Benda apapun bentuknya adalah objek netral, tetapi kehendak baik atau buruk ditentukan oleh pikiran..., lalu siapa yang menerima akibatnya? yang terima adalah si empunya pikiran...

hanry uttamo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Salam dalam Dhamma,
Mencetak buku Dhamma di kamar hotel saya kira tidak perlu dikaitkan dengan ekspansi keluar . Dulu saat saya sering tugas keluar kota, hotel yg saya kunjungi tidak menyediakan buku Dhamma, sementara Alkitab dan Alquran disediakan.Dengan adanya buku Dhamma tentu merupakan suatu nilai tambah bagi pengunjung hotel yg buddhist. Selama saya nginap di hotel, belum pernah saya ketemu Alkitab atau Alquran yg iseng disobek pengunjung.

BCL T <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mungkin kalau saya protes dikira saya tukang protes atau semacamnya, namun sering saya mendengar kalau umat Buddha dan umat agama lainnya itu terganggu dengan "serangan" agama K , agama ono , itu singkat nya terganggu dengan agresifitas agama lain dalam menyebarkan ajaran agamanya.
Saya lupa apakah ada cerita yang menunjukkan kalau buku Dhamma itu salah ditaruh atau salah dipergunakan ada karmanya atau tidak, mohon dicari.
Nah, kalau ada saja orang dihotel itu yang mengambil buku dhamma itu lalu membuatnya menjadi lap ingusnya, menjadikannya (maaf) lap alat kelaminnya, apa anda bisa bilang karmanya dia yang tanggung? Anda mungkin lupa, bahwa kerja sama anda yang indah itu menjadikan itu bisa terjadi, kalau buku itu tidak muncul di hotel, apa lalu itu terjadi?
Membina umat ke dalam itu rasanya kok masih jauh lebih penting dari pada keluar melakukan ekspansi, dan apakah Sang Buddha sendiri menawar-nawarkan ajarannya kepada semua orang di dunia ini? Coba anda renungkan dan coba hitung, berapa banyak manusia yang tidak menjadi murid Sang Buddha dan apakah Sang Buddha pernah memaksa seseorang baik langsung maupun tidak langsung, halus maupun kasar untuk menjadi murid beliau?
Memang beliau ada menggerakkan orang-orang tertentu untuk menjadi murid Beliau, tapi itu bukan karena tujuan memperbanyak murid, namun lebih karena ybs itu telah tiba saat nya untuk "Bangun". Namun apa lalu anda ingin menjadi Sang Buddha atau sekedar gaya-gayaan saja? Agar dikatakan umat Buddha yang baik?
Maaf loh, saya tidak ingin mencela upaya anda, namun coba bercermin sendiri lah, apa itu upaya yang benar? Kalau ternyata menurut anda iya, ya, terserah andalah. Jangan lalu ketika terjadi konflik eksternal - dengan orang lain, contoh kecil di atas misalnya yaitu anda menemukan kotoran manusia di lembaran Buku dhamma yang anda taruh di hotel itu, lalu anda menhela nafas dan mengatakan bahwa orang itu yang salah. Lucu sekali anda hehehe, mohon dicari lagi deh. Sang Buddha itu apakah sembarangan mengajarkan Dhamma?
Bukankah beliau mengajarkan Dhamma itu hanya pada lahan yang benar, yang tepat??
Mungkin saya salah, eh salah saya salah dan bodoh, bo ceng li pula, wah runyam. Tapi biarlah saya demikian, paling jelek saya masuk neraka Avici, ndak papa, nanti saya sampaikan salam anda ke Devadatta.....
Jakarta timur, senin duapuluh empat april duaribu enam.
bclt
--- In [EMAIL PROTECTED], "Ayung" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih atas pujiannya , memang ini program kerja sama antara Majelis Buddhayana Indonesia, Karaniya, Ehipassiko.
> Semoga mereka yang night disana bisa mendapatkan kesempatan untuk mengetahui ajaran Buddha Dhamma.
> Semoga buku " Jadilah Pelita " ini bisa bermanfaat bagi mereka yang
> membacanya.
> Jika anda berminat anda bisa menghubungi sekretariat kita.
>
> Love
> Erny
>
>
> ----- Original Message -----
> From: <[EMAIL PROTECTED]>
> To: Dhammasabha Milis <[EMAIL PROTECTED]>; Buddha Vacana
> <[EMAIL PROTECTED]>; Mabindo Milis <[email protected]>;
> Mubi Milis <[EMAIL PROTECTED]>; Milis SamaggiPhala
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, April 22, 2006 7:48 AM
> Subject: [samaggiphala] Buku Buddhis di Laci Kamar Hotel
>
>
> > Tadi malam saya sempat spend a night di Hotel Sheraton Surabaya.
> > Ketika saya membuka laci meja hotel, kali ini saya tidak menemukan kitab suci baik Al Qur'an maupun Alkitab, tapi saya menemukan sebuah buku yang cukup bagus terbitan Ehipassiko Foundation.
> >
> > Saya cukup senang dengan keberadaan buku ini walau saya tidak sempat
> > membacanya.
> > Bravo Ehipassiko!
> >
> > Salam,
> > Abin
>
>  [Non-text portions of this message have been removed]
>

How low will we go? Check out Yahoo! MessengerÂ’s low PC-to-Phone call rates.


Yahoo! Messenger with Voice.
Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ countries) for 2¢/min or less.


Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!


** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke