihatnya dahulu sebagai > suatu bangunan yang utuh beserta pondasinya. Tidak bisa Anda melihat > pintunya dan lalu berteriak, "Haaa.... Buddhadharma itu ternyata > seperti pintu." Ini jelas tidak benar. Ibarat bangunan Buddhadharma > itu bukanlah pintu, jendela, atap, ataupun lantainya saja. Agar > mendapatkan pemahaman yang utuh lihatlah secara keseluruhan terlebih > dahulu struktur bangunannya, baru melihat detil-detilnya. Jika Anda > telah melihat keseluruhan struktur bangunannya, baru Anda dapat > memaknai pintu, jendela, atap, dan lantai secara benar (dari sudut > pandang keseluruhan struktur bangunannya itu). > Saya sudah berulang kali mengatakan pada posting2 terdahulu. Sikap > kritis itu bagus. Tetapi kalau sikap kritis yang asal-asalan dan ugal- > ugalan ini malah bertentangan dengan sikap kritis yang sejati. > Semangat mengawasi terus menerus "sang pikiran" juga mengandung > bahaya kalau Anda tidak melatih hati yang welas asih. Sekedar sharing > saya memang tidak piawai melatih pengamatan terhadap "sang pikiran" > (meditasi). Dengan jujur saya katakan bahwa di dalam hati sering > mencibir orang-orang tertentu yang gembar-gembor menyuruh orang > lain "mengamati pikiran." Bagi saya yang paling penting adalah > mengembangkan hati welas asih. Meditasi yang tinggi-tinggi jelas bagi > saya masih belum menjadi suatu kebutuhan pokok (nanti mungkin kalau > sudah tua baru saya akan meditasi). Sekedar sharing, latihan > spiritual saya (mungkin nampak "gila" dan menggelikan bagi orang > lain) adalah: membalikkan kumbang yang tertelungkup, memberi makan > kucing liar, sedapat mungkin tidak membunuh nyamuk dan akan saya tiup > saja bila hendak menggigit, membisikkan nama Buddha Ratnasikkhin ke > telinga hewan-hewan atau ikan yang dijual di supermarket, > memvisualisasikan hewan-hewan, ikan, udang, atau kerang yang dijual > di supermarket atau restaurant agar kelak dapat menuju ke Sukhavati, > kalau terpaksa membunuh hewan (misalnya kelabang atau hewan > menjijikkan lainnya) saya akan bervisualisasi agar mereka menuju ke > Sukhavati (saya tidak membunuh karena benci, tetapi karena itu hewan > itu berbisa dan mungkin membahayakan anggota keluarga saya lainnya, > kalau memang itu membuahkan karma buruk akan saya terima dengan > lapang dada), dan lain sebagainya. Masih banyak hal lainnya, tetapi > tidak akan saya sebutkan di sini karena nanti dikira pamer. Saya > sarankan agar Anda mempraktekkan metode "gila" ini terlebih dahulu, > nanti semua pertanyaan Anda akan terjawab dengan sendirinya. Anda > akan tahu sendiri apa itu Buddha, Dharma, dan Sangha yang sejati. > Menjelaskan Buddha, Dharma, dan Sangha secara intelektual nampaknya > tidak akan bermanfaat bagi Anda. Cobalah melatih hal-hal sederhana > seperti menyiram tumbuhan atau bunga, sambil mengatakan, "Wahai > tumbuhan, semoga dengan curahan air ini Anda berbahagia." Mungkin, > orang akan mengira saya gila, karena berkomat-kamit sendiri di depan > tumbuhan atau hewan, tetapi saya tidak peduli. Mungkin saya memang > gila, tetapi apakah jeleknya menjadi gila? Apakah ruginya menjadi > gila kalau hal itu dapat membawa Anda memahami Triratna - bila Anda > benar-benar ingin memahaminya. > > Meditasi mengamati pikiran memang sangat baik, tetapi pengalaman saya > memperlihatkan bahwa di antara 1000 peserta hanya 1 atau 2 saja yang > berhasil, lainnya malah menjadi orang-orang jahat. Meditasi harus > dilandasi oleh pengembangan cinta kasih terlebih dahulu. Mempelajari > Buddhadharma secara intelektual juga sangat bagus, saya juga gemar > mempelajari sesuatu secara intelektual, tetapi Buddhadharma bukanlah > makanan intelektual semata. Ia tidak dapat dikupas dan dianalisa > seperti Anda menganalisa mikroba di bawah mikroskop. Masing-masing > bagiannya saling berhubungan dan tidak ada artinya kalau tidak > dihubungkan dengan keseluruhan bagian lainnya. > > Kalaupun Buddha mengajarkan sesuatu, pasti dapat direduksi kembali > pada ajaran-ajaran "dasar" seperti tillakhana, patticasamutpada, dan > empat kebenaran mulia. > > Saya kira sekian dahulu, kalau ada pertanyaan boleh menghubungi hp > saya di 0816 658902. Karena kalau sekedar tulisan mungkin masih agak > susah dihubungi. > > Semoga Buddhadharma semakin jaya. > > Metta, > > Tan > > > --- In [email protected], Ika Polim <ika_polim@> wrote: > > > > Dearest All, Bro & Sis > > > > Yg Sy Tahu Betul Dari Ajaran / Filosofi Buddhisme Adalah Sangat > Anti "Pengkultusan" Apapun Yg Ada Di Dalam Dunia / Bhumi Ini !! > > > > Di Satu Sisi Berkata / Mengajar Demikian Namun Di Sisi Yg Lain > Umat Harus Berlindung / Mengambil Tindakan Mental - Perlindungan Thp > Buddha, Dharma & Sangha. !! Bukankah Triratna INi Jelas2 Mencerminkan > Pandangan Pro Pengkultusan Thp Sesuatu Yg Disebut "Buddha" Itu ?? > > > > Pertanyaan Berikutnya Adalah Apakah Benar Konsep Triratna Ini Ide > Dari Sang Buddha Shakyamuni Sendiri Atau Hasil Rekayasa Para Murid > SETELAH Sang Buddha Parinirvana ?? > > > > Semoga Terus Semangat "Mengawasi Sang PIKIRAN Sendiri" !!!!!!! > > > > > > --------------------------------- > > Brings words and photos together (easily) with > > PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail. > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
