Rekan2x sedhamma,

Sebenarnya saya setuju dengan apa yang diutarakan oleh  Ajahn Brahm.
Kalau kita lihat dalam sila ke 3, "Sexual Misconduct" atau "Pelaksanaan
sex yang tidak sesuai" itu harusnya dilihat dari sudut pandang
universal. Didalam Tipitaka sebenarnya tidak ada daftar 'apa yang
dilarang' yang dikategorikan dalam pelanggaran Sila ke 3. Dalam
pelaksanaannya akan sangat tergantung pada individu, tempat dan waktu
sehingga tidak bisa kita buat 'daftar' hitamnya.
Organ2x tubuh manusia adalah hanya 'benda' yang netral. Yang menyatakan
kegunaan organ2x tubuh itu  adalah manusia itu sendiri sehingga kegunaan
,contohnya, anus atau mulut tentu juga sangat bergantung pada
individunya sendiri. Selama antara pasangan heteroseks atau homoseks
saling setuju dan tidak ada paksaan tentu tidak melanggar sila ke 3.
Dalam lindungan orang tua juga bisa sangat bervariasi. Contohnya
keluarga di amerika, mereka menganggap anaknya yg sudah 17 tahun sebagai
dewasa dan mereka bebas mengambil keputusan sendiri (termasuk seks)
walaupun masih dalam lindungan orang tuanya.

Saya rasa dalam menilai apa yang tidak boleh dilakukan karena melanggar
sila tsb perlu di teliti dengan lebih jauh. Daftar2x yang menyatakan apa
yang melanggar dan tidak boleh sebenarnya itu hanya sesuai pada
individu, waktu dan tempat tertentu, jadi jangan terlalu terpaku dengan
daftar2x itu saja. Bisa saja hal2x yg tidak tercatat di daftar itu tapi
melanggar sila bagi kita.

Semoga semua mahluk berbahagia,
Sumedho Benny

TheHiddenDragon wrote:
> Dear all,
>
> Jika memang begitu komentar Ven. Ajahn Bram, sungguh sayang, karena
> nada-nada 'sinis' dan 'sarcastic'  terbaca oleh saya (menurut
> pemahaman saya lhooo). O.... well, we are all human beings, so do Ven
> Ajahn Bram. entah apa yang dirasakan oleh Ven AB ketika menulis
> artikel itu.
>
> memang tidak ada diskriminasi bagi homo maupun heteroseksual, namun
> pelanggaran ethics (Sila) tetap terjadi pada homoseksual, maupun
> heteroseksual juga terjadi pelanggaran ethics dalam hal hubungan
> seksual. contoh mengunakan alat kelamin pada tempat yg tidak tepat
> (anus atau mulut), pada waktu yg tidak tepat (sang perempuan lagi
> menstruasi atau hamil), atau pada saat sang pria atau wanita lagi
> tidak ingin  [pasangan resmi] (tidak ada unsur paksaan), tidak dalam
> lindungan orang tua, tidak boleh dengan saudara yang masih dlm
> hubungan saudara (7 generasi), berhubungan dengan suami atau istri
> orang lain yg sah, seseorang lagi mengambil delapan sila, atau sumpah
> sehari, berhubungan seksual di sekitar tempat yang ada stupa, rupang
> buddha, atau bahkan guru spiritual berada di sekitar.
>
> jika melanggar aspek2 sila ini, tentu saja baik hetero maupun homo
> telah mengakumulasikan karma buruk, apakah itu lengkap atau tidak lengkap.
>
> konsekuensinya dikembalikan kepada tanggung jawab masing-masing
> personal, sila telah diberikan, jika melanggar, maka sang pelanggaran
> ethics yang akan menerima akibatnya.
>
>
> -------------------------------------------------------------------------------------
>
> From: Surya Wijaya <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: Tue Apr 25, 2006  2:45 pm
> Subject: homoseksuality
>
> sekadar informasi aja, ada 2 kesalahan mendasar dari tulisan di bawah
> 1. Tibetan buddhisme tidak identik dengan vajrayana
> 2. HH Dalai Lama bukanlah pemimpin salah satu sekte Tibetan Buddhisme.
> HH sering dikira pemimpim sekte Gelug. Padahal sekte Gelug dipimpin
> oleh YM 'Ganden Tripa' (yg skrg adalah Ganden Tripa ke 101)
> Ganden Tripa pertama adalah YM Jey Tsongkhapa, founding father-nya Gelug
> 
> saya kutip komentar HH Dalai Lama tentang homoseksual dari website
> http://www.religioustolerance.org/hom_budd.htm
> 
> In his book "Beyond Dogma," he has written that "homosexuality,
> whether it is between men or between women, is not improper in itself.
> What is improper is the use of organs already defined as inappropriate
> for sexual contact." Buddhism prohibits oral, manual and anal sex for
> everyone - both homosexuals and heterosexuals. However, these
> restrictions refer only to members of the Buddhist faith. 4 From
> "society's viewpoint," same-sex relations can be "of mutual benefit,
> enjoyable and harmless." He supports human rights "regardless of
> sexual orientation." At a subsequent meeting with gay and lesbian
> representatives, he expressed the "willingness to consider the
> possibility that some of the teachings may be specific to a particular
> cultural and historic context." Dawa Tsering, spokesperson for the
> Office of Tibet commented: "His Holiness opposes violence and
> discrimination based on sexual orientation. He urges respect,
> tolerance, compassion and the full recognition of human rights for all." 5
> An article in Newsweek states that "Although he has affirmed the
> dignity and rights of gays and lesbians, he has condemned homosexual
> acts as contrary to Buddhist ethics." 8
> ==================
> 
> satu lagi dari
> http://www.quietmountain.org/links/teachings/gayrites.htm
> 
> =============================================
> http://www.bswa.org/modules/news/article.php?storyid=181
>
> Ajahn Brahm today has written to the West Australian newspaper in
> response to an article published last week in which the Dalai Lama was
> quoted as saying that homosexuality was immoral. This article was
> first brought to the attention of Ajahn Brahm - the elected head of
> the Australian Sangha Association - by members of the BSWA's Armadale
> Meditation Group who felt that the Dalai Lama's comments were not in
> line with the Buddhist ethos. In his response Ajahn Brahm explains
> why, as follows....
>
> Dear Sir/Madam,
>
> The Dalai Lama was out of line when he said (according to your article
> in the West, April 15, Page 7) "if you are a Buddhist, homosexuality
> is wrong. Full stop." The Dalai Lama is not the 'Pope' of Buddhism
> and, charming as he often is, he sometimes gets it wrong. He is only
> the head of one of the four main sects of Vajrayana (Tibetan Buddhism)
> and he speaks only for his group.
>
> The greater majority of Buddhists throughout the modern world are
> inspired to learn that the Buddha certainly did not discriminate
> against homosexuality. The core teachings of original Buddhism clearly
> show that it is not whether one is heterosexual, homosexual or
> celibate that is good or bad, but it is how a person uses their sexual
> orientation that makes for good or bad karma. For example a gay man in
> a committed, loving and joyful relationship with a male partner is
> definitely morally superior to a straight married guy who is
> unfaithful to his wife. Homosexuality is not wrong per se. However, it
> is bad karma to condemn homosexuality out of hand!
>
> The Dalai Lama's error is to look for his guidance in dodgy scriptures
> composed many centuries after the time of the Buddha. So the fact is
> that the Buddha, and therefore Buddhism, embraces gays and lesbians
> and transexuals with equity and respect. Too long has religious
> bigotry caused suffering to minority groups in our society. All
> religions should be more loving. Full stop!
>
> Ajahn Brahm
>
> Abbot of Bodhinyana Buddhist Monastery
> Spiritual Director of the Buddhist Society of Western Australia
>
>
> *J u n a i d y  A n w a r*
> Dept. of Information Technology
>
> *PT. Tiara Gaya Arga Kencana*
> /Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer/
> Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, West Java - Indonesia
>
> Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
> *Fax.*: +62 22 665 6555
> *Mobile.*: +62 856 219 8835 / +62 22 911 80 855
>
> "May I become at all times, both now and forever; a protector for
> those without protection; a guide for those who have lost their way; a
> ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to
> cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without
> light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant
> to all in need"---Bodhicharyavatara ~ Shantideva
>
> ------------------------------------------------------------------------
> Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls
> <http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman1/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com>
> to the US (and 30+ countries) for 2ยข/min or less.
>
> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam
> diri saya maupun di luar diri saya **
>
> ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk
> menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi
> pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
>
> ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan
> memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu,
> sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
>
> ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh
> welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun
> sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu
> sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa
> syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
>
>
>
> SPONSORED LINKS
> Religion and spirituality
> <http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Religion+and+spirituality&w1=Religion+and+spirituality&w2=Spirituality&c=2&s=49&.sig=jAosXg34Wf-tqo3v3Hj6PA>
>       Spirituality
> <http://groups.yahoo.com/gads?t=ms&k=Spirituality&w1=Religion+and+spirituality&w2=Spirituality&c=2&s=49&.sig=opz-SAWEaW5D1HYYZ752cg>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
>
>     *  Visit your group "Dharmajala
>       <http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala>" on the web.
>       
>     *  To unsubscribe from this group, send an email to:
>        [EMAIL PROTECTED]
>       <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
>       
>     *  Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
>       Service <http://docs.yahoo.com/info/terms/>.
>
>
> ------------------------------------------------------------------------
>




** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




SPONSORED LINKS
Religion and spirituality Spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke