Hari Ini untuk Hari Esok Jakarta
Yayat Supriatna
Tidak terbayangkan saat Bang Ali merintis Jakarta menuju Metropolis akan seperti ini wajah Jakarta. Dan juga tidak terbayangkan akan seperti apa wajah Jakarta saat Bang Yos merintisnya menuju Megapolitan. Akankah kota ini akan semakin lebih baik atau
sebaliknya?
Masa depan Jakarta seperti menjadi tanda tanya besar, apa yang terjadi dengan sebuah ibu kota negara dengan kondisi wilayah yang semakin padat dan sangat sensitif dengan beragam permasalahan yang semakin kompleks. Mungkinkah di masa depan setelah Megapolitan Jakarta dan sekitarnya terbentuk kota ini akan berkembang menjadi sebuah kota Nekropolis, yaitu sebuah kota yang sudah tidak lagi bisa diatasi pengelolaannya dan mengalami tanda-tanda kematian.
Di usianya yang telah mencapai 479 tahun, sepuluh juta warganya telah mengubah Jakarta menjadi suatu septick tank raksasa. Kondisi ini disebabkan buruknya sistem infrastruktur kota dan ditambah dengan minimnya layanan pengolahan air limbah yang memadai.
Dampak dari kejadian itu telah menyebabkan 80 persen air
tanah Jakarta telah tercemar oleh bakteri E coli. Limbah manusia di masa depan akan menjadi ancaman lingkungan dan kesehatan untuk hari esok Jakarta di sektor kebutuhan primer. Tidak terbayangkan pada tahun 2020 dengan jumlah proyeksi penduduk mencapai 19,7 juta, ke mana limbah padat dan cair manusia itu akan dibuang?
Selain di bawah permukaan tanah, kompleksitas di atas permukaan tanah kondisinya cenderung lebih parah. Obesitas kapital telah mendorong eksploitasi ruang secara berlebihan. Ruang hijau kritis, sumber daya air terbatas, sampah semakin sulit terolah, permukiman padat semakin bertambah, dan membuat kota ini menjadi kawasan rawan bencana.
Walaupun rawan terhadap minimnya sumber daya lingkungan yang memadai, daya tarik kota tidak pernah kurang untuk terus dipermak bahkan dipoles tiada henti. Pemolesan telah mendorong pola
mobilitas penduduk terus bergerak dari wilayah pinggiran menuju pusat kota. Kotadesasi telah mengubah struktur sosial dan ruang kehidupan pinggiran dari lanskap alami menjadi binaan dalam bentuk pertumbuhan permukiman baru yang terbangun tanpa perencanaan yang matang.
Jakarta dan wilayah sekitarnya telah menciptakan kota-kota asrama. Jika pertumbuhan kota-kota baru berkembang tanpa terkendali, tidak tertutup kemungkinan suatu saat krisis energi atau listrik akan terjadi, disebabkan meluasnya wilayah perkotaan yang menggusur kawasan pedesaan di sekitarnya.
Tanpa ada adanya redistribusi fungsi di masa depan, beban Jakarta akan semakin bertumpuk, dan kemacetan akan melumpuhkan pola pergerakan manusia, barang, serta jasa di pagi dan malam hari.
Solusi pemecahan dengan
menambah pembangunan jalan tol lingkar luar dengan dua, tiga, atau bahkan empat serta enam ruas tol dalam kota mungkin bukan solusi yang paling tepat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
Jalan tol cenderung mengutamakan kendaraan pribadi sehingga akan mendorong meningkatkan konsumsi pemakaian bahan bakar dan menambah polusi udara kota. Hasil kajian BPLHD menyatakan hari sehat di Jakarta hanya 25 hari dalam setahun. Jika dibandingkan dengan upaya pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dengan strategi peningkatan layanan umum, terlihat masih jauh dari yang diharapkan.
Pesimiskah kita menghadapi masa depan Jakarta? Dapatkah Jakarta dicegah untuk tidak menjadi kota bencana atau Nekropolis serta dapat dikembangkan dengan konsep pembangunan kota yang berkelanjutan? Terdapat persyaratan yang harus dipersiapkan Jakarta untuk mampu melayani
kebutuhan warganya serta mengendalikan pertumbuhannya di masa depan, yaitu dengan terpeliharanya "Total Natural Capital Stock" pada tingkat yang sama atau lebih tinggi dibandingkan dengan keadaan sekarang.
Upaya ini antara lain dengan menjaga ketersediaan sumber daya air/lahan, pengendalian jumlah penduduk, mengurangi tingkat kesenjangan sosial tinggi, membuka ruang partisipasi publik secara lebih adil, dan adanya kebijakan yang berpihak pada kelompok yang lemah, baik secara sosial dan ekonomi.
Semua cita-cita di atas hanya dapat diwujudkan melalui adanya budaya urban dalam bentuk rasa kepedulian terhadap kota dan kehidupan bersama. Kepedulian hanya muncul dengan adanya kesadaran kolektif, bahwa eksistensi kota dapat terbangun melalui solidaritas bersama, dengan semboyan hidup di Jakarta kita tidak hanya sekadar mengambil untung dan
kemudian tidak peduli dengan kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitarnya.
Yayat Supriatna
Staf Pengajar Jurusan Teknik Planologi, Universitas Trisakti
Staf Pengajar Jurusan Teknik Planologi, Universitas Trisakti
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
SPONSORED LINKS
| Religion and spirituality | Beyond belief | Woman and spirituality |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "Dharmajala" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
