Title: CGI dan Jebakan Neo-IMF
CGI dan Jebakan Neo-IMF


Rencana pemerintah untuk memperoleh kucuran utang dari Consultative Group on Indonesia akhirnya berhasil. Hasil sidang CGI kedua di Jakarta, 14 Juni lalu, berhasil menyepakati penandatanganan pencairan utang dengan pemerintah Indonesia sebesar US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp. 35 triliun untuk pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2006. Pencairan utang tersebut terdiri atas utang proyek senilai US$ 2,2 miliar dan utang program senilai US$ 1,5 miliar (Koran Tempo, 15 Juni).
Kebijakan pemerintah Indonesia yang kembali �mengundang� pencairan utang dengan CGI dikhawatirkan akan menciptakan wabah neo-IMF. Kekhawatiran ini tentu beralasan, apalagi setelah hengkangnya Dana Moneter Internasional (IMF) dan rencana pelunasan utang tahap pertama oleh pemerintah Indonesia, yang akan menutup hegemoni dan intervensi ekonomi-politik asing di Indonesia.
Kehadiran CGI di Indonesia terus terang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kita. CGI, yang memulai operasinya di Indonesia dua tahun lalu, pascamusibah tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, kini berhasil menapaki kerjasama pencairan utang untuk rekonstruksi dan rehabilitasi musibah gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa tengah. Mulusnya penandatanganan utang antara pemerintah dan CGI menarik untuk dicermati.
Menurut penulis, ada beberapa alasan di balik lancarnya sidang CGI dan pencairan utang itu. Pertama, terjadinya persengkongkolan antara pemerintah dan lembaga keuangan internasional, di mana kepentingan ekonomi kapitalis terus bermain dalam setiap arah kebijakan ekonomi-politik pemerintah. Kedua, kuatnya pengaruh penganjur mazhab ekonomi liberal yang dimotori oleh kelompok Mafia Berkeley, Amerika Serikat, dan para ekonom neoliberal, yang bertujuan melakukan penyingkiran peran negara dari pasar dalam kerangka logika jebakan utang, penghapusan subsidi terhadap rakyat, privatisasi badan usaha milik negara yang strategis, serta liberalisasi ekonomi sector perindustrian perdagangan.
Ketiga, tumpulnya daya kritis DPR untuk mengkritik setiap kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi-politik. Dalam beberapa kebijakan pemerintah yang mempersoalkan kepentingan ekonomi-politik, terlihat betapa tumpulnya daya kritis anggota legislatif. Kandasnya usul hak angket beras, hak angket bahan bakar minyak, hak angket kapal tanker, dan hak angket Blok Cepu dapat dimaknai bahwa ternyata anggota legislatif kita masih menjadi stempel dari setiap kebijakan eksekutif.
Perselingkuhan pemerintah dengan kelompok Mafia Berkeley telah terjadi semenjak republik ini lahir. Para ekonom mazhab liberal hasil didikan Universitas Berkeley tersebut berhasil melakukan transformasi yang radikal dalam sejarah perekonomian Indonesia, yang bergeser dari mahzab ekonomi liberal. Pascareformasi, hasil asuhan kelompok Mafia Barkeley ini mengambil perannya dalam kampanye gerakan ekonomi neo-liberal. Para penganut ekonomi liberal yang digerakkan oleh kaum intelektual ini mencoba menyingkirkan pengaruh negara atas pasar. Sehingga pasar dimonopoli oleh kepentingan kalangan elite pemilik modal (kapitalis) yang bermuara pada takluknya pemerintah dalam hegemoni dan intervensi kapitalis. Ini tentu beralasan. Hegemoni dan intervensi atas negara tersebut diarahkan untuk mengubah peta kebijakan ekonomi politik pemerintah dari perspektif ekonomi kesejahteraan rakyat, menuju �penyejahteraan� kaum kapitalis.
Privatisasi, liberalisasi, dan penghapusan subsidi adalah beberapa tujuan mazhab ekonomi neoliberal. Ini dapat dilihat dalam beberapa kebijakan ekonomi-politik pemerintah dalam beberapa periode ini, misalnya lepasnya Indonesia ke tangan Singapura dalam pemerintahan Megawati Soekarnoputri dan penghapusan subsidi bahan bakar minyak pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Ini menjadi isyarat betapa keterlibatan kaum ekonom leberal sangat begitu mendominasi.
Dulu, Foucault mengemukakan tesisnya tentang perselingkuhan antara intelektual dan penguasa. Tesis Foucault dapat dilihat sebagai kritik pedas atas dunia akademik. Tak ayal, isu perselingkuhan intelektual dan negara begitu mengguncang dunia akademik di seantero peradaban. Pasca-Foucault, tampaknya penelitian mendalam dan komprehensif-yang penulis sebut dengan ironi intelektual-mengalami stagnasi.
Foucault mungkin belum pernah meramalkan ironi intelektual selain apa yang dia ungkap sebagai perselingkuhan antara intelektual dan negara. Sekarang dunia akademik digegerkan oleh betapa kalangan akademisi terjebak dalam perselingkuhan dengan kaum kapitalis (pengusaha). Hasil-hasil kajian akademik sengaja dilakukan kalangan akademis untuk mendukung gagasan mazhab ekonomi liberal. Penulis masih ingat, ketika pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak, beberapa kalangan bahkan melakukan pembenaran atas tindakan tersebut.
Jebakan utang yang melumpuhkan perekonomian Indonesia hendaknya menjadi renungan bagi pemerintah. Utang menjadikan Indonesia tersungkur dalam limangan kenistaan. Akibat utang, Indonesia menjadi ladang yang subur bagi pihak asing untuk menguras habis hasil sumber daya alam Indonesia. Hasil eksplorasi emas PT Freeport di Tembagapura hampir semuanya dinikmati asing. Rakyat Indonesia hanya menikmati 9 persen dari hasil emas di Tembagapura. Belum lagi eksplorasi gas alam di Blok Cepu. Menyedihkan sekali ketika kita harus menyaksikan rakyat Indonesia menjadi budak belian di negerinya sendiri.*
Arya Fernandes, MAHASISWA PEMIKIRAN POLITIK FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA
Koran tempo, 24 Juni 2006


J u n a i d i
Dept. of Information Technology

PT. Tiara Gaya Arga Kencana
Paint, Road Marking, Epoxy Manufacturer
Jl. Cimareme No. 185 A Padalarang, Bandung, West Java - Indonesia

Phone.: +62 22 665 1515 [ hunting ]
Fax.: +62 22 665 6555
Mobile.: +62 856 219 8835 / +62 22 911 808 55

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"---Bodhicharyavatara~ Shantideva


Talk is cheap. Use Yahoo! Messenger to make PC-to-Phone calls. Great rates starting at 1�/min. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





SPONSORED LINKS
Beyond belief Religion and spirituality Woman and spirituality


YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke