Mencetak buku Dhamma di kamar hotel saya kira tidak perlu dikaitkan
dengan ekspansi keluar . Dulu saat saya sering tugas keluar kota, hotel yg
saya kunjungi tidak menyediakan buku Dhamma, sementara Alkitab dan Alquran
disediakan.Dengan adanya buku Dhamma tentu merupakan suatu nilai tambah
bagi pengunjung hotel yg buddhist. Selama saya nginap di hotel, belum
pernah saya ketemu Alkitab atau Alquran yg iseng disobek pengunjung.
BCL T <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mungkin kalau saya protes dikira saya tukang protes atau
semacamnya, namun sering saya mendengar kalau umat Buddha dan umat agama
lainnya itu terganggu dengan "serangan" agama K , agama ono , itu
singkat nya terganggu dengan agresifitas agama lain dalam menyebarkan
ajaran agamanya.
Saya lupa apakah ada cerita yang menunjukkan kalau buku Dhamma itu
salah ditaruh atau salah dipergunakan ada karmanya atau tidak, mohon
dicari.
Nah, kalau ada saja orang dihotel itu yang mengambil buku dhamma
itu lalu membuatnya menjadi lap ingusnya, menjadikannya (maaf) lap alat
kelaminnya, apa anda bisa bilang karmanya dia yang tanggung? Anda
mungkin lupa, bahwa kerja sama anda yang indah itu menjadikan itu bisa
terjadi, kalau buku itu tidak muncul di hotel, apa lalu itu
terjadi?
Membina umat ke dalam itu rasanya kok masih jauh lebih penting dari
pada keluar melakukan ekspansi, dan apakah Sang Buddha sendiri
menawar-nawarkan ajarannya kepada semua orang di dunia ini? Coba anda
renungkan dan coba hitung, berapa banyak manusia yang tidak menjadi
murid Sang Buddha dan apakah Sang Buddha pernah memaksa seseorang baik
langsung maupun tidak langsung, halus maupun kasar untuk menjadi murid
beliau?
Memang beliau ada menggerakkan orang-orang tertentu untuk menjadi
murid Beliau, tapi itu bukan karena tujuan memperbanyak murid, namun
lebih karena ybs itu telah tiba saat nya untuk "Bangun". Namun apa lalu
anda ingin menjadi Sang Buddha atau sekedar gaya-gayaan saja? Agar
dikatakan umat Buddha yang baik?
Maaf loh, saya tidak ingin mencela upaya anda, namun coba bercermin
sendiri lah, apa itu upaya yang benar? Kalau ternyata menurut anda iya,
ya, terserah andalah. Jangan lalu ketika terjadi konflik eksternal -
dengan orang lain, contoh kecil di atas misalnya yaitu anda menemukan
kotoran manusia di lembaran Buku dhamma yang anda taruh di hotel itu,
lalu anda menhela nafas dan mengatakan bahwa orang itu yang salah. Lucu
sekali anda hehehe, mohon dicari lagi deh. Sang Buddha itu apakah
sembarangan mengajarkan Dhamma?
Bukankah beliau mengajarkan Dhamma
itu hanya pada lahan yang benar, yang tepat??
Mungkin saya salah, eh salah saya salah dan bodoh, bo ceng li pula,
wah runyam. Tapi biarlah saya demikian, paling jelek saya masuk neraka
Avici, ndak papa, nanti saya sampaikan salam anda ke
Devadatta.....
Jakarta timur, senin duapuluh empat april duaribu
enam.
bclt
--- In
[EMAIL PROTECTED],
"Ayung" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Terima kasih atas
pujiannya , memang ini program kerja sama antara Majelis Buddhayana
Indonesia, Karaniya, Ehipassiko.
> Semoga mereka yang night disana
bisa mendapatkan kesempatan untuk mengetahui ajaran Buddha
Dhamma.
> Semoga buku " Jadilah Pelita " ini bisa bermanfaat bagi
mereka yang
> membacanya.
> Jika anda berminat anda bisa
menghubungi sekretariat kita.
>
> Love
> Erny
>
>
> ----- Original Message -----
> From:
<[EMAIL PROTECTED]>
> To: Dhammasabha Milis
<[EMAIL PROTECTED]>; Buddha Vacana
> <
[EMAIL PROTECTED]>;
Mabindo Milis <
[email protected]>;
>
Mubi Milis <
[EMAIL PROTECTED]>; Milis
SamaggiPhala
> <
[EMAIL PROTECTED]>
>
Sent: Saturday, April 22, 2006 7:48 AM
> Subject: [samaggiphala]
Buku Buddhis di Laci Kamar Hotel
>
>
> > Tadi
malam saya sempat spend a night di Hotel Sheraton Surabaya.
> >
Ketika saya membuka laci meja hotel, kali ini saya tidak menemukan kitab
suci baik Al Qur'an maupun Alkitab, tapi saya menemukan sebuah buku yang
cukup bagus terbitan Ehipassiko Foundation.
> >
> >
Saya cukup senang dengan keberadaan buku ini walau saya tidak
sempat
> > membacanya.
> > Bravo Ehipassiko!
>
>
> > Salam,
> > Abin
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]
>